Java Script

Saturday, January 21, 2012

Doa Malam

Bisikkan kegundahan,
Kebisuan dan kebekuan pada malam yang merangkak larut
Ia akan menyampaikan resah pada penggamit rasa
Hunuskan kerinduan dalam
Untuk merengkuh erat
Mendekapnya dan tak berharap ada yang melepaskan
Cinta yang menjernihkan kedua bola mata
Menyejukkan kepala dan hati yang melepuh

Ya Lathif
Janjikan aku penawar sukma yang menyekak langkah ini
Membuat tak berdaya
Tak punya upaya

Pontianak,2009

Semesra Aku dan Kau

Biarkan mengalir memenuhi bejana
Ketika aku bahagia, ketika aku bersedih
Mendawaikan nyanyian memiliki
Jangan segera berhenti!
Gantungkan tinggi, agar sukma itu mati
Tenang, aku damai

Wahai penyenandung syair pujangga
Alunkan rasa yang biasa saja
Agar aku tak bersedih saat lagu berhenti
Karena aku akan kembali sendiri
Meranggas sunyi
Membilur pelupuk mata
Kembali memucat jiwa

Wahai penyenandung,tahukah Kau?
Yang kudamba bukan sajak,
Tapi hadirMu
Semua semakin syahdu
Jika Kau hadiahkan lagu
Aku tenang,
Bertambah damai

29 Mei 2009

Makna

Sahabat itu
Orang yang mengajarkan arti tawa,
Tangis,
Keberanian,
Keputus asaan,
Bagaimana rasa di sakiti dan menyakiti
Cinta
Pengorbanan
Hidup
Dan mati
Sahabat,,,
Orang yang bertahan di saat semua pergi

16 Agustus 2008

Panorama Berganti

Batang nyiur melambai
Laksana mengajak untuk turut bergoyang
Menatap senja yang mengharu biru
Sekelabat senyum langit yang mendamaikan jiwa
Ilalang ikut bersenandung, tersenggol oleh angin
Indah…alam pertiwi di bagian jalan itu
Masih asri hamparan tumbuhan hijau
Namun, tetapkah terlihat muda hingga nanti
Atau esok telah kering?
Terbakar?
Di tebang?
Berubah jadi perumahan,ruko, hotel, dan mall?

2 Juni 2008

Aku

Aku

Terbilang hari asa terkatung-katung
Lepas dan buang -malas
Remas- mampu
Biarkan jadi gumpalan dan jauh mengiba
Sejauh mungkin

Sekarang,
Semua - jadi mungkin
Manusia- punya
Kini telah bangkitkah?
Manusia - sekarang
Menorobos beku menjunjung kelu
Dan itu adalah Aku

1 Juni 2006

Sampaikan Rindu

Biarkan aku rendah
Asal nikmat penambah kesyahduan menjamah diri
Membenamkan kerinduan di dalam pelukan
Melewati cobaan
Sampai jadi manusia parlemen
Wahai lelaki yang bersayap
Ketika kau naik ke langit
Titipkan rasaku
Titipkan rindu yang menganak sungai
Getaran yang bergelora
Tangisan penuh rintih kerap kali
Kerap waktu
Karena teringat
Hanya diriNya

30 mei 2008

Kau yang Punya Kepentingan

Apa yang hendak kau sibak?
Lekas! sebelum kesempatan pergi
Tataplah sebelum rindu menyingsing
Peluk dan dekap erat
Meski canggung menggantung lekat

Kapan lagi kau utarakan
Menunggu waktu yang tak punya keperluan?
Kau yang butuh
Katakan!!!
Katakan kau ingin
Katakan!!!
Sebelum gelora memburam

25 Agustus 2009

Tertinggal

Mengapa bayang tak dapat lekang?
Meski raga telah berkalang
Begitu mesra kau bagi jiwa
Hingga selaksa kisah tak dapat sirna
Kenapa dentang harus sekarang?
Kuncup-kuncup cinta itu mekar
Saat semua kata maaf tak lagi guna

Haruskah kudekap potret?
Bagaimana mengucap?
Dengan beribu pilu yang menganga

9 Agustus 2009

HABISLAH AKU

Suatu malam nisan terpancang
Tertulis namaku
Berbuncah darah putus asa
Berkalang tanah penyesalan

Ruh telah menghadap Illahi
Tertawa semua penduduk langit
Sinis mata

Pontianak 2008

Kekayaan

Jikalau umur memang sampai renta
Hanya inilah yang harta abadiku
Memprasastikan nama dan kehidupan
Menggoreskan tinta suka dan duka
Tapi…
Jika umurku tak sampai sehasta
Cukup orang-orang yang mencintai diri ini
Tetap mengingatku
Lewat tabula rasa

7 Mei 2009

TUTUL UNDER COVER


Ini kisah yang tidak akan pernah di lupakan di oleh anggota regu Matahari. Kisah heroik pentolannya, yang selalu siap dalam keadaan apapun.
Sabtu subuh, 12 Mei 2007. Si bundo sudah siap nepok satu-satu pantat temannya buat bangun. Walaupun sudah di suruh bangun berkali-kali tetap saja ada yang susah di suruh bangun. Salah satunya, si Nuin. Harus di dudukkan, dan pastikan bahwa matanya benar-benar terbuka. Kalau sudah begitu,itu artinya dia sudah benar-benar sadar. Jika tidak, yang bangunkan pergi, dia juga ikut pergi ke alam mimpi lagi. Bundo melihat jadwal kegiatan untuk hari ini, “Hem....hari ini kegiatan kita lebih padat di bandingkan hari kemarin, teman-teman” tukasnya pada yang lain. “ Ada dua puluh delapan mata lomba.” Ujarnya kembali.
Setelah berbenah diri, sepuluh orang berkumpul di tenda makan sambil briving sebelum kegiatan. Start jam 07.45, sepuluh orang ini berhamburan ke tempat lomba masing-masing. Sampai jam 9, ada tiga kegiatan lomba, yaitu Mengenal perangkat komputer, wisata karya, dan musyawarah regu. Lanjut sampai jam 10 pagi, ada tiga kegiatan lain yang di hadapi. Ada yang ikut hasta karya, membuat obat tradisional, dan lomba masakan khas daerah. Nah di sini, salah satu dari regu membuat catatan sejarah. Imaniatul namanya. Tapi teman-teman lebih suka memanggilnya tutul. Dia yang paling menjulang. Kalau satu regu berbaris satu berbanjar, dia yang berada di baris kedua dapat terlihat wajahnya karena sang pemimpin regu (pinru), badannya agak bonsai.wkkkkk. Dari segi sifat, anaknya periang, paling bocor, dan yang paling khas adalah gayanya yang maskulin, rambutnya saja di potong cepak. Wajar kalau teman-teman menjulukinya “ laki-laki”.
Balik ke pengukiran sejarah. Sebuah kecelakaan terjadi padanya ketika lomba masakan khas daerah. Tutul dan dua orang temannya, memasak Asam Pedas, yang merupakan salah satu masakan khas daerah perwakilannya, Pontianak. Tutul dkk mencari tempat yang pas, lalu duduk dan siap memasak. Ketika tengah memasak, salah seorang kontingen Kepatang melemparkan senyum padanya. Tutulpun membalas senyuman itu. Beberapa lama ia senyum, sampai iapun tak sadar apa yang ia aduk. Kompor yang tidak sepadan dengan kuali membuat kuali asam pedas itu tumpah ke kakinya. OMG.....
Tutul begitu semangatnya, dan ia tidak hati-hati saat mengaduk kuali yang berisi Asam Pedas sehingga kuahnya tumpah membasahi roknya. Bisa anda bayangkan apa yang terjadi selanjutnya???
Singkat cerita, ia segera berlari menyelamatkan kaki kirinya yang tersiram tadi. Dalam keadaan seperti itu, tutul mampu berlari dari pos lomba menuju tenda regu. Jaraknya cukup jauh, kira-kira dua kali putaran lapangan bola. Sesampai di tenda, ia langsung membuka kotak P3K, dan mengambil obat luka bakar. Ia turunkan kaos kakinya dan mengoleskan obat itu ke paha dan lututnya yang seperti daging masak, berwarna kecoklatan dan melepuh.ihhh....seram.
Tak lama kemudian, pembina damping datang ke tenda. “Mana kembar?” tanyanya pada tutul. “Masih lomba Hasta Karya kak, kenapa? “ jawab tutul sambil mengobati kakinya. “Lomba Penyelengara dan Mengenal bendera sudah di mulai, mereka berduakan yang dapat job itu. Panitia sudah teriak-teriak panggil kontingen Pontianak.”
. Sejurus kemudian, si “laki-laki” berlari ke pos lomba hasta karya untuk mencari si kembar. Letaknya tidak jauh dari pos lomba masakan daerah tadi. Sudah kena asam pedas, harus pula menjelaskan hasta karya, karena si kembar harus mengkuti lomba yang lain. Ia jawab abal-bal di depan juri, ya... karena pada dasarnya tutul tidak paham akan apa yang di buat teman-temannya. Tapi itu luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, tutul mampu menahan rasa sakitnya dan berkorban untuk regu. Setelah di obat, walau hanya dengan obat luka bakar ala kadarnya, kakinya mampu untuk tetap di bawa berjalan mengikuti lomba yang lain. Bravo tutul.

Sunday, December 4, 2011

TENOR MENOR

PACERI PANAS
PengAlaman,CEloteh,dan StoRY PrAmuka menuju NASional


LT V (26 Juni 2007)

Malam ini lomba pentas seni. Kontingen Kalbar telah menyiapkan sebuah tarian. Guru tarinya kasi nama tari kreasi. Emang, kreasi benar benar kreasi. Semua berkreasi sendiri2. He..he, gimana ya penampilannya nanti ?
Hummm...,sayang, di sekitar tenda tidak ada penerangan yang memadai. Palingan hanya sebuah lilin atau lampu teplok. “Gimane ni, kite nak mek ap?”
Akhirnya, tidak ada pilihan lain. Tikar di gelar di samping tenda. Si tutul siap dengan alat make up. “Brug...” satu box alat make up ia letakkan di tengah tikar itu. Cek wan, nek wan, mempersiapkan suara, dan siap beraksi. Dia panggil satu-satu teman2nya. Srot...srett...blus..blus...nyet....., satu –satu dari kami akhirnya dia poles.
“Ngape rase tebal ye muke ni? “ ucap salah seorang dari regu. “Eh...tadak.&#$#@^%&^*(&&&” si tutul melakukan pembelaan. Yah, terima sajalah. Sudah di dandani, tak boleh banyak komen. Tak lama kemudian, lagu yang menandakan semua peserta harus berkumpul di tempat kegiatan Pentas Seni.
Di tempat kegiatan
Mata terbelalak liat kontingen2 yang lain. Keren, cantik, eksotis. Dalam hati bergumam takjub. Mata dan ekspresi kekaguman tak bisa di tutupi. Dandanan dan pakaian mereka bagus, pasti narinya juga bagus. Sempat kecut hati di buatnya. Tapi tak boleh minder, PD Aja lagi.
Setelah tampil, saatnya liat anak jakarte ni yang nampil. Wuis...mantapzzzzzz. setelah mereka nampilpun, kita2 tidak menyiakan kesempatan buat bincang-bincang dengan mereka. Sok2 an tanya penampilan dan pakaian. Mereka menyambut dengan ramah dan membaguskan setiap apa yang di tanya. Siapa sih yang tak bangga di sajung.he2. setelah kegiatan pensi, kedua kontingen ini berfoto bersama. Dan....tahukah anda hasil fotonya?
“OOOOOOO MY GOD...................”
Kenapa???????

(Berdandan di tempat yang remang-remang dapat menyebabkan kemenoran, malu, dan rasa-rasa yang lain.
Waspadalah, waspadalah!!!!)

Monday, November 28, 2011

STORY : JIKA DI BELAKANGMU ADA HANTU



Malam sudah sangat larut. Sepuluh badan yang begitu lelah, tergolek dan bergelimpangan di dalam tenda. Ah... mata ini rasa tak mau di buka sampai besok pagi. Karena pasti besok kegiatan akan lebih padat dari pada hari ini.
Badan Banti di guncang-guncang oleh seseorang di luar tenda. “Dek,bangun! Ikuti saya! temanmu yang lain jangan sampai bangun. Cepat!!!” suara itu terdengar berbisik . Banti yang ngantukpun mengikuti perintah. Setelah berjalan mengikuti sosok itu, ia berdiri tegap di depan beberapa orang yang wajahnya terlihat samar-samar karena tidak ada cahaya lampu di sekitarnya.
Ser... desir darah semakin membuat gugup. “Apa yang akan di lakukan sosok-sosok di depanku ini? “ tanya hati Banti
Seseorang dari mereka berbicara. Meski tanpa cahaya, tapi sosoknya masih dapat terlihat. Rambut laki-laki itu gondrong , penampilannya sangar , dan dia juga memegang rokok, waduh....seram.
“Kamu (sambil menunjuk ke arah Banti) , mendapat tugas untuk mengerjakan soal di kelas VII F. Di sana sudah di siapkan lilin dan korek api. Silahkan jawab pertanyaannya di kertas yang ada di sebelah lilin. jangan tulis nama. Setelah selesai silahkan kembali kemari untuk laporan. Paham?
“Siap paham” suaranya tegas
Singkat cerita,
Banti sampai di tempat yang di perintahkan. Sekelilingnya gelap, ruang yang sesekali terdengar suara-suara yang menegakkan bulu kuduk. Kaki terasa berat untuk di gerakkan, pikiran paranoid muncul, apalagi kelas itu terkenal angker, dan banyak cerita-cerita seram tentang kelas itu. Hummm....tapi perintah harus di laksanakan, apapun keadaannya. Setelah lilin di hidupkan , terlihat tulisan di papan tulis yang berbentuk sandi morse ( salah satu sandi dalam pramuka yang terdiri atas garis dan titik untuk mewakili sebuah huruf atau angka) yang isinya seperti ini:
.---/../-.-/.-//-../..//-..././.-../.-/-.-/.-/-./--./--/.--//.-/-../.-//..../.-/-./-/.--//
apa yang kamu lakukan?
***
Satu-satu morse itu ia artikan. kata pertama J-i-k-a, jika. Kata kedua sekarang. D-I-B-E-L-A-K-A-N-G-M-U, di baca di belakangmu. Emmm....buluk kuduk langsung berdiri tegap tanpa aba-aba. Perasaan tak enak mulai merasukinya. Memasuki kata ketiga,tambah kuat tangannya gemetaran dan nafasnya semakin tak terkendali. a-d-a, ada. Kata ke empat, h-a-....., pasti hantu, tebaknya. Tidak salah lagi. Walaupun tidak di artikan, ia sudah menduganya dari awal. Segera ia menyelesaikan tugasnya, di temani bangku-bangku, ruang yang kosong dan gelap, serta suara-suara mengerikan dari sudut kelas.
Ternyata bukan hanya Banti yang dapat tugas seperti itu, tapi juga teman satu regunya yang lain. Setelah semua menyelesaikan tugas, pembina menyuruh mereka berbaris di halaman badminton. Dag...dig...dug....jeder. rasa ngantuk yang amat sangat di tindih oleh rasa takut dan berdebar. Walaupun sudah sering ikut kegiatan jurit malam, akan tetapi tiap moment pasti akan memiliki rasa takut tersendiri.
“Mana jawaban kamu?” tanya satu pembina kepada Banti
“Siap, di papan tulis” jawabnya gelagapan
“Siapa yang suruh nulis di papan? Hah?!!! “ teriak pembina itu sambil menghentak tanah menakutinya. “Ser....” serasa mati daya. Banti tak punya jawaban. “Sekarang kamu ambil jawabanmu yang ada di papan tulis dan bawa kemari! Saya hitung sampai sepuluh. Sepuluh...sembilan....” teriak sang pembina.
Si Banti langsung kocar – kacir lari ke tempat menakutkan tadi. Tapi kali ini, ia lebih berani, karena teriakan pembina yang menghitung mundur menemaninya dalam gelap. Apa yang di lakukan Banti di kelas itu? Lalu bagaimana ia mengambil jawabannya di papan tulis?
Menakjubkan. Banti mampu menyelesaikan tugas keduanya dengan berbekal kepolosan. Setelah hitungan satu, iapun sudah kembali ke halaman. Lalu pembinanya bertanya lagi, “ Mana jawabannya?” lalu ia berkata, “siap” kemudian memperlihatkan debu-debu kapur kepada sang pembina. Debu-debu itu merupakan jawabannya di papan tulis yang ia hapus dan debunya ia bawa ke hadapan sang pembina. Benar gak sih, tu? Hahahaha. Ade2 jak.


inspirasi: Regu Matahari

Friday, June 17, 2011

PESANTREN IMPIAN

Titik Balik Masa Lalu yang Suram
resensi oleh Mahadaya Senja


Judul Buku : Pesantren Impian
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : PT Syaamil Cipta Media, Bandung
Tahun terbit : 2004 (cetakan ke 6)
Halaman : vi + 190

Pesantren impian, pasti di dalam benak akan tergambar suasana bak “mimpi”. Yah, memang bagai mimpi, bagi 15 wanita dengan latar belakang kejahatan yang berbeda, serta belasan laki-laki lain yang memiliki riwayat kejahatan masing-masing. Pesantren Impian, adalah sebuah tempat rehabilitasi, tempat mencari arti hidup, dan ketenangan yang sengaja di buat oleh Tengku Budiman, yang tak lain mengganti namanya sebagai Umar seorang pengacara, dan sosok Tengku Budiman di gambarkan dengan laki-laki tua rekannya yang kaya raya, anti publikasi, serta berwibawa. Umar alias Tengku Budiman menyebut proyek pembangunan pesantren ini sebagai “Penebusan Dosa”, atas kejahatan yang pernah ia lakukan, kekayaan haram yang akhirnya merenggut keluarganya akibat kebakaran.
Pesantren ini akan mengkader santri dan santriwati dan akan di bina selama satu tahun. Siapakah mereka? mereka adalah pencandu narkoba, Bandar, bahkan pembunuh, serta mereka yang memiliki masalah dengan masa lalu. Terkisahlah lima belas santriwati yang menyetujui undagan Pesantren Impian untuk di bina selama setahun. Sissy, Inong, Rini, Tanti, Ipung, Sri, Butet, Eni, Sinta, Santi,Ita, Yanti, Evi, Iin dan Ina. Mereka akan hidup bersama dalam Pesantren Impian, menerima Pembina agama dan keterampilan, meninggalkan, bahkan melupakan kejadian masa lalu mereka yang kelam.
Novel ini terdiri dari dua puluh dua bab. Setiap bab memiliki daya tarik tersendiri. Bagi saya, dari kedua puluh dua bab itu, ada lima bab yang menarik. Bab itu antara lain, Bab 1 (4 lembar). menceritakan tentang pembunuhan yang di lakukan seorang gadis di hotel Tiara, Medan. Lalu kemudian Gadis itu melarikan diri ke Pesantren Impian bersama empat belas santriwatiwati lainnya. Siapakah dia?
Apakah di Pesantren ini ia juga akan membunuh?
Bab 12. Menceritakan tentang kematian Yanti. Lihat, pembunuhan terjadi, dan pertama kali selama pesantren ini di bangun. Apakah si gadis pembunuh di antara mereka yang membunuh Yanti? Gadis yang memakai bantalan mirip orang hamil, sebagai bentuk solider pada Rini teman sekamarnya yang datang ke Pesantren ini membawa perut berisi janin karena di perkosa.
Lalu di bab 16, di akhir bab ini, penulis memunculkan klimaks berupa pembunuhan terhadap Butet, santriwati yang membawa putauw seberat 2 kg ke dalam Pesantren. Syukurnya, Butet dapat di selamatkan oleh Eni, polwan yang menyamar sebagai santriwati. Alasan Eni kemari sebenarnya untuk melacak keberadaan siapa di antara mereka , si gadis pembunuh.
Bab 17. Dalam babak ini Rini mengetahui bahwa yang telah memperkosanya adalah Mas Bagus, anak emban di rumahnya. Batin Rini begitu terluka, karena orang yang ia anggap sopan, baik, dan berpendidikan tega merenggut kehormatannya. Tapi yang lebih mengejutkan, Rini mendapati Bagus di Pesantren itu, Pesantren yang jauh dari media. Luka batin yang di rasakannya, tak sanggup meluluskan permintaan Bagus yang berkali-kali ingin menjelaskan kejadian sebenarnya.
Bab 18. Ini bab yang paling Klimaks, akan ada pembunuhan yang ketiga kalinya. Ketika Umar mengajak santri dan santriwati keluar melihat salah satu perkebunan Tengku sekaligus dalam rangka perpisahan karena masa pembinaan hampir usai. Ketika tengah menikmati segarnya alam perkebunan, tiba-tiba Bagus datang di hadapan Rini. Tentu Saja Rini Shock, dan berlari ketakutan ke arah hutan. Bagus dan si gadis mengejar Rini ke hutan. Tak lama kemudian, Umar dan wargapun membantu mencari Rini yang sangat galau itu. Di tengah ketakutannya, Rini di temukan Om Kusno, pamannya sendiri. Sang paman membawanya ke pantai dan menjauh dari orang-orang yang mencari Rini. Di sinilah Rini hampir mati. Kenapa? Karena kebaikan Om Kusno hanya kebohongan belaka, dialah yang memperkosa Rini. Dia rela ke pulau ini untuk mencari Rini dan berniat membunuhnya karena tidak terima di usir dari rumah Rr.Hartini, wanita ningrat, ibu Rini. Syukurlah, Umar dengan sigap menolong Rini yang sejengkal lagi menemui ajal di bawah batu karang.
Akhir dari novel ini adalah si gadis menikah dengan Umar, laki-laki yang di ketahuinya sebagai seorang pengacara dan penasehat Tengku Budiman. Padahal , dialah Tengku Budiman yang sesungguhnya. Semua penghuni pesantren termasuk penguruspun tidak mengetahui hal itu, rahasia besar antara Umar dan Tengku Budiman.
Dalam penceritaan novel ini, sang gadis adalah tokoh utama. Namun, penulis merahasiakan nama si pembunuh, dan memberinya nama panggilan si gadis. Jadi, pembaca di ajak untuk menemukan sendiri siapa nama Asli dari pembunuh itu. Letupan-letupan klimaks yang tak terduga, serta misteri-misteri kejadian yang menimpa para santriwati, membuat novel ini begitu hidup. Selain itu bahasa yang di gunakanpun enak, dan tidak terjamah pada hal-hal yang vulgar. Padahal bisa saja penulis menggambarkan bagaimana Rini di perkosa dengan detail. Tetapi itu tidak di lakukan.
Nothing is perfect. Kekurangan juga di miliki novel ini. salah satunya adalah pengeditan. Ada beberapa kata yang salah ketik, seperti kata ngeri,tertulis jeri. Selain itu, bab-bab terakhir tepatnya setelah upaya pembunuhan Rini gagal, penceritaannya begitu hambar. Penggambaran bagaimana kecemasan Umar yang mengharapkan si gadis kembali ke pesantren serta kecemasan si gadis untuk segera pulang menemui anak-anak asuhnya terasa datar. Jika di akhir-akhir cerita di bubuhi sedikit klimaks, pasti ending cerita novel ini akan lebih berkesan. Kemudian, akhir dari penyembunyian identitas umar, bagaimana nasib Rini dan anaknya setelah selamat di tolong oleh umarpun tidak terselesaikan di sini.
Apa hikmah yang dapat di petik?
Bagi saya pribadi, novel ini mengajarkan bahwa betapa sempurnanya sosok manusia di depan mata kita, dia pasti punya aib dan kekurangan diri, besar atau kecil. Namun Allah yang Maha Menjaga Rahasia begitu sempurna menyembunyikan aib itu di mata manusia lain. Jadi, jangan heran ketika seorang yang anda kenal baik di kemudian hari menjadi sosok yang berdosa. Semoga kita menjadi lebih baik.

17 Juni 2011
Mahadaya Senja

Friday, June 10, 2011

SEBUAH ARTI



Mahadaya Senja

Apakah arti aku hidup ini?
Jika siang dan malam
Hanya di batasi oleh kelelahan menumpuk pundi-pundi
Jika hidup untuk makan
Hidup untuk bebas
Hidup adalah tempat ujian penyakit dan kemiskinan
Hidup untuk memenuhi hasrat libido yang berlari lepas
Untuk apa aku hidup dan akhirnya di cabut pula nikmat-nikmat dari kerongkongan?
Apakah pula arti aku mencintai?
Jika sakit hati yang sering merendam rasa
Jika kekecewaan yang kureguk
Tiap kali orang yang kucintai melakukan hal yang tak kuharapkan
Jika mencintai harus akrab dengan perselisihan bahkan perceraian
Jika mencintai adalah kesiapan untuk di tampar
Di pukul,bahkan terbunuh oleh cinta yang gelap mata
Jika mencintai pada akhirnya tak bersama
Dan hidup dengan pasangan masing-masing
Apa pula arti aku beribadah menyembahMu, ya Allah?
Jika tiap kali maksiat kubuat tanpa malu di hadapanMu
Jika beribadah menangis, bertobat
Lalu sesat lagi, bahkan lebih pahit
Jika beribadah itu adalah ruku’, sujud, dan salam
Untuk apa aku beribadah jika aku belum malu menghadapMu
Dengan hatiku yang kotor
Pakaian imanku usang dan dekil
Karena debu dosa yang kupakai untuk bersuci
Allah…
Untuk apa malam-malamMu kutegakkan
Lalu kuhancurkan lagi dengan perkara terlaknat di siang harinya
Aku malu menghadapMu
Gejolak bara api naar bagai terasa melempuhkan kulit-kulitku
Ya Rabbi,
Pintu-pintuMu kuketuk lagi
Kau buka atau tidak
Tak akan kupaksakan

KEHILANGAN


Mahadaya Senja

Aku akan kehilanganmu
Dalam dua kulit kering yang menyatu
Melukis keindahan tanpa kata
Menutup rapat celah jiwa yang ragu
Akan hilang terbasuh semu

Aku akan kehilanganmu, dua kali
Dalam perjanjian dusta pada hati lain yang getir
Mengakhiri dilema kulit kering
Hanya sanggup melagak tegar kehilangan nirwana
Akan pudar pertalian bisu ini

Aku akan kehilanganmu, tiga kali
Dalam perbatasan dua nyawa yang bergema
Nafasku yang mengisi ronggamu
Ikut pergi bersama kearifan dunia mimpi
Waktu melepaskan jemari-jemari yang berdosa
Akan tenang di kandung tanah yang basah

Aku akan terus kehilanganmu
Di batas sadar ataupun di pelupuk asa
Desah nafasmu akan berakhir
Kala perjanjian kita terhantuk pada hal yang kau cari
Dalam isyarat kata yang syahdu
Hanya kita
Dia saksinya


MEI 2011

Wednesday, June 8, 2011

DALAM PELARIAN SANG PEMBUNUH

(Mahadaya Senja)



"Ia mencoba memelukku, aku terus menghindar. Aku berlari ke setiap ruangan. Namun ia tak berhenti mengejar. Kini, aku tak dapat berlari lagi, ketika kudapati diri ini tersudut di antara lemari peralatan makan.
Gelak tawa kemenangan menggelegar. Ia semakin garang untuk menikmatiku, sedangkan aku semakin pilu dan putus asa. Tubuhnya semakin merapat, kuku-kuku tajamnya mencengkram tubuhku, desah-desah nafasnya membuatku hilang akal."





Tuhan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menjadi seorang pembunuh. Ini semua tidak sengaja terjadi. Malam itu gelap, aku tidak dapat melihat apa-apa. Tiba-tiba saja gadis itu melintas. Aku terkejut, dan terjadilah peristiwa tragis yang tak kusangka-sangka. Sungguh, hidup tidak adil, aku harus bertanggung jawab atas kejahatan yang tidak pernah aku lakukan. Aku di kejar perasaan bersalah. Harus melarikan diri, tersesat di tempat yang tak di kenal. Dimana ini? Tempat yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Pohon-pohon besar berumur puluhan tahun kulihat di sepanjang batas mata menangkap terang. Daunnya rimbun dan di tumbuhi akar gantung mirip tali yang menjuntai ke tanah, seperti di film tarzan saja, ucap benakku. Lolongan anjing yang melengking, membuat bulu tengkukku berdiri. Aku berjalan perlahan, mengurangi bunyi suara dedaunan kering yang berbunyi ketika aku melangkah.
“Tep…”. Ada yang menepuk pundakku dari belakang. Aku terkejut. Astaga. Aku melihat malaikat pencabut nyawa telah siap balas dendam, dia di hadapanku.
“Kenapa cantik? Wajahmu yang elok itu berubah pasi melihatku di sini. Terkejut ya? Jelas saja. Aku tak dapat menuntut balas atas kematian kekasihku di dunia kita, makanya aku mencari jejakmu di sini, akhirnya kutemukan juga.” Ucap sosok mengerikan itu.
“Tidak, kau salah. aku tidak bermaksud membunuh kekasihmu. Aku tidak sengaja. Sungguh, aku tidak bohong.” Ucapku membela
“Heh” lelaki itu mengulum senyum, lalu melanjutkan bicaranya, “Aku tidak perduli apapun alasanmu. Nyawa harus di bayar dengan nyawa. Tapi sebelum itu, aku ingin menikmati tubuh manismu terlebih dahulu, sayang jika di sia-siakan.” ucap laki-laki bertubuh gelap dan berekor itu sambil mengarah padaku dengan mata beloknya yang penuh hasrat.
Aku meneruskan pelarian. Lebih kencang, karena kematian telah siap dengan pedangnya. Aku menyusup di antara pepohonan dan menembus gelap malam. Berlari entah kemana, asal nyawa selamat. Sesekali melihat kebelakang, sosoknya tak kelihatan lagi. Syukurlah, aku dapat mengatur nafas. Tubuhku terasa setengah mati, dengan nafas yang terengah-engah dan rasa sakit kepala yang hebat. Aku menoleh kebelakang, terlihat mata merahnya membara sedang mencari keberadaanku. Pelarian di mulai lagi. Tak berapa lama langkahku terhenti, aku terjerembab. Ekor panjangnya mengikat kakiku. Setelah beberapa lama mencium tanah, aku terangkat ke udara. Jungkir balik, sakit kepalaku, karena semua aliran darah menuju otak. Tuhan, tak dapatkah kau tolong aku yang terdzalimi ini. Kumohon, aku belum mau mati, apalagi di tangannya.
Lama aku menunggu tangan Tuhan menolong hambanya yang tak bersalah. Ketika harapanku mulai pupus dan pintu kematian terlihat tanpa hijab, aku menemukan sebuah kapak yang tertancap di sebuah pohon, tak jauh dariku. Aku mengambilnya, dan kuayunkan kearah laki-laki itu. “Brug…”. Seketika aku terjatuh, mencium tanah kedua kalinya. Namun sakitnya tak begitu terasa, karena aku telah merasakan sebagian dari rasa kematian sebelumnya. Aku bangkit, dan melihat sosoknya tak bergerak. Kapakku memutuskan bagian tubuh laki-laki berbintik hitam itu, antara badan dan ekor. Dia sudah mati. Aku mendekat, memastikan kematiannya dengan menendang perlahan tubuhnya dengan kakiku. Dia benar-benar telah mati, menyusul kekasihnya. Bersenang-bersenanglah kalian berdua di alam baqa sana. Kali ini aku memang pembunuh. Benar-benar membunuh dengan tanganku sendiri.
Ups... meleset. Matanya mencelang, lalu lidah panjangnya sigap menangkap leherku. Mencekikku hingga terasa sulit bernafas. Huh, kematian lagi-lagi datang. Tapi kali ini pasti akan lebih mengerikan.
“Bodoh, kau pikir aku akan mati. Tidak, sayang. Aku harus mencicipi tubuhmu dulu. Bila ada yang mati, seharusnya bukan aku, tapi kau.” Ucapnya dengan sunggingan senyum yang dingin.
Cekikan luar biasa. Lebih membuatku tak berdaya. Lebih ganas. Ia tak hanya akan membunuhku, tapi juga memperkosaku. Oh tidak. Tidak mungkin. Aku tidak mau. Aku jijik membayangkan jika mulutnya yang moncong akan menggilas bibirku ini. Tapi matanya yang belok dan besar memberi syarat bahwa nafsunya tak mampu lagi tertahan.
Nafasnya menderu. Gigi tajam akan menggilas kehormatanku. Tubuhku serasa lumpuh tak mampu membuka mata. Semakin aku mencoba membukanya, semakin aku tak mampu bergerak. Sedangkan nafasnya semakin terasa di depan wajahku. Aku mencoba teriak meski dengan sisa kekuatan yang aku miliki. Hawa panas dari mulutnya telah mendekat. Bibirnya hampir sampai di bibirku, dan “to….”.
*******

“Tolong…” suaraku memenuhi kamar. Mataku kembali terbuka, dan mendapati tubuhku telah basah oleh keringat. Mengucur deras. Aku menebar pandangan ke segala penjuru kamar, tak ada siapa-siapa. Aku mulai menormalkan nafasku yang terengah-engah. Syukurlah cuma mimpi. Mimpi buruk.
“Krek” gagang pintu bergerak. Oh Tuhan, kumohon jangan mulai lagi. Kasihanilah diri ini. Aku menghela nafas ketika daun pintu itu terbuka. Huft, ternyata ayah. “Kamu kenapa teriak,sayang? Mimpi buruk?” ayah mendekat dan memelukku. “Iya ayah, aku mimpi di kejar oleh seekor cicak laki-laki yang ingin balas dendam kepadaku, karena aku tidak sengaja menginjak kekasihnya dan kemudian mati.” Jelasku pada ayah. Aneh, anaknya hampir saja mati, tapi ayah malah menertawaiku. “Kamu ini, terlalu banyak nonton film horor sih, mimpinya saja aneh begitu. Sudah. Sekarang cuci muka! Setelah itu tidur lagi.” Tukas ayah. “Oya satu lagi, jangan lupa baca doa ya. Met tidur, sayang”. Ayah mengecup keningku, lalu kembali ke kamarnya.
Aku tak mendengarkan perintah ayah, aku takut. Kesendirian membuat pikiran paranoidku muncul. Mimpi buruk itu membuat aku takut untuk memejamkan mata. Lelaki bejat itu pasti akan mengejarku lagi. Kulihat jam dinding, ternyata masih jam 12 malam. Aku bertahan dalam keadaan mata terbuka, menatapi jarum jam agar ia dapat berputar lebih cepat dan menghantarkan pada hari yang terang benderang. Terasa lama sekali, padahal jika aku tertidur mungkin ini terasa seperti baru memejamkan mata. Jam setengah lima mataku terasa berat, sudah tak mampu menahan kantuk. Sebagian kesadaranku dalam keadaan Alpha, setengah tertidur tapi belum sepenuhnya tidur. Tiba-tiba senyum menakutkan itu berkelabat. Sontak, aku kembali terbangun. Sang pembunuh dingin seperti telah menguasai alam mimpi sehingga aku tidak akan bisa kemana-kemana jika aku berada di sana.
Semenjak aksi balas dendam gagal,hidupku menjadi korban. Aku tidak dapat konsen di kelas. Mataku sungguh mengantuk tapi aku tak boleh tidur. Jika saja aku tidak bermimpi ketika tidur, pasti indah. Namun aku menemukan kenyataan yang di penuhi kecemasan. Hari ini hari ketiga, aku membuat sebuah prestasi yang memalukan bagi orang tuaku. Ketika aku tengah duduk di kelas sambil memandang lalu lintas di depan sekolah yang tengah ramai, tiba- tiba seekor cicak menempel di tanganku. Aku menjerit keras sekali. Sejurus kemudian, gelak tawa meledak dari seorang siswa, dia yang melempar cicak mainan itu kepadaku. Niatnya memang untuk bergurau, tapi sungguh tidak lucu. Aku bangkit dari bangku, lalu menuju ke meja guru. Aku gengam sebuah vas kaca yang ada di atasnya, mengarahkan badan pada anak jahil itu dan melemparkan barang yang ada di tanganku. Apa yang terjadi setelah itu? Semua terperangah atas lemparan jitu. Anak gendut itu roboh di lantai bersama serakan kaca dan darah segar yang mengalir dari kepalanya yang bocor.
OMG, aku di tarik paksa oleh guru BK ke ruangannya. Di dudukkan di sebuah kursi putar, di introgasi seperti seorang tersangka tindak krimial. Yah, bukankah perbuatanku barusan adalah tindak kriminal, yang sebelumnya belum pernah terjadi di keluarga, dan sekolah ini. Anak perempuan yang lemah, yang sedang mengantuk berat, menjadi beringas dan membabi buta.
“Nama kamu siapa?” tanya laki-laki berkumis tebal itu. Kumisnya mebuat aku geli, sama seperti geli pada kejadian tempo hari. Aku menunduk takut.
“Mita, pak” jawabku
“Kelas berapa?” lanjutnya
“XII IA 1, pak” jawabku lagi
“Kenapa kamu berbuat seperti itu? Kamu itu perempuan, siswi dari kelas dan sekolah unggulan.” bentaknya lagi
“ Siapa suruh mengganggu saya. Saya tidak suka. Saya benci cicak! ” jawabku lugas.
Pak kumis tidak terima dengan jawabanku. Mengada-ada, katanya. Dia ceramah panjang lebar atas kesalahanku. Keadaan tambah kisruh, ketika orang tua si gendut datang ke sekolah untuk meminta pertanggung jawab atas kejadian yang menimpa putra mereka. Keributan terjadi di ruang guru. Bapak si gendut teriak-teriak, “Mana kepala sekolah, mana bajingan yang berani-beraninya melukai anakku.” Teriakannya terdengar sampai keruangan aku berada. Aku melihat bapak si gendut mengenakan seragam polisinya, api kemarahan berkobar-kobar. Giginya gemerutuk, tangannya yang kekar mengepal keras,seperti hendak menghajar kepala sekolahku.

Aku tak perduli sama sekali dengan apa yang terjadi. Kenyataan yang akan aku hadapi karena ulahku. Aku tak gentar menghadapi ayah si gendut yang petantang- petenteng menyombongkan pangkat sosialnya itu.
“Kau lihat ulahmu, Mita?” ucap pak kumis menatapku dingin. Lalu keluar untuk ikut berpartisipasi dalam keributan di ruang guru itu.
Aku sendiri di ruangan. Ruangan yang di penuhi papan-papan informasi tentang konseling. Aku menilik satu-satu isinya, membesarkan kedua bola mata yang sudah tiga hari dua malam tidak tidur. “Hahahaha…..” sebuah suara asing menggema. Aku menghentikan kegiatanku. Melempar pandangan ke semua penjuru. Tak ada siapa-siapa, hanya aku. “Kau terlalu paranoid sayang. Kau merindukan aku ya? Hahaha…” suara itu kembali terdengar, dan aku kenal suara menyeramkan itu. “Diam kau, keparat. Aku tidak takut padamu. Sini keluar, hadapi aku. Jangan hanya berani di dalam mimpi saja. Keluar!” teriakku. “Hahaha…., benarkah kau berani , sayang? Kita lihat saja seberapa kuat dirimu. Aku tidak akan membuatmu tenang. Dendam kesumat atas kematian kekasihku belum terbalaskan. Kau harus dapatkan penderitaan. Aku akan terus mengintaimu, sayang.”
Suara itu hilang. Meninggalkan aku dengan ketakutan. Lalu aku terkejut lagi, ketika pak kumis datang. Ia menyuruhku duduk. Kemudian berbicara ngalur - ngidul, mulai dari masalah kelakuan burukku, sampai ke permasalahan dengan istrinya.
“Pak, intinya apa? Saya di keluarkan dari sekolah ini,kan?” potongku.
Aku tahu pak kumis tak tega padaku. Wajahnya berubah sangat berat untuk mengeluarkan kata-kata. Ia menyodorkan sebuah amplop kepadaku. “Kamu di skorsing. Berikan ini kepada orang tuamu.”Ucap pak kumis singkat.

*******
Hari ke lima dari peristiwa menyeramkan itu.
Sudah lebih dari enam cangkir kopi dan 2 bungkus coklat batang aku lahap malam ini. Tak lain agar mataku dapat terus terjaga. Sampai kapan aku menjadi Oneirophobia seperti ini? Menjadi orang yang terus terjaga ketika orang lain mendengkur adalah hal yang tidak adil. Lihatlah kerjaku; mondar - mandir, atau duduk –duduk saja di pojok kamar. “Auw.sakit” Tak sengaja pipiku yang bengkak terpegang. Ini juga hadiah menyebalkan yang di berikan si cicak gila. Tadi siang, ayah begitu marah dan menamparku semau hatinya. Ia begitu marah ketika pulang dari panggilan Kepala Sekolah. Bagaimana tidak, anak semata wayang yang ia kenal ayu dan lemah lembut, di keluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Ayah sangat marah karena sebentar lagi aku akan Ujian Nasional. Eh, si anak manisnya malah nyeleneh. Maafkan aku ayah, ini bukan mutlak salahku.
Keesokan harinya, ayah membawaku ke Rumah Sakit Jiwa. Tentu saja aku berontak. Tega-teganya ayah menganggap anaknya sendiri gila. Aku berontak, ingin pulang. Tapi ayah mendekap tubuhku dan memaksa aku untuk bertemu Psikolog. Aku kalah, tubuh ayahkan lebih besar daripadaku. Sang Psikolog cuap-cuap. Apa yang dia tanya aku jawab seperti biasa. Aku tidak gila.
Psikolog itu menatapku, dan tersenyum pada ayah. “Anak bapak sepertinya mengalami gejala Skizofernia, pak?”
“Penyakit apa itu dok, anak saya gila?”
“Tidak, anak bapak tidak gila. Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidak seimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Skizofernia juga sering kali diikuti dengan delusi dan halusinasi, pak” Jelas Psikolog itu.
Ayah mengangguk-angguk. Aku mengumpat dalam hati. Aku di anggap gila. Kalian yang gila. Orang sehat begini di bilang gila.
“Tapi, kenapa bisa,dok? Padahal di keluarga kami tidak ada yang menderita penyakit seperti itu?”. tanya ayah penasaran.
“Skizofernia bisa menyerang siapa saja ,pak. Malah presentase penderita terbesar adalah mereka yang usianya seperti anak bapak, 16 sampai 25 tahun. Wajar saja pak, usia remaja dan dewasa-muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupannya penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Syukurlah, bapak segera membawa anak bapak kemari.” Jelas sang psikolog panjang lebar. Sudahlah dok, aku sudah gusar lama-lama di luar. Aku ingin segera ke kamarku. Sebelum laki-laki pembunuh itu menemukanku disini.
“Lalu apa yang harus saya lakukan. Tolong dok, tolong sembuhkan anak saya ini. Dia anak saya satu-satunya,dok” rengek ayah. Ah…ayah lebay. Anakmu ini tidak gila ayah. Sayang, aku tidak mau banyak omong. Nanti, aku benar-benar di anggap gila.
Psikolog memberikanku obat . Tapi, Aku menolak untuk meminumnya. Sampai di siksapun aku tak mau. Aku tahu, obat itu obat penenang. Obat yang akan membuat aku tertidur. Obat yang akan membuatku lumpuh di alam mimpi, dan laki-laki pembunuh semakin bernafsu pada tubuhku. ih….jijik.
“Mita, liat matamu itu. sudah berkantung-kantung, hitam pula di sekelilingnya. Apa kamu mau terus-terusan tersiksa, sudah berapa lama kamu tidak tidur? Itu akan mengganggu fisik dan mentalmu. Kamu akan jadi pemarah, bicaramu ngelantur, kamu akan selalu berhalusinasi.” Mengehela nafas. “ Dan lebih yang parah lagi, kamu bisa menderita penyakit berat; jantung, tekanan darah tinggi, dan banyak lagi. Kamu mau? Tidakkan?” Tambah psikolog itu sok lemah lembut bak malaikat penolong. Percuma dok, aku tidak mau. Titik.


*******
Hari ketujuh.
Sudah satu pekan aku tidak tidur, tidak makan, tidak keluar rumah, tidak bicara pada orang, tidak semuanya. Hanya menatap kosong pada langit-langit kamar, meminum kopi, sof t drink, dan coklat untuk membuat mataku tetap terjaga. Ibu membawa makanan ke kamarku. Tapi sang makanan kembali ke pencucian masih utuh dan basi. Aku tidak mau makan, karena akan membuatku kekenyangan dan mengantuk. Setiap hari pula ayah ke kamar untuk menyuruhku mandi. Aku juga tidak mau. Aku takut si pembunuh itu melihat aku telanjang di kamar mandi. Tidak ada yang membuatku aman selain di kamar ini dan secangkir kopi.
Entah kenapa, di hari ini badanku terasa sangat lemah. Tenagaku sudah semakin berkurang karena tidak di tunjang oleh makan-makanan yang sehat selama di persembunyian ini. Lama-lama mataku terasa berat. Lebih berat dari biasanya. Mungkin sudah tak kuat lagi. Tanpa kusadari kepalaku perlahan-lahan bersandar di dinding kamar. Mataku sedikit demi sedikit terpejam. Sekejap aku masuk ke portal mimpi. Tidak boleh! Aku memaksa mata untuk terbuka. Astaga, senyum kematian di depan wajahku. Cicak itu di sini, aku histeris, reflek menerajangnya, hingga tersungkur.
Aku ngeri. Bulu romaku berdiri. Wajahnya sangat lapar. Air liurnya meleleh, dengan lidah yang siap menjilat tubuhku yang lemah, teramat lemah.
“Sudah saatnya sayang. Aku datang untuk menikmati tubuhmu.”
Aku segera melarikan diri darinya. Berteriak, meminta pertolongan. Namun sunyi yang kudapati. Orang-orang seperti di telan bumi, hanya si jahanam dan aku yang tertinggal. Tuhan, Kenapa begini? Bagaimana bisa dia muncul dalam dunia nyataku. Terpaksa, aku keluar dari sarangku selama ini, tempat yang aman dari terkamannya. Aku terus berteriak, di antara isak dan ketakutan. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia mencoba memelukku, aku terus menghindar. Aku berlari ke setiap ruangan. Namun ia tak berhenti mengejar. Kini, aku tak dapat berlari lagi, ketika kudapati diri ini tersudut di antara lemari peralatan makan.
Gelak tawa kemenangan menggelegar. Ia semakin garang untuk menikmatiku, sedangkan aku semakin pilu dan putus asa. Tubuhnya semakin merapat, kuku-kuku tajamnya mencengkram tubuhku, desah-desah nafasnya membuatku hilang akal. Aku menarik pisau yang tak jauh dari jangkauanku. Lalu menusukkannya tepat di dada,bertubi-tubi. Tak lama kemudian, darah segar membuncah, membanjiri tubuhku yang tergeletak.
“Kenapa kau lakukan ini, sayang?”
Aku tersenyum mendengarnya. Senyum penghinaan terakhir. Lebih baik aku membunuh diriku sendiri, daripada kehormatanku kau yang mengobok-oboknya.
“Sampai jumpa lagi, laki-laki busuk. Kau tidak akan mengusik malamku lagi. Aku dapat menikmati tidur panjang ini tanpamu.“Ucapku menghardik di antara nafas yang tersisa di kerongkongan.

Selesai

Dalam persembunyian
Mei 2011

Istilah
Hijab (islam) : Batas
delusi (psikologi) : keyakinan yang salah)
halusinasi (psi) : persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Oneirophobia (psi) : takut mimpi
Hiprokrit : Munafik

Tuesday, June 7, 2011

BERTANYALAH!

Mahadaya Senja

Tanyalah anak-anakku, jika tak mengerti
Kebingungan adalah jawaban pastinya
Acungkan tangan!
Agar nilai-nilai raportmu 7, 8, bahkan 9
Ketidak tahuanmu adalah prestasi

Tanyalah jika ingin jadi anak negeri yang baik
Yang menghargai pahlawan tanpa tanda jasa
Kengawuran adalah intelektual
Calon-calon cendikia yang menebar kehampaan
Membuat orang-orang bodoh tertinggal
Dan terkapar karna jawaban yang berputar-putar

(detik2 )

BIJAK DARI ORANG LAIN

(Fairuz El Fath)


Seorang teman bercerita padaku tentang perkelahiannya dengan sang kekasih. Padahal ia tahu kalau aku belum pernah berpacaran. Ia menangis-nangis di depanku, dan sebagai teman yang baik, aku mencoba memberikan saran kepadanya. Seorang teman sekelas, juga menghampiriku untuk mengeluhkan kondisinya di rumah kost yang tidak kondusif untuk belajar. Dalam hatiku berkata,asal kau tahu saja, aku juga punya masalah yang sama teman, tapi selalu kupendam masalah ini sendiri. Seorang teman karib juga datang menceritakan dukanya padaku tentang keluarganya yang akan bercerai. Ia malah berniat untuk bunuh diri, dan tentu saja aku melarangnya,menasehatinya.
“Huh, menasehati? Apa aku ini sudah sempurna? Apa aku layak menasehati orang lain? padahal diri ini baaaaaanyak (panjang ya. Begitulah aku mengekspresikan kesalahan yang benar-benar banyak) kekurangan.” batinku bertanya.
Akupun terkadang terkesiap, diam seorang diri mendapati kebingungan. Aku ini manusia biasa. Aku juga punya banyak masalah. Tapi mereka malah datang mengadukan masalahnya kepadaku. Begitu percayakah mareka padaku? Hingga mereka “curhat” bahkan meminta solusi dari seorang hamba Allah yang hina ini.
Bertahun-tahun pertanyaan itu mengawang-awang dalam pikiranku, tapi tak ada jawaban yang kudapati. Hingga sebuah jawaban kutemukan sendiri ketika aku menghadapi masalah yang sama dengan masalah orang-orang yang pernah bercerita padaku. Aku menjadi lebih bijak, tidak terkejut, bahkan stress menghadapinya. Karena apa? karena aku pernah belajar memposisikan diri, dulu, di saat masalah itu hanya menjadi sebuah persoalan yang sebatas omongan.
Seharusnya aku tidak mengeluh, dan menikmati pembelajaran tersirat Allah ini. Mari siapapun kita, jika orang-orang yang ada di dekat kita sering menjadikan kita tempat curahan hati mereka, berbahagialah! Karena ada banyak hikmah di dalamnya. Hikmah itu antara lain : pertama, kita di nilai sebagai orang yang amanah,tidak bermulut “ember” , menceritakan aib saudaranya pada orang lain (amin, semoga saja memang demikian), sehingga tidak sungkan untuk blak-blakkan pada kita. Saya dan anda harus mempertahankan itu!. Kedua, kita di nilai sebagai pendengar yang baik. Ada orang yang ketika di minta untuk menjadi pemberi solusi, malah bicara berlebihan, dan terkesan mengintimidasi orang yang sedang curhat. Berharap agar mengurangi beban pikiran, eh, malah bertambah ruwet karena komentar kita. Ketiga, Allah ingin mengajari kita untuk menjadi orang yang membuka mata hati, belajar sabar, tangguh, dan mawas diri ketika ada orang yang mencurahkan durjananya pada kita. Membuka mata hati untuk bicara bukan atas nama kesombongan (telah di percaya orang), tapi bicara atas nama Allah yang menyambungkan pengajarannya kepada manusia melalui perantara kita. Sabar dan tangguh ketika prahara itu merundung kita, setelah kita memberikan nasehat kepada orang lain. Kita akan menjadi lebih siap dan tak gentar menghadapi masalah itu, karena Kita pernah memberikan pilihan kepada orang lain untuk menyelesaikan masalah itu. Serta Mawas diri untuk semakin percaya bahwa tiada kekuatan, tiada sandaran yang lebih menentramkan hati selain Allah.
Manusia akan sedikit merasa lega ketika melepaskan beban pikirannnya, bertukaran pikiran kepada manusia lain. Tapi itu tak akan membuat hati lega dengan mutlak, karena Allah-lah yag memiliki ketentraman.
Bukan bermaksud sok bijak, hanya membuat refleksi untuk diri sendiri. Serta mengajak kita untuk menikmati hidup menjadi “ladang curhatan orang lain”. Berbahagialah menjadi bagian dari hikmah Allah. mari, layani mereka dengan ketulusan, agar Allah membalasnya dengan kebaikan. Amin.


Fairuz El Fath (sesobek Refleksi MS)
Ahad, 22 Mei 2011

Wednesday, April 27, 2011

PARA KAUM


Perbedaan adalah harga mati
Antara kaum tua dan kaum muda
Paksakan saja hati dan pikiran kolot
Berpadu dengan kebebasan
Sama seperti memaksa air dan minyak menyatu
Bila kebebasan itu menggaungkan diri untuk maju dan memimpin
Bersiaplah di lubang tembak
Meroyak mulutmu yang bersuara kebenaran
Jangan salahkan dia jikalau kau di cemooh
Syukur-syukur tak di injak-injak
Seperti kertas bekas bungkus terasi
Bukan menyalahkan kaum tua
Mentang-mentang aku ini si kaum muda
Tapi hanya sajaklah yang dapat kujadikan bahasa untuk bicara
Aku paham
Setiap zaman mengusung kepentingan golongan
Saling terajang
Siap adu kuat
Dia menang
Ajak saja kaum muda adu tanya
Kami tak gentar nyali tak akan lari
Tapi dogma-dogma lama, tak dapat di langgar
Penghormatan berujung pada kekecewaan dan penindasan
Dengarlah kaum tua
Guratan ini bicara
Melukiskan perdebatan keras sore kemarin antara kita
Yang memojokkan kami
Membunuh hak bicara kami
Hak-hak kami terampas
Kerja ini lebih-lebih TKI
Sedikit-sedikit salah
Cacian jadi makanan
Lalu kaum kalian meraup untung dari kelemahan kami
Sempallah mulutku dengan kebebasan yang sesungguhnya
Agar tipu muslihat dan kongkalikong kalian kuakhiri
Dan dunia tetap takzim pada kaummu