Java Script
Saturday, July 27, 2013
Monday, April 29, 2013
Mengapa Saya Harus Menulis?
Sabtu, 10 Maret 2012
MENGAPA SAYA HARUS MENULIS?
Ada banyak alasan mengapa saya pribadi harus menulis. Antara lain:
1. Terinspirasi dari dua kata bijak, yaitu : “Jika kau menyadari hidup ini singkat, maka perpanjanglah dengan menulis”. Kemudian “Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian.” (Putu Wijaya)
Anda kenal Aristoteles? Plato? Ibu Shina? Al ghazali? Kartini?
Umur biologis mereka hanya mentok sampai mereka meninggal. Tapi lihatlah, sampai saat ini kita masih mengenal mereka karena karya yang pernah mereka buat. Ini bukti bahwa umur karya dapat melebihi umur biologis.
2. Sebagai rekam jejak hal-hal yang pernah terjadi
Kita tidak bisa mengingat semua peristiwa yang pernah dilihat, didengar, dan dialami. Menulis adalah salah satu cara untuk menyimpul kenangan itu, sehingga suatu hari kita dapat bernostalgia ketika membaca kembali apa yang pernah kita tulis.
3. Ruang berbagi rasa
Tipikal orang yang sulit untuk menuangkan perasaannya dengan lisan, dapat menjadikan tulisan sebagai media untuk menyampaikan kegembiraan, kekecewaan, dan kemarahan dirinya, agar orang lain mengerti apa yang ia rasakan. Selain itu tulisan dapat pula dijadikan media untuk mengkritik dan memberi saran terhadap orang lain.
4. Wadah untuk berprestasi
5. Menambah teman / dikenal orang
6. Media dakwah
7. Ladang penghasilan
Bagaimana dengan anda?
CPCP (Cui, Perdalam tentang Cerita Pendek) YUK!!!
Apa itu cerita pendek?
Cerita Pendek adalah cerita yang pendek tetapi menyelesaikan semua persoalan secara tuntas dan utuh, sesuai dengan tema yang disuguhkan oleh pengarang. Ada juga yang mengatakan Cerita Pendek adalah cerita yang habis dibaca sekali duduk. Secara umum cerita pendek (cerpen) ditulis minimal 750-10.000 kata. Cerpen yang di tulis berkisar 750 kata disebut cerita mini/flash, 2.000-5.000 kata cerpen yang sesungguhnya (ideal), dan cerpen yang ditulis 10.000 digolongkan cerita panjang, yang dapat di kembangkan menjadi novelette (novel pendek).
Cerpen memiliki unsur antara lain: alur (plot), sudut pandang, tokoh/pelaku, dialog, setting, konflik dan mood (suasana hati/atmosfir).
TIPS MUDAH MENULIS CERPEN
1. Tulislah apa yang kamu rasa, jangan pikir apa yang kamu rasa. (Pay JS)
Ketika ide cerita telah didapat, buatlah garis besar dari cerita yang akan dibuat. Ini membantu kita agar tulisan tidak lari dari tema awal. Tapi jika kita sudah mulai terbiasa, biarkan ide terus mengalir. Hal fatal yang sering kita lakukan adalah mengedit tulisan disaat itu juga (saat menulis). Jangan lakukan itu! Terus saja menulis. Ada saatnya nanti, ketika cerpen telah selesai. Jika sudah, silahkan coret kata-kata yang tidak sesuai dan tambahkan kata yang menurut anda perlu.
2. Cerpen yang baik harus dimulai dengan kata pembuka (prolog) yang menarik. Buat penggambaran cerita yang dapat membuat pembaca penasaran untuk membaca cerpen anda lebih jauh. Kemudian isi klimaks / puncak masalah, dan anti klimaks/ penutup.
3. Tips membuat judul.
Pemilihan judul yang tepat akan berpengaruh pada minat pembaca pada tulisan kita. Jangan buat judul yang panjang-panjang, karena akan terkesan bertele-tele. Panjang judul yang ideal adalah 1-5 kata.
4. Kreatiflah dalam menggambarkan isi cerita.
Bandingkan!
Ratna takut dimarahi orang tuanya jika ia menyampaikan hal ini. Ia ingin sekali, tapi ia tidak berani. Lalu Ratna duduk di dekat orang tuanya, tapi ia hanya bisa diam.
Bismillah…
Perlahan tapi pasti. Ia tetap melangkah meski hatinya bak genderang perang. Semua berkumpul di ruang tamu. Ratna segera menghampiri dan duduk di dekat kedua orang tuanya. Walaupun ia tak yakin dengan hal ini, mundur atau terus maju, hatinya bergejolak. Lama ia diam, hinga ayah yang mulai angkat bicara.
5. Mencoba
SAYA PERNAH ALAMI INI. MUNGKIN KAMU JUGA.
1. Ide mentok
Banyak-banyaklah membaca. Tidak hanya membaca buku, tapi juga membaca keadaan sekitar. Ketika mendapat ide saat melihat atau merasakan sesuatu, cepat tuliskan itu dalam buku harian/catatan kecil. Jangan biarkan ide itu hilang. Suatu saat ide tersebut, insya Allah akan berguna.
2. Sulit memulai
Buat perasaan hati anda sesuai dengan apa yang ingin anda tulis. Tempat menulis yang nyaman akan membantu anda untuk mendalami isi cerita. Contoh, jika anda ingin menulis tentang sungai kapuas, anda bisa memajang gambar sungai kapuas beserta kehidupan masyarakat di sana di depan tempat anda menulis. Bawa perasaan anda kedalamnya, seakan-akan anda menulis ditempat itu.
3. Kehilangan arah
Itulah pentingnya garis besar cerita.
4. Malas mencari data
Cerpen tidak akan bagus, jika isinya ngalur ngidul. Seimbangkan antara imajinasi dan data, maka insya Allah cerpen kita akan bagus.
5. Sulit membangun konflik dan ketegangan
Masalah lebih dominan terjadi pada si tokoh. Maka hadapkanlah tokoh pada satu atau dua masalah yang harus ia selesaikan. Ingat! Jangan terlalu banyak masalah, karena ruang cerpen tidak seperti novel, padat dan ketat.
6. Tidak bisa mengakhiri tulisan
Penentuan tokoh dan plot yang jelas, tentu akan membuat anda tahu kapan harus mengakhiri.
Selamat mencoba, dan jangan terlalu percaya menulis adalah bakat.
Helda (Mahadaya Senja). Hp. 087818158727, Fb : Mahadaya Senja, Blog : author-mahadayasenja.blogspot.com
Monday, September 10, 2012
Babak
Sunday, July 1, 2012
Belajar Arti Hari Kelulusan
Monday, April 30, 2012
BUKAN MENERTAWAKAN, TAPI TERTAWA BERSAMA
Suatu hari ketika saya dan teman-teman sedang diskusi, salah seorang diantara kami berdiri dan mengemukakan pendapat. Namun ditengah ia berbicara, semua tertawa terbahak-bahak. Pasalnya apa yang ia jelaskan bisa dibilang melenceng atau tidak nyambung dengan penjelasannya diawal pembicaraan. Kelas saya waktu itu benar-benar riuh. Sebagian dari teman sekelas menertawakannya. Bahkan ada teman disebelah tempat duduk saya yang sangat besar tertawanya. Ia tertawa terpingkal-pingkal tidak berhenti. Sayapun melihat dosen saya itu yang ikut tertawa, meski haya tertawa kecil.
Lalu ditengah keriuhan itu, dosen itu memberikan isyarat untuk bicara. Lalu kami mencoba untuk “mengerem” tertawa kami. Ibu dosen itu lalu berbicara : “Oke, kalian mesti tau ya. Sekarang kita tertawa bersama si A, bukan menertawakan dia.” Setelah dosen itu berhenti menyelesaikan ucapannya, satu-satu dari kami mulai berhenti untuk tertawa dan mulai menguasai diri lagi. Si A yang menjadi central pembicaraan hanya tersipu malu. Dosen itu paham apa yang dirasakan mahasiswa. Maklum, dosen ini adalah psikolog.
Dari pernyataan ibu tadi, kita bisa ambil pelajaran didalamnya. Saat kita menertawakan kesalahan orang lain, ingatlah bahwa kita bukan menertawakan kesalahannya. Bila hal itu sudah bisa kita pahami, maka kita dapat mengontrol tertawa kita. “Bagaimana jika kita di posisi orang yang ditertawakan ?” pasti sakit. Jadi wajar jika dosen saya tadi menasehati demikian. Semoga di kemudian hari tertawa kita bukan lagi untuk menjatuhkan, tapi untuk sama-sama belajar, belajar berani dan menghargai.
Pontianak, 1 Mei 2012
MC
Saturday, March 17, 2012
Monday, February 13, 2012
CAPER (CERITA PERJALANAN) BUYA HAMKA SENAM PRAMUKA ANTAR PENGGALANG MTs/SMP SE-PONTIANAK
Minggu, 12 Februari 2012, dengan bangga Pramuka Buya Hamka mengutus dua tim putra-putrinya untuk mengikuti Lomba Senam Pramuka tingkat Penggalang SMP/MTS se-Pontianak. Kegiatan ini di selenggarakan oleh Gerakan Pramuka SMA Mujahidin.
Pukul setengah tujuh pagi, kedua tim sudah melakukan perjalanan menuju arena lomba dengan mobil kebangsaan Buya Hamka “mobil buaya”. (Biarpun buaya, tapi sudah banyak para pemenang Buya Hamka dan piala yang diangkut dengan mobil ini lo. He-he. )
Kembali ke lomba senam.
Tim yang pertama yaitu tim B mendapat undian pertama. Sedangkan tim A mendapat giliran ke 12. Siapa yang tidak tegang jika sedang berlomba ? Begitu juga adik-adik yang berlomba kali ini. Sejak latihan ada dua hal yang pembina dan para asisten selalu ingatkan, power dan senyum. Masalah power tidak jadi masalah, tapi satu hal lainnya yang amat sangat sulit di laksanakan oleh adik-adik yang akan berlomba. Baik anggota tim A maupun B sama-sama punya masalah dengan yang namanya senyum ketika senam. Agar adik-adik terangsang untuk mau senyum, para asisten berinisiatif menempel selembar kertas yang bertuliskan kata “SENYUM ^_^” di depan adik-adik yang sedang latihan. Aneh ya? Padahal jika dalam keadaan normal, senyum adalah hal yang mudah. Tapi dalam keadaan lomba, melemparkan senyum adalah hal yang sangat sulit, sehingga harus orang lain yang mengingatkan untuk senyum. Bisa anda bayangkan, jika latihan saja untuk tersenyum susah, apalagi ketika dalam keadaan lomba, di tengah lapangan, fokus pada setiap gerakan dengan power yang maksimal, dan senyum yang tak boleh ketinggalan. Dari sebelum tampil, mereka selalu mendapat wangti “senyum dek, senyumnya jangan lupa.” Kemudian satu orang berkata lagi “senyumnya jangan lupa.”
Alhasil, ketika tampil mereka semua bisa senyum. Meski masih ada dua tiga kali suporter yang teriak “senyum.....!!!!!”. yah, cukuplah mesem-mesem. Walau ada yang senyumya terlihat sangat memaksa. Haduh, susah ya.
Kenapa sih harus senyum? Senyum – senyum sendiri bahaya lo!
Kenapa, kenapa harus senyum? Jawabannya simple, karena senam itu adalah kegiatan yang tergolong untuk have fun. Jadi kontras dong jikalau ekspresi ketika senam manyun atau sangar. Selain itu power juga adalah hal utama, senam kok loyo? Bukankah tujuan senam itu untuk membuat badan jadi bugar? So, mesti semangat, senyum, dan bertenaga!
DIMANAPUN,KAPANPUN, TETAP REMI.
Kalimat di atas cocok sekali buat pembina dan asistennya yang tak bosannya mengisi waktu luang dengan bermain kartu remi. Ya, biarkan sajalah. Kepala sudah penat mencari dana dan mempersiapkan segala sesuatunya, kini saatnya memanjakan diri dengan bermain remi. Lanjut bang!
ALHAMDULILLAH YA, JUARA
Jam menunjukkan jam empat lewat. Saatnya pengumuman. Dalam kegiatan kali ini, akan diambil 6 pemenang. Dari harapan 3 sampai juara 1. Syukur, Buya Hamka membawa dua tim dan dua-duannya menyabet juara, tim B juara 2 dan tim A juara 1. Horee!!!! Sudah dapat piala, dapat uang pembinaan pula. Makan2!he.
Sebelum kembali ke MTs, ritual harus dilakukan dulu. “Hadap serong kiri, grak!” jika sudah, mari turun untuk push Up. Peserta, pembina, suporter semua ikut naik turun sambil menghitung. Beginilah Buya Hamka. Filosofi bangun sama tinggi, turun sama rata , sakit sama rasa baik pembina maupun peserta ketika push up mengajarkan kita bahwa dibalik kemenangan ini ada kesulitan lain yang akan kita hadapi. Kemudian menumbuhkan rasa tidak cepat puas atas apa yang di raih. Karena perjuangan kita masih panjang.
KITA TIDAK PERNAH MENANG
Setelah sampai di MTs, adik-adik dibariskan di depan camp pramuka. lalu di berikan sedikit wejangan sebelum pulang. Dari beberapa yang menyampaikan nasehat dan informasi, penulis khususnya tertarik dengan pernyataan bang Jack, salah satu pembina sekaligus orang tua dari salah seorang pemenang. “Ketika kita berlomba, berpikirlah kita tidak pernah menang.” Kurang lebih begitu yang di sampaikannya. Singkat, namun memotivasi dan membekas. Ketika kita menempatkan diri sebagai orang yang tidak pernah menang, diri ini akan terus maksimal dalam berbuat tanpa pernah membanggakan segala sesuatu yang telah diraih di masa sebelumnya.
MENCRET (MENDEKKAN CERITE)
Selamat kepada adik-adik yang telah mengharumkan nama Buya Hamka dan MTs 2. Terus ukir prestasi. Gambate!
Pukul setengah tujuh pagi, kedua tim sudah melakukan perjalanan menuju arena lomba dengan mobil kebangsaan Buya Hamka “mobil buaya”. (Biarpun buaya, tapi sudah banyak para pemenang Buya Hamka dan piala yang diangkut dengan mobil ini lo. He-he. )
Kembali ke lomba senam.
Tim yang pertama yaitu tim B mendapat undian pertama. Sedangkan tim A mendapat giliran ke 12. Siapa yang tidak tegang jika sedang berlomba ? Begitu juga adik-adik yang berlomba kali ini. Sejak latihan ada dua hal yang pembina dan para asisten selalu ingatkan, power dan senyum. Masalah power tidak jadi masalah, tapi satu hal lainnya yang amat sangat sulit di laksanakan oleh adik-adik yang akan berlomba. Baik anggota tim A maupun B sama-sama punya masalah dengan yang namanya senyum ketika senam. Agar adik-adik terangsang untuk mau senyum, para asisten berinisiatif menempel selembar kertas yang bertuliskan kata “SENYUM ^_^” di depan adik-adik yang sedang latihan. Aneh ya? Padahal jika dalam keadaan normal, senyum adalah hal yang mudah. Tapi dalam keadaan lomba, melemparkan senyum adalah hal yang sangat sulit, sehingga harus orang lain yang mengingatkan untuk senyum. Bisa anda bayangkan, jika latihan saja untuk tersenyum susah, apalagi ketika dalam keadaan lomba, di tengah lapangan, fokus pada setiap gerakan dengan power yang maksimal, dan senyum yang tak boleh ketinggalan. Dari sebelum tampil, mereka selalu mendapat wangti “senyum dek, senyumnya jangan lupa.” Kemudian satu orang berkata lagi “senyumnya jangan lupa.”
Alhasil, ketika tampil mereka semua bisa senyum. Meski masih ada dua tiga kali suporter yang teriak “senyum.....!!!!!”. yah, cukuplah mesem-mesem. Walau ada yang senyumya terlihat sangat memaksa. Haduh, susah ya.
Kenapa sih harus senyum? Senyum – senyum sendiri bahaya lo!
Kenapa, kenapa harus senyum? Jawabannya simple, karena senam itu adalah kegiatan yang tergolong untuk have fun. Jadi kontras dong jikalau ekspresi ketika senam manyun atau sangar. Selain itu power juga adalah hal utama, senam kok loyo? Bukankah tujuan senam itu untuk membuat badan jadi bugar? So, mesti semangat, senyum, dan bertenaga!
DIMANAPUN,KAPANPUN, TETAP REMI.
Kalimat di atas cocok sekali buat pembina dan asistennya yang tak bosannya mengisi waktu luang dengan bermain kartu remi. Ya, biarkan sajalah. Kepala sudah penat mencari dana dan mempersiapkan segala sesuatunya, kini saatnya memanjakan diri dengan bermain remi. Lanjut bang!
ALHAMDULILLAH YA, JUARA
Jam menunjukkan jam empat lewat. Saatnya pengumuman. Dalam kegiatan kali ini, akan diambil 6 pemenang. Dari harapan 3 sampai juara 1. Syukur, Buya Hamka membawa dua tim dan dua-duannya menyabet juara, tim B juara 2 dan tim A juara 1. Horee!!!! Sudah dapat piala, dapat uang pembinaan pula. Makan2!he.
Sebelum kembali ke MTs, ritual harus dilakukan dulu. “Hadap serong kiri, grak!” jika sudah, mari turun untuk push Up. Peserta, pembina, suporter semua ikut naik turun sambil menghitung. Beginilah Buya Hamka. Filosofi bangun sama tinggi, turun sama rata , sakit sama rasa baik pembina maupun peserta ketika push up mengajarkan kita bahwa dibalik kemenangan ini ada kesulitan lain yang akan kita hadapi. Kemudian menumbuhkan rasa tidak cepat puas atas apa yang di raih. Karena perjuangan kita masih panjang.
KITA TIDAK PERNAH MENANG
Setelah sampai di MTs, adik-adik dibariskan di depan camp pramuka. lalu di berikan sedikit wejangan sebelum pulang. Dari beberapa yang menyampaikan nasehat dan informasi, penulis khususnya tertarik dengan pernyataan bang Jack, salah satu pembina sekaligus orang tua dari salah seorang pemenang. “Ketika kita berlomba, berpikirlah kita tidak pernah menang.” Kurang lebih begitu yang di sampaikannya. Singkat, namun memotivasi dan membekas. Ketika kita menempatkan diri sebagai orang yang tidak pernah menang, diri ini akan terus maksimal dalam berbuat tanpa pernah membanggakan segala sesuatu yang telah diraih di masa sebelumnya.
MENCRET (MENDEKKAN CERITE)
Selamat kepada adik-adik yang telah mengharumkan nama Buya Hamka dan MTs 2. Terus ukir prestasi. Gambate!
Saturday, January 21, 2012
Dari Senja untuk Cinta
Biarlah mengalir,
Sebagai obat untuk sembuhkan luka yang perih dan meranggas lara
Nikmati,
Berbuat baiklah,
Jika nanti cinta memudar
Tak usah segera bersenandung lirih
Buat apa takut?
Cinta bukan milikmu,
Bukan milik kita
Aku hanya senja
Tersenyum bila cinta bahagia
Selamat memejamkan mata duhai kasih
Senang pernah berikankan yang aku mampu untukmu
Maret 2009
Sebagai obat untuk sembuhkan luka yang perih dan meranggas lara
Nikmati,
Berbuat baiklah,
Jika nanti cinta memudar
Tak usah segera bersenandung lirih
Buat apa takut?
Cinta bukan milikmu,
Bukan milik kita
Aku hanya senja
Tersenyum bila cinta bahagia
Selamat memejamkan mata duhai kasih
Senang pernah berikankan yang aku mampu untukmu
Maret 2009
Aku dan Perapian
Jika suatu saat kegelapan akan datang
Kenapa aku sering lupa menyalakan perapian?
Jarang meminta agar nyalanya untuk tetap menemani keheningan
Bila kehimpitan itu merobek kekalutan
Kenapa aku terkadang malas menyiapkan jawaban?
Malah sibuk pada gemerlap dunia
Gusti,
Aku takut terkecup malam
Aku belum siap
Walau aku mendamai pada nisan dan kafan
Mereka akan tetap menemani
Izrail tetap menghampiri
Meski tanpa hawa panas dari perapian
Maret 2009
Kenapa aku sering lupa menyalakan perapian?
Jarang meminta agar nyalanya untuk tetap menemani keheningan
Bila kehimpitan itu merobek kekalutan
Kenapa aku terkadang malas menyiapkan jawaban?
Malah sibuk pada gemerlap dunia
Gusti,
Aku takut terkecup malam
Aku belum siap
Walau aku mendamai pada nisan dan kafan
Mereka akan tetap menemani
Izrail tetap menghampiri
Meski tanpa hawa panas dari perapian
Maret 2009
Ini yang Kupunya
Aku bukan hartawan
Aku juga bukan juragan
Aku hanya penulis mushaf rasa
Tak punya apa-apa
Tak miliki intan,emas,zamrud,ataupun berlian
Tak miliki hektaran tanah,mobil, atau rumah mewah
Tak punya apa-apa
Selain kenangan dan harapan
27 April 2009
Aku juga bukan juragan
Aku hanya penulis mushaf rasa
Tak punya apa-apa
Tak miliki intan,emas,zamrud,ataupun berlian
Tak miliki hektaran tanah,mobil, atau rumah mewah
Tak punya apa-apa
Selain kenangan dan harapan
27 April 2009
Penghantar tidur
Tidurlah sayang,
Tidurlah dalam balutan malam
Dengan bintang-bintang sebagai pengisah
Menuju ambang kapuk randu
Mendengkurlah,
Kalahkan nyanyian jangkrik serta lolongan sunyi
Runtuhkan mimpimu hari ini
Karena esok kita akan membangun mimpi baru
April 2008
Tidurlah dalam balutan malam
Dengan bintang-bintang sebagai pengisah
Menuju ambang kapuk randu
Mendengkurlah,
Kalahkan nyanyian jangkrik serta lolongan sunyi
Runtuhkan mimpimu hari ini
Karena esok kita akan membangun mimpi baru
April 2008
Untuk wanitaku
(Tika,dimana dirimu kini?)
Malam yang ganas
Sudah sejak dulu malam adalah belati yang mematikan
Gemerlap malam yang merasuk tak terasa kehadirannya
Membuat hanyut
Hingga dia mengikuti arus dan berujung di tepi hulu
Gadis itu,
Anugrah bagi kedua orang orang tuanya
Kini berlumur lumpur hitam dan berbau amis
Yang baru saja di cumbu rayuan gombal dunia hipokrit
Gadis itu,
Menghabiskan malam dengan mendekap kepingan luka
Mengutuk diri
Layaknya anai-anai yang lemah
Lelaki membuatnya kotor
Menitipkan benih dan setelah itu pergi
Terkutuk,
Tak punya otak.
Tak cukup aku mencerca
Belang muka tak bisa sirna
7 April 2008
Malam yang ganas
Sudah sejak dulu malam adalah belati yang mematikan
Gemerlap malam yang merasuk tak terasa kehadirannya
Membuat hanyut
Hingga dia mengikuti arus dan berujung di tepi hulu
Gadis itu,
Anugrah bagi kedua orang orang tuanya
Kini berlumur lumpur hitam dan berbau amis
Yang baru saja di cumbu rayuan gombal dunia hipokrit
Gadis itu,
Menghabiskan malam dengan mendekap kepingan luka
Mengutuk diri
Layaknya anai-anai yang lemah
Lelaki membuatnya kotor
Menitipkan benih dan setelah itu pergi
Terkutuk,
Tak punya otak.
Tak cukup aku mencerca
Belang muka tak bisa sirna
7 April 2008
Janji
(Puisi pesanan Nahari)
Aku tahu tak mudah menyelaraskan langkah kita untuk berjalan beriringan
Sulit,menyatukan dua hati dalam satu bejana persamaan
Terkadang kau ingin riuh, namun kau ingin senyap
Aku ingin berlari, kau cukup dengan berjalan
Cinta,
Tak mudah memahami hingga ke dasar hati
Tapi aku ingin berbagi makna pengorbanan lebih lama lagi
Cinta,
Jika aku berharga
Tetaplah di sini
Beri aku ketenangan
Maka aku akan belajar memahamimu
2 September 2009
Aku tahu tak mudah menyelaraskan langkah kita untuk berjalan beriringan
Sulit,menyatukan dua hati dalam satu bejana persamaan
Terkadang kau ingin riuh, namun kau ingin senyap
Aku ingin berlari, kau cukup dengan berjalan
Cinta,
Tak mudah memahami hingga ke dasar hati
Tapi aku ingin berbagi makna pengorbanan lebih lama lagi
Cinta,
Jika aku berharga
Tetaplah di sini
Beri aku ketenangan
Maka aku akan belajar memahamimu
2 September 2009
Mengaku Dhaif
Air suci yang mengalir bukti ketakberdayaan insan ya Rabb
Menyesali apa yang terjadi dan tak mampu mengendali
Jiwa ini adalah jiwa yang kalut
Hati yang terkadang mencari jawaban di antara keramaian
Diri yang menyudut ketika kehilangan arti
Biarkan tetesan ini jadi pengobat
Menjernihkan yang lama keruh
Menemani usia yang semakin di tarik waktu laju
Sampai di ambang pintu
Menemukan jawaban
Atau tetap tak bermakna
Namun namaMu tetap ada warna
Izinkan si fakir hina mencelupkan sedikit jemari rasa
Supaya kembang kuncup kuntum-kuntum sukma
29 Agustus 2009
Menyesali apa yang terjadi dan tak mampu mengendali
Jiwa ini adalah jiwa yang kalut
Hati yang terkadang mencari jawaban di antara keramaian
Diri yang menyudut ketika kehilangan arti
Biarkan tetesan ini jadi pengobat
Menjernihkan yang lama keruh
Menemani usia yang semakin di tarik waktu laju
Sampai di ambang pintu
Menemukan jawaban
Atau tetap tak bermakna
Namun namaMu tetap ada warna
Izinkan si fakir hina mencelupkan sedikit jemari rasa
Supaya kembang kuncup kuntum-kuntum sukma
29 Agustus 2009
Doa Malam
Bisikkan kegundahan,
Kebisuan dan kebekuan pada malam yang merangkak larut
Ia akan menyampaikan resah pada penggamit rasa
Hunuskan kerinduan dalam
Untuk merengkuh erat
Mendekapnya dan tak berharap ada yang melepaskan
Cinta yang menjernihkan kedua bola mata
Menyejukkan kepala dan hati yang melepuh
Ya Lathif
Janjikan aku penawar sukma yang menyekak langkah ini
Membuat tak berdaya
Tak punya upaya
Pontianak,2009
Kebisuan dan kebekuan pada malam yang merangkak larut
Ia akan menyampaikan resah pada penggamit rasa
Hunuskan kerinduan dalam
Untuk merengkuh erat
Mendekapnya dan tak berharap ada yang melepaskan
Cinta yang menjernihkan kedua bola mata
Menyejukkan kepala dan hati yang melepuh
Ya Lathif
Janjikan aku penawar sukma yang menyekak langkah ini
Membuat tak berdaya
Tak punya upaya
Pontianak,2009
Semesra Aku dan Kau
Biarkan mengalir memenuhi bejana
Ketika aku bahagia, ketika aku bersedih
Mendawaikan nyanyian memiliki
Jangan segera berhenti!
Gantungkan tinggi, agar sukma itu mati
Tenang, aku damai
Wahai penyenandung syair pujangga
Alunkan rasa yang biasa saja
Agar aku tak bersedih saat lagu berhenti
Karena aku akan kembali sendiri
Meranggas sunyi
Membilur pelupuk mata
Kembali memucat jiwa
Wahai penyenandung,tahukah Kau?
Yang kudamba bukan sajak,
Tapi hadirMu
Semua semakin syahdu
Jika Kau hadiahkan lagu
Aku tenang,
Bertambah damai
29 Mei 2009
Ketika aku bahagia, ketika aku bersedih
Mendawaikan nyanyian memiliki
Jangan segera berhenti!
Gantungkan tinggi, agar sukma itu mati
Tenang, aku damai
Wahai penyenandung syair pujangga
Alunkan rasa yang biasa saja
Agar aku tak bersedih saat lagu berhenti
Karena aku akan kembali sendiri
Meranggas sunyi
Membilur pelupuk mata
Kembali memucat jiwa
Wahai penyenandung,tahukah Kau?
Yang kudamba bukan sajak,
Tapi hadirMu
Semua semakin syahdu
Jika Kau hadiahkan lagu
Aku tenang,
Bertambah damai
29 Mei 2009
Makna
Sahabat itu
Orang yang mengajarkan arti tawa,
Tangis,
Keberanian,
Keputus asaan,
Bagaimana rasa di sakiti dan menyakiti
Cinta
Pengorbanan
Hidup
Dan mati
Sahabat,,,
Orang yang bertahan di saat semua pergi
16 Agustus 2008
Orang yang mengajarkan arti tawa,
Tangis,
Keberanian,
Keputus asaan,
Bagaimana rasa di sakiti dan menyakiti
Cinta
Pengorbanan
Hidup
Dan mati
Sahabat,,,
Orang yang bertahan di saat semua pergi
16 Agustus 2008
Panorama Berganti
Batang nyiur melambai
Laksana mengajak untuk turut bergoyang
Menatap senja yang mengharu biru
Sekelabat senyum langit yang mendamaikan jiwa
Ilalang ikut bersenandung, tersenggol oleh angin
Indah…alam pertiwi di bagian jalan itu
Masih asri hamparan tumbuhan hijau
Namun, tetapkah terlihat muda hingga nanti
Atau esok telah kering?
Terbakar?
Di tebang?
Berubah jadi perumahan,ruko, hotel, dan mall?
2 Juni 2008
Laksana mengajak untuk turut bergoyang
Menatap senja yang mengharu biru
Sekelabat senyum langit yang mendamaikan jiwa
Ilalang ikut bersenandung, tersenggol oleh angin
Indah…alam pertiwi di bagian jalan itu
Masih asri hamparan tumbuhan hijau
Namun, tetapkah terlihat muda hingga nanti
Atau esok telah kering?
Terbakar?
Di tebang?
Berubah jadi perumahan,ruko, hotel, dan mall?
2 Juni 2008
Aku
Aku
Terbilang hari asa terkatung-katung
Lepas dan buang -malas
Remas- mampu
Biarkan jadi gumpalan dan jauh mengiba
Sejauh mungkin
Sekarang,
Semua - jadi mungkin
Manusia- punya
Kini telah bangkitkah?
Manusia - sekarang
Menorobos beku menjunjung kelu
Dan itu adalah Aku
1 Juni 2006
Terbilang hari asa terkatung-katung
Lepas dan buang -malas
Remas- mampu
Biarkan jadi gumpalan dan jauh mengiba
Sejauh mungkin
Sekarang,
Semua - jadi mungkin
Manusia- punya
Kini telah bangkitkah?
Manusia - sekarang
Menorobos beku menjunjung kelu
Dan itu adalah Aku
1 Juni 2006
Sampaikan Rindu
Biarkan aku rendah
Asal nikmat penambah kesyahduan menjamah diri
Membenamkan kerinduan di dalam pelukan
Melewati cobaan
Sampai jadi manusia parlemen
Wahai lelaki yang bersayap
Ketika kau naik ke langit
Titipkan rasaku
Titipkan rindu yang menganak sungai
Getaran yang bergelora
Tangisan penuh rintih kerap kali
Kerap waktu
Karena teringat
Hanya diriNya
30 mei 2008
Asal nikmat penambah kesyahduan menjamah diri
Membenamkan kerinduan di dalam pelukan
Melewati cobaan
Sampai jadi manusia parlemen
Wahai lelaki yang bersayap
Ketika kau naik ke langit
Titipkan rasaku
Titipkan rindu yang menganak sungai
Getaran yang bergelora
Tangisan penuh rintih kerap kali
Kerap waktu
Karena teringat
Hanya diriNya
30 mei 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)








