Java Script

Monday, September 10, 2018

KALAU SEKOLAH UNTUK .........

Awesome.
Manusia ini ajaib. Ketika orang bertanya kepadanya saat umurnya 8 tahun, "Kok jam segini main sih. Kamu tidak sekolah?"
Ia menatap dalam dan mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
Entah berapa banyak yang bertanya  serupa sehingga ia pun sudah tak bisa mengingat hitungannya.
"Kenapa harus sekolah, kalau saya sudah bisa membaca dan berhitung?" 
Ia mengulangi jawabannya kepada orang-orang sambil menyeruput kopi hangatnya.

KALAU SEKOLAH UNTUK PINTAR MEMBACA DAN TAK DIBODOHI ORANG

Aku pun tersenyum kecil. Segengam kekaguman tumbuh melihat kegigihan dan prinsip hidupnya.
Awal perkenalan yang tidak terduga, keakraban kami mulai lekat. Dari matanya yang penuh harapan walau terkungkung dengan fisik yang terbatas, aku melihat sisi unik dunia. Manusia yang makan bangku sekolahan belasan tahun ini, hanya bisa duduk dan manggut-manggut mendengar ia menceritakan banyak hal. Materi pelajaran yang pernah aku baca disekolahpun bisa ia jelaskan dengan baik. Makin membuat otak sekolahku tak ada apa-apanya.

KALAU SEKOLAH UNTUK PEKERJAAN

"Kalian kuliah ini untuk apa?" Tanya bapak dengan kepala setengah putih itu di depan kelas
" Menjadi lebih baik pak." Tukas satu anak di barisan depan
"Agar dapat pekerjaan yang lebih baik? Tidak ada yang mau jawab seperti itu?" Goda bapak tadi kepada mahasiswanya
Semua terdiam dan menyimpul senyum tanda tak menyangkal. Ya, dosen itu mungkin benar. Karena sejatinya mungkin dorongan banyak orang untuk mengenyam lebih tinggi adalah karena orientasi pekerjaan. 
Namun sekali lagi manusia ajaib ini mengajarkanku hal yang berbeda.
Tangannya mahir memainkan gunting, mesin jahit, mesin obras, dan semua yang berbau jahit menjahit. 
"Ikut kursus ya?" tanyaku penasaran
Lalu gelak tawanya pecah. Aku pun tertawa menyeringai. Tanda tanya besar tampak di wajah ini.
"Sekolah saja aku tak mau. Apalagi ikut kursus, Eceu." Tukasnya.
" Ini hasil dari didikan Almarhum Aa'. Ia sama denganku. Bahkan aku bersyukur lebih baik darinya. Tapi ia tak penah mengeluh. Semenjak Abah tiada, Aa' harus jadi tulang punggung keluarga. Akupun iba dan mencoba membantunya. Namun ternyata, lebih banyak bantuan yang ia berikan padaku. Dia pergi begitu cepat, sehingga tak sempat menitipkan apa-apa padaku. Hanya ini, mesin-mesin ini yang membuat kenangan bersamanya tetap semerbak. Hingga aku tetap bersemangat meneruskan hidup." Ia terdiam sejenak bak menahan sesuatu yang hendak jatuh
"Lihatlah sendiri, setiap hari orang-orang mencariku. Bahkan tak jarang, banyak pesanan yang aku tolak, takut tidak tepat waktu" Lanjutnya menyeruput lagi kopi dalam gelas kaca itu.

JADI HAKIKAT SEKOLAH UNTUK APA?

Untuk apa? Jika saat ini aku melihat banyak hal yang tak terpikirkan bahkan aku yakin akupun tak mampu melakukannya, tapi ia bisa. Untuk apa?  Jika saraf-saraf dikepalanya terus bekerja dan tanganya terus berkarya, lalu apa lagi yang dicemaskan. Jika pundi-pundi uang terus mengalir, apalagi yang membuatnya harus sibuk memikirkan cemoohan orang. Untuk apa? Jika hatinya lebih terbuka dan jiwa sosialnya mengalir dalam tutur dan prilakunya. Untuk apa? 

Manusia ajaib ini masih menyisakan tanya besar yang tampak di wajahku.Terus menggunung setiap kali mengunjunginya dan menyeruput kopi bersama. 


Malangbong, 9 September 2018



SALAH


Dalam gumam hati teramat riuh
Bertanya, mengeluh, menyesal, berjanji
Lalu mengulang lagi silaf yang serupa
Mencoba terus berbincang
Walau sesekali resah bergema
 Mempertanyakan apakah Kau menatapku atau bahkan mendelikpun tak ingin
 Kala aku berpikir dalam kelapangan dan mencintai dengan menggebu-gebu
Tepat itu pula Kau lebih tertarik pada ketulusan yang lain
 Namun dimasa mendekap pilu di sudut diri
Tersimpul jawaban bahwa Kau tak ingin lagi perduli
 Nyatanya aku salah
Malah Kau menatap dengan pancaran hangat dan penuh harapan.

 1 untuk 50 With FA SVJ, 9 Agustus 2018

Thursday, February 15, 2018

Cukup


Ketika aku mencari wajah kalian disaat gemuruh masih lekat di telinga, berita sekejap bak uap pemandian. Telah ku ajak hati untuk menyimpul prahara yang membasahkan luka. Pergilah! Biar aku sendiri yang merayu amarahku. SVJ 2018 #mahadayasenjapuisi

Tuesday, February 7, 2017

AKU BUTUH SENDIRI, MUNGKIN


Ini bukan aksi untuk mendapat perhatian.Entah sejak kapan kehilangan rasa percaya diri itu. Aku pun tak menyalahkan bila banyak yang berkomentar jelek bahkan ada yang mengutuk hal yang telah aku lakukan. Mereka punya hak untuk bicara apapun yang mereka mau, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi. Seperti yang dikata aming kepada awak media ketika diterpa gosip tidak mengenakkan setelah ia melangsung pernikahan, "Kami hanya punya dua tangan dan itu tak mampu menutupi mulut orang-orang yang bicara di luaran sana. Dengan dua tangan itu kami hanya bisa menutup kedua ketelinga kami agar kami dapat menjalani hidup selanjutnya." Soo, mungkin itu pula yang dapat aku lakukan. Spekulasi bermunculan di langit-langit Borneo. Semua berita yang sampai membuatku seperti di lempar tinggi ke angkasa dan sesak saat menghantam bumi. Ya... hidup ini bukan kertas yang bisa di tulis cerita2 bak sinetron, karena sekali lagi aku tidak mengada-ada. Mata dan mulut ini lelah untuk tegak berdiri, melempar senyum2 palsu, di kelilingi dengan mimpi2 manis yang membuatku perlahan terkapar di sudut kehidupan. Terima kasih untuk orang2 yang selalu ada hingga saat ini, meski pun orang yang mereka kenal tetiba berubah menjadi manusia asing. Percayalah, aku baik2 saja. Mungkin aku butuh sendiri. Setidaknya untuk masalah hati aku melepaskannya agar mereka yang berprahara tak bertanya2 atas kepergian ini. Maaf bila aku tak pamit, hayati lelah, mungkin butuh istirohat. Semoga saat aku kembali, entah kapan saatnya, aku tak berubah, aku tak berbalik mengutuk keadaan, karena semua yang aku pilih bukan atas kebencian pada seseorang. Semoga. Salam rindu

Tuesday, December 29, 2015

Rea

Ini mungkin terlihat lebay. Tapi, kalian tak tau betapa si kuda besi tersebuy begitu berjasa dalam hidupku. Saat itu, kelas IX Aliyah, sebuah motor dengan KB 2798 AZ diberikan kepadaku untuk dipakai sekolah. Motor ini luar biasa, ia mampu bertahan dalam keadaan tersulit, apalagi saat melewati jalan Siak saat perkemahan yang sangat hancur, berlumpur dan licin. Dipakai untuk mengangkut puluhan siswa di bawah guyuran hujan dan petir. Motor yang berjasa untuk transportasi turun naik jalanan Mandor saat KKL, motor yang tahan banting, meski yg memakai mengggunakannya untuk racing dijalanan atau melewati jalan yang parah/rusak. Terima Kasih.

RIP Berby

Setelah Omen pergi beserta anak2nya. Sekarang saatnya Berby. Hari itu tiga hari aku begitu sibuk dengan kegiatan kampus. Sesekali terbesit hasrat ingin duduk sekedar melihat keadaan hamster mungil ini. Tapi apa daya, saat aku hendak memberi makan, berby tidak berada dikandangnya lagi. Saat bertanya pada Nyai, panggilan khusus buat emak  tercinta ternyata, Berby sudah dikubur, dan saat ditemukan sudah membusuk.
Selamat istirahat Berby.

Thursday, December 24, 2015

Lapar

Udah lama sekali tidak ngisi ini blog. Syukur belum belumut atau di sarangi laba2. Hahha. Apa kabar "tulisan"? Takkah kau lihat banyak orang yang kau kenal kini telah menjajaki dunia menulis? Tidakkah kau lapar untuk ikut melahap kata2 alias berkarya? Sudah lama kau tidak makan sayang. Tidakkah semua karya mereka membuatmu kembali berselera? Ayolah. Jangan terlalu lama bersembunyi. Action action action. Nikmati dunia kata2mu. Beri manfaat lagi dan lagi. Good Luck Honey. Mwaaaaa :-)

Monday, April 6, 2015

Perbincangan Cangkir Kopi

Hari ini di hari kedua pemantapan lomba adk2. Mr marcell datang. Hr ini ia memberikan sesuatu yg lama aku rindukan. Pencerahan.
Dialah yg dulu mengjrkn byk hal. Meski hy sesaat tpi mr marcell dtg dn mmbgi byk pglmn.
"Semua yg kalian dpt di tmpt ini sdkt byk mngjrkn pglmn hidup, berorganisasi,mendidik, dsb."
"Teruslah bgun komunikasi"

Tuesday, March 31, 2015

Skripsi oh Skripsi

Skripsi oh skripsi kenape engkau belom jadi2?
Karena eh karena engkau tak buat aku.
Hadeh...

Monday, March 30, 2015

Ngentak My Heart

Ini istilah yg di cetuskan berby, teman seperjuanganku. Yah, ngeliat kelakuan ibunya Jaka buat aku kesal sampai ke ubun2. Di kasi solusi mlh pake solusi sendiri, nanti kalau bermasalah lah aku juga kan yg akan repot. Hadehhh.

#RIP

Mgkn inilah untk prtm kalinya sedih ditinggal mati Omen, si hamster peliharaan. Padahal tadi mlm Omen msh sempat bermanja ria di pangkuan. Selamat jln Omen. Muachhh...

Thursday, April 24, 2014

Surat yang Tak Akan Sampai


Apa kabar, wanita yang pernah berjanji untuk mengenal Islam? Sudahkah kau dalam mengenalnya atau kau masih terhalang dengan keyakinan keluargamu? Seringkali aku terbayang wajahmu.Sama saat tulisan ini dibuat. Pikiran yang terbayang pada penampilan cantik nan menawan, tertutup rapi dengan Jilbab dan kerudung yang perintahkan kepada para muslimah. Pasti banyak hati akan berdecak kagum. Aku sadar, aku bukanlah manusia yang sempurna, masih banyak kecacatan diri untuk mengajakmu mengenal agama yang suci ini. Tapi, semoga Allah selalu memberimu perlindungan. Sampai saat ini, aku masih terus belajar bersangka baik kepadamu, kepadanya, juga pada hal yang terjadi padaku. Sesuatu yang hilang dari diri ini, adalah pelajaran yang sederhana. Tapi dibalik itu, ada banyak pelajaran besar yang kudapatkan. Satu lagi yang ingin kusampaikan,tapi aku yakin kau tak akan mengetahuinya. Meski kita tidak akan pernah bertemu, tapi diselipan doaku, yang entah di dengar Allah atau tidak, karena dosa-dosa yang melumuti hati, aku akan berdoa pula untuk keselamatanmu.Vera.

Monday, April 21, 2014

Pengharapan di Sudut Khatulistiwa


“EH, Cu Maryam. Masoklah, Cu.” “Tak usa, di sinik jak. Na ade tambol1 untok buke, bawak la masok. Sekalian panggelkan Mak kau ye Din, Cu Maryam nak ngomong same Mak.” “Iye Cu, bentar log ye. Udin panggelkan. Makaseh ni Cu buat tambolnye,” Anak kecil itu membawa masuk sebuah engkat-engkat yang berisi ubi guyuk pemberian tetangganya. Ubi guyuk adalah kue yang acapkali dijadikan menu berbuka puasa bagi orang-orang di kampung Sungai Parang, Desa Punggur Kecil. Sama halnya dengan saling berbagi ta’jil, sudah menjadi tradisi di sana saat bulan Ramadhan. Udin memindahkan kue ke dalam piring dan menyiapkan sajian untuk berbuka puasa. Sungguh, anak laki-laki yang baik. Ya, semenjak tiga tahun lalu, Udin dan ibunya yang hamil ditinggal sang ayah pergi bersama perempuan kaya anak bos Aloe Vera tempatnya bekerja. Kini, Udin menjadi satu-satunya penjaga sang ibu dan adik kecilnya, Jenab. Meski mudah, tapi bagi anak berumur sepuluh tahun ini, memindahkan kue dengan tangan sebelah kiri yang kurang sempurna, merupakan perkara yang perlu kesabaran. Walau begitu, Udin tak pernah gentar pada kekurangan diri. Tangan kecilnya menjadi bukti bahwa ia adalah seorang pekerja keras. Bila ada panggilan untuk nyuwik2 kelapa, Udin akan pergi ke langkau3 bersama laki-laki dewasa untuk mengambil upahan. Udin sudah terbiasa dengan baji tajam yang setiap detik mengintai kehidupan. Salah sedikit saja ia meletakkan posisi kelapa di ujung baji, atau kehilangan keseimbangan saat menekan kelapa agar kulitnya terkelupas, nyawa Udin jadi taruhannya. Sungguh tak sebanding dengan bayaran yang diterima bila itu benar-benar terjadi. Seribu kelapa yang dikupas akan dihargai Rp.80.000. Sama saja artinya Rp. 80 untuk satu buah kelapa. Sepagian kerja Udin hanya mampu mengupas paling banyak seratus buah kelapa. Tak sampai sepuluh ribu, uang yang bisa Udin berikan pada ibunya. Sebenarnya Ibu Udin tak tega melihat anaknya yang semestinya menikmati masa-masa bermain dan belajar, malah harus bekerja layaknya orang dewasa. Ibu Udin juga menerima semua upahan yang ditawarkan. Memetik kopi, ngetam4, nyungkel5 kelapa, bahkan upahan manjat pun mungkin juga akan ia terima jika diperbolehkan untuk kaum hawa. Menurutnya, meski uang bukan segalanya, tapi di zaman sekarang ini segala-segalanya butuh uang. Itulah yang ada dalam benak Ibu Udin. Ia ingin mengumpulkan uang yang banyak, semata-mata untuk memberikan kebahagian kepada kedua buah hatinya. Niat itu pun semakin menggebu, apalagi setelah melihat beberapa orang kampung yang pulang membawa banyak uang hasil bekerja di luar negeri. Tiba-tiba ucapan Maryam tempo hari kembali mengusik pikirannya. “Kau piker lah dolok masak-masak. Tige hari lepas lebar aku tunggu jawabannye.” Ah, sungguh memusingkan kepala. Sama pusingnya dengan memutar otak cari uang jika beras dalam pedaring kosong. Gula, garam, micin dan tabung gas pun hampir habis. Perkara ini tak bisa dipecahkan seorang diri. Segera Ibu Udin meminta masukan pada bibinya, Wak Saripah. “Mak Su sih teserah ape kate kau. Udah kau pikerkan macam mane naseb Udin dan Jenab?” “Udah Mak Su. Tapi, Mak Su dukung kan niat Mila ni?” “Pasti. Pasti Mak Su dukung ape yang tebaek buat kau dan anak-anak kau. Mak Su pesan, kalok emang niat kau udah bulat, ngomong baek-baek same Udin. Kau kan tau sorang, macam mane sifat budak itu.” Ibu Udin hanya menjawab dengan helaan panjang. Pikirannya sudah mengawan-awan membayangkan reaksi Udin saat mendengar rencananya. “Hmmmh.. ini untuk kebaekan anak aku gag.” batinnya menguatkan. *** Sudah kadung mengusik pikiran, Ibu Udin mulai membuka omongan pada anaknya selepas pulang shalat tarawih. “Din, Mak buat Ubi guyuk na. Sinik la. Kite makan same-same. Tengok adek ni, lahap die makannye.” Udin bersila di depan Ibunya. Ubi yang ditumis ini adalah makanan yang paling Udin sukai. Maka tak heran jika mulutnya laju mengunyah potongan-potongan ubi guyuk. “Din, seminggu lepas lebaran, Mak akan ikot Cu Maryam ke Sarawak, kerje jadi tukang masak.” “Berape lama, Mak?” tanya Udin dengan mulut masih penuh Ubi. “Paling lamak setaon. Nantik, kalok duetnye dah tekumpol, Mak akan balek. Teros Mak akan buat rumah makan di Kote Baru” Mulut Udin berhenti mengunyah. Serta merta gairah makannya hilang. “Udin tak setuju.” “Ape alasannye tak setuju, Din?” “Mak, Dek Jenab ni maseh kecik. Kalau Mak pegi, siape yang rawat die? Lagi pon, jadi TKW tu tadak enak, Mak. Udin tengok di tipi ade TKW yang mukenye rosak kena siram aek keras. Bahkan ade yang mati di sikse majikannye.” “Jadi Udin maok Mak mati di sanak?” suara Ibu Udin agak meninggi. “Bukan gitu Mak maksod Udin.” “Din, Mak pengen benar nengok Udin dan Jenab ni jadi orang begune. Cobe tengok anak-anak Wak Tijot, ade yang jadi guru, bidan, yang jadi polisi pon ade. Anak Pak Long Wahab jadi tentara. Anak Maknga Lema jadi penggawe5. Mak maok gag anak Mak macam gituk. Anak Mak bise sekola tinggi-tinggi. Tadak la macam Mak ni, bodo, tak tau ape-ape. Kalau Mak beduet, Mak maok masokkan Udin jadi polisi. Dan Jenab jadi perawat, supaye die yang ngerawat Mak kalok Mak udah tue. Kalok pon Mak mati, Mak dah tenang, Din. Ninggalkan kitak beduak yang udah berhasel jadi orang” Ibu Udin lalu membisu. Kini air matanya saja yang bicara tanpa henti. Udin pun tertunduk dalam. Lama-lama bahunya turun naik seiring terdengar suara sesegukan. Semakin kuat, sehingga pecah tangisan tak mampu Udin tahan. “Kalau seandainye Mak…” Tangis Jenab juga ikut meramaikan suasana yang mengharu biru itu. Bukan karena ia turut sedih, tapi anak kecil berumur tiga tahun tersebut bingung melihat ibu dan abangnya menangis. Ia pun ikut menangis supaya kompakan. “Udah Udin, Mak nak tidok kan Jenab log. Abeskan ubi tu.” Udin tak pernah bisa menahan tangis setiap kali teringat kalimat terakhir yang keluar dari mulut ibunya. Kematian. Perkara yang selalu membuat Udin takut akan perpisahan dengan ibu yang sangat ia cintai. Begitu juga dengan perpisahan yang sebentar ini. Kata “Ya” telah meluncur dari mulut Ibu Udin kepada Cu Maryam di malam yang telah disepakati. Udin yang mendengar dari balik triplek kamarnya, hanya bisa menutupi wajahnya yang basah karena air mata dengan bantal. Masa bodoh dengan julukan anak cengeng. Beban berat untuk menjaga Jenab akan bertumpu dipundak kecilnya. Meski ada Nek Su Saripah yang akan menjaga Jenab jika Udin bekerja, tapi pasti tak akan sama rasanya jika sang ibu tetap bersama mereka. Memberi makan dan merawat tidaklah seberapa. Tapi memberikan jawaban saat adiknya bertanya tentang keberadaan sang ibu, itulah yang sangat mengganggu pikiran. Harinya tiba. Hari yang memberikan senyuman lebar kepada mereka yang punya mimpi besar untuk diwujudkan. Tapi tidak dengan Ibu Udin. Tak ada lambaian anak-anak tersayang mengiringi kepergiannya. Udin memutuskan untuk tetap di rumah, agar Jenab tak menangis saat melihat ibunya pergi. Tak lama kemudian, mobil avanza putih sudah datang untuk menjemput Ibu Udin dan lima perempuan kampung lainnya. Mereka akan pergi berkilo-kilo meter jauhnya. Meninggalkan khatulistiwa. Mendekati gerbang pengharapan yang masih belum tentu sama dengan janji manis agen penyalur. *** “Tolong sampaikan rindu aku dengan Jenab same Mak ye! Bilangkan, bentar agik dah nak masok lebaran ke tige, cepat balek! Sebelom puase abes, aku pengen benar makan ubi guyuk buatan Mak yang enak tu. Lamak dah aku tak makannye. Dah, pegila cepat.” tukas Udin pada yang mendesau. Udin tertawa geli mendengar pesan yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian ia malah sesegukan dengan lutut kaki dan tangan yang menopang kepalanya yang tertunduk. Dengan suara yang parau ia berbicara sendiri. Meneruskan pertanyaan yang terputus tiga tahun lalu. “Kalau seandainye Mak tak ade balek, ape yang harus Udin dan Jenab buat, Mak?” Entahlah. Pontianak, 19 Februari 2014 Catatan 1. Tambol (melayu) : Kue atau makanan 2. Nyuwik (bugis) : mengupas 3. Langkau (melayu) : tempat mengelola kelapa 4. Ngetam (melayu) : memanen padi 5. Nyungkel kelapa (melayu) : mengeluarkan isi kelapa dari batoknya 6. Penggawe (melayu) : lurah

Thursday, April 3, 2014

Kontemplasi


1. SEMUA ORANG DALAM HITUNGAN DETIK TELAH BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK. KOK KAMU MALAH SEBALIKNYA??? 2. ALLAH TELAH TUNJUKKAN JALAN YANG BENAR, KOK KAMU MALAH MELENCENG BAHKAN MEMUTAR BALIKKAN KEMUDI KE JALAN YANG DIMURKAI? 3. DALAM SHALAT KAMU NANGIS BEGITU HEBAT MENGGUNCANG PERASAAN. TAPI BESOK MAKSIAT LAGI, MAKSIAT LAGI. CAPEK DEH. "AIR MATA BUAYA" 4. NGAKUNYA PENGEMBAN DAKWAH, TAPI KELAKUANNYA MASIH BEJAT. IDIH.. 5. ADANYA KAMU DALAM JAMAAH BUKAN BUAT JALANNYA SEMAKIN LAJU, MALAH JADI BEBAN BAHKAN MEMBUAT PERTOLONGAN ALLAH JADI JAUH! 6. DI YAUMUL HISAB NANTI KALAU DITUJUKIN SEMUA KEDUSATAAN, MAU JAWAB APA? APA GAK MALU SAMA KONTAKAN,SAMA TEMAN2 DIJAMAAH,SAMA YANG DISERU, DAN PASTINYA SAMA ALLAH? "MUNAFIK" 7. PERLU DI JEDOTIN KE BATU NISAN KALI TU KEPALA BIAR MIKIR. 8. JILBABAN TAPI..YA GITU DEH KELAKUANNYA. 9."INNA SHALATI WA NUSUKI WA MAHYAYA WA MAMATI LILLAHI RABBIL 'ALAMIN." CUMA JADI TEMPELAN DI DINDING KAMAR, BIAR ORANG LAIN NGIRA WAH NI ORANG SHALEH BANGET YA NEMPEL GINIAN DIKAMARNYA. 10. NGAKUNYA RINDU SYURGA, TAPI KELAKUAN AHLI NERAKA.

Monday, April 29, 2013

Mengapa Saya Harus Menulis?

Sabtu, 10 Maret 2012 MENGAPA SAYA HARUS MENULIS? Ada banyak alasan mengapa saya pribadi harus menulis. Antara lain: 1. Terinspirasi dari dua kata bijak, yaitu : “Jika kau menyadari hidup ini singkat, maka perpanjanglah dengan menulis”. Kemudian “Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian.” (Putu Wijaya) Anda kenal Aristoteles? Plato? Ibu Shina? Al ghazali? Kartini? Umur biologis mereka hanya mentok sampai mereka meninggal. Tapi lihatlah, sampai saat ini kita masih mengenal mereka karena karya yang pernah mereka buat. Ini bukti bahwa umur karya dapat melebihi umur biologis. 2. Sebagai rekam jejak hal-hal yang pernah terjadi Kita tidak bisa mengingat semua peristiwa yang pernah dilihat, didengar, dan dialami. Menulis adalah salah satu cara untuk menyimpul kenangan itu, sehingga suatu hari kita dapat bernostalgia ketika membaca kembali apa yang pernah kita tulis. 3. Ruang berbagi rasa Tipikal orang yang sulit untuk menuangkan perasaannya dengan lisan, dapat menjadikan tulisan sebagai media untuk menyampaikan kegembiraan, kekecewaan, dan kemarahan dirinya, agar orang lain mengerti apa yang ia rasakan. Selain itu tulisan dapat pula dijadikan media untuk mengkritik dan memberi saran terhadap orang lain. 4. Wadah untuk berprestasi 5. Menambah teman / dikenal orang 6. Media dakwah 7. Ladang penghasilan Bagaimana dengan anda? CPCP (Cui, Perdalam tentang Cerita Pendek) YUK!!! Apa itu cerita pendek? Cerita Pendek adalah cerita yang pendek tetapi menyelesaikan semua persoalan secara tuntas dan utuh, sesuai dengan tema yang disuguhkan oleh pengarang. Ada juga yang mengatakan Cerita Pendek adalah cerita yang habis dibaca sekali duduk. Secara umum cerita pendek (cerpen) ditulis minimal 750-10.000 kata. Cerpen yang di tulis berkisar 750 kata disebut cerita mini/flash, 2.000-5.000 kata cerpen yang sesungguhnya (ideal), dan cerpen yang ditulis 10.000 digolongkan cerita panjang, yang dapat di kembangkan menjadi novelette (novel pendek). Cerpen memiliki unsur antara lain: alur (plot), sudut pandang, tokoh/pelaku, dialog, setting, konflik dan mood (suasana hati/atmosfir). TIPS MUDAH MENULIS CERPEN 1. Tulislah apa yang kamu rasa, jangan pikir apa yang kamu rasa. (Pay JS) Ketika ide cerita telah didapat, buatlah garis besar dari cerita yang akan dibuat. Ini membantu kita agar tulisan tidak lari dari tema awal. Tapi jika kita sudah mulai terbiasa, biarkan ide terus mengalir. Hal fatal yang sering kita lakukan adalah mengedit tulisan disaat itu juga (saat menulis). Jangan lakukan itu! Terus saja menulis. Ada saatnya nanti, ketika cerpen telah selesai. Jika sudah, silahkan coret kata-kata yang tidak sesuai dan tambahkan kata yang menurut anda perlu. 2. Cerpen yang baik harus dimulai dengan kata pembuka (prolog) yang menarik. Buat penggambaran cerita yang dapat membuat pembaca penasaran untuk membaca cerpen anda lebih jauh. Kemudian isi klimaks / puncak masalah, dan anti klimaks/ penutup. 3. Tips membuat judul. Pemilihan judul yang tepat akan berpengaruh pada minat pembaca pada tulisan kita. Jangan buat judul yang panjang-panjang, karena akan terkesan bertele-tele. Panjang judul yang ideal adalah 1-5 kata. 4. Kreatiflah dalam menggambarkan isi cerita. Bandingkan! Ratna takut dimarahi orang tuanya jika ia menyampaikan hal ini. Ia ingin sekali, tapi ia tidak berani. Lalu Ratna duduk di dekat orang tuanya, tapi ia hanya bisa diam. Bismillah… Perlahan tapi pasti. Ia tetap melangkah meski hatinya bak genderang perang. Semua berkumpul di ruang tamu. Ratna segera menghampiri dan duduk di dekat kedua orang tuanya. Walaupun ia tak yakin dengan hal ini, mundur atau terus maju, hatinya bergejolak. Lama ia diam, hinga ayah yang mulai angkat bicara. 5. Mencoba SAYA PERNAH ALAMI INI. MUNGKIN KAMU JUGA. 1. Ide mentok Banyak-banyaklah membaca. Tidak hanya membaca buku, tapi juga membaca keadaan sekitar. Ketika mendapat ide saat melihat atau merasakan sesuatu, cepat tuliskan itu dalam buku harian/catatan kecil. Jangan biarkan ide itu hilang. Suatu saat ide tersebut, insya Allah akan berguna. 2. Sulit memulai Buat perasaan hati anda sesuai dengan apa yang ingin anda tulis. Tempat menulis yang nyaman akan membantu anda untuk mendalami isi cerita. Contoh, jika anda ingin menulis tentang sungai kapuas, anda bisa memajang gambar sungai kapuas beserta kehidupan masyarakat di sana di depan tempat anda menulis. Bawa perasaan anda kedalamnya, seakan-akan anda menulis ditempat itu. 3. Kehilangan arah Itulah pentingnya garis besar cerita. 4. Malas mencari data Cerpen tidak akan bagus, jika isinya ngalur ngidul. Seimbangkan antara imajinasi dan data, maka insya Allah cerpen kita akan bagus. 5. Sulit membangun konflik dan ketegangan Masalah lebih dominan terjadi pada si tokoh. Maka hadapkanlah tokoh pada satu atau dua masalah yang harus ia selesaikan. Ingat! Jangan terlalu banyak masalah, karena ruang cerpen tidak seperti novel, padat dan ketat. 6. Tidak bisa mengakhiri tulisan Penentuan tokoh dan plot yang jelas, tentu akan membuat anda tahu kapan harus mengakhiri. Selamat mencoba, dan jangan terlalu percaya menulis adalah bakat. Helda (Mahadaya Senja). Hp. 087818158727, Fb : Mahadaya Senja, Blog : author-mahadayasenja.blogspot.com

Monday, September 10, 2012

Babak


Satu babak dalam rasa yang bergumul Ia menjadi cerita yang penuh letupan Mengalirkan derita dan suka dengan hentakan yang terkadang gila Bukan pada yang memegang pena Tapi pada otaknya yang beku Beku yang merantai mata batin Satu babak lagi harus segera dilampaui Menebak apa yang akan dihadiahkan masa pada harapan Mimpi yang terbang bebas Atau sekedar hasrat yang berbalik pada kekangan ambisi Tapi otaknya masih beku Beku yang merantai mata batin Hidup yang nyatalah melingkari semua babak Tak perlu rekayasa manusia Aliran delima yang membuat kejutan Diliputi tawa pada saat yang tak kau duga. Batam, 2012

Sunday, July 1, 2012

Belajar Arti Hari Kelulusan


“Biarkanlah mereka bersenang-senang hari ini (dihari kelulusan). Biarkanlah mereka jadi penguasa jalanan sehari. Bebaskan mereka berkomvoi. Karena setelah hari ini, mereka pasti akan serius. Serius memikirkan kampus mana yang mau meloloskannya. Mencari dimana tempat kerja yang mau menerima. Syukur-syukur jika nilainya bagus. Kalau jelek ??? Melamar wanita saja!” Sabtukemarin (26/5), hari yang ditunggu bagi siswa/i kelas XII Kota Pontianak. Pasalnya hari ini mereka akan menerima hasil belajar selama tiga tahun di Sekolah Menengah Atas. Walaupun ada ganjalan di hati, tidak adil rasanya bila hasil belajar tiga tahun hanya ditentukan oleh nilai yang diperoleh selama beberapa hari dalam Ujian Nasional. Tapi namanya juga hidup bernegara, yah harus patuh dengan peraturan yang ada dinegeri ini, selama peraturan itu sesuai dengan kaidah berbangsa dan beragama. Bila siswa ditanya tentang cara menyikapi hari kelulusan, pasti mereka akan menjawab dengan jawaban yang beragam. Makan-makan, adakan selamatan, langsung sujud syukur, puasa, sedekah, liburan, dan masih banyak lagi. Ada pula yang biasa-biasa saja menyikapinya, dan ada pula yang dengan berkomvoi bersama siswa/i lainya yang lulus. Baju mereka kebanyakan sengaja dicoret-coret dan ditanda tangan. “Buat kenang-kenangan”begitu pendapat sebagian siswa dan juga sebagai bukti bahwa, “Aku ni lulus,loh”. Lalu mereka beramai-ramai komvoi dijalanan. Hal yang sangat disayangkan adalah aksi mereka yang seringkalimengundang bahaya buat dirinya sendiri bahkan membahayakan orang lain. Saya pernah terjebak diantara segerombolan siswa yang sedang konvoi di daerah Ambawang. Mereka semua berkumpul ditempat yang sepi lalu lalang kendaraan. Ketika sudah saatnya bergerak, mereka mengikuti satu perintah dari orang yang berada dibarisan paling depan. Mereka bergerak menuju arah A. Yani. Saya tepat berada ditengah mereka dan tidak bisa kemana-kemana. Sesekali mereka yang membawa bendera putih yang sudah dicoret-coret berdiri diatas jok motor sambil mengayun-ayunkan bendera yang dipegangnya. Selain itu ada pula yang berdiri diatas jok motor sambil membuka baju seragamnya lalu memutar-mutar baju itu di atas kepala. Saya hanya bisa geleng-geleng dan istighfar. Sayamengertibagaimanaperasaanmereka, karena saya pernah menjadianak SMA juga. Saya melihat pula teman-teman saya yang berbuat seperti itu. Namun dari hati saya terbesit pertanyaan, apakah mereka tidak peka terhadap perasaan teman mereka yang tidak lulus? Mereka bisa saja bergembira, tapi apakah yang tidak lulus itu bisa? Meski banyak yang memberi semangat, tapi rasa kecewa dan sedih mereka tidak mudah terobati. Kini, setelah beberapa kali melihat realita serupa, saya memiliki pandangan yang lain terhadap mereka yang “berlebihan” merayakan kelulusannya. Hari ini ( baca : dihari kelulusan) mereka bisa tertawa, bersorak, dan berpesta. Biarkan saja.Berikan mereka kesempatan untuk berbahagia. Karena keesokan harinya, tembok besar akan kembali menghadang mereka. Kekhawatiran mereka menentukanarahselanjutnya, akan bekerja, lanjut kuliah, menikah, atau menganggur akan datang menghampiri. Pesta mereka saat hari kelulusan, hanya tinggal kenangan. Sekarang, saatnya kembali berjuang.

Monday, April 30, 2012

BUKAN MENERTAWAKAN, TAPI TERTAWA BERSAMA

Suatu hari ketika saya dan teman-teman sedang diskusi, salah seorang diantara kami berdiri dan mengemukakan pendapat. Namun ditengah ia berbicara, semua tertawa terbahak-bahak. Pasalnya apa yang ia jelaskan bisa dibilang melenceng atau tidak nyambung dengan penjelasannya diawal pembicaraan. Kelas saya waktu itu benar-benar riuh. Sebagian dari teman sekelas menertawakannya. Bahkan ada teman disebelah tempat duduk saya yang sangat besar tertawanya. Ia tertawa terpingkal-pingkal tidak berhenti. Sayapun melihat dosen saya itu yang ikut tertawa, meski haya tertawa kecil. Lalu ditengah keriuhan itu, dosen itu memberikan isyarat untuk bicara. Lalu kami mencoba untuk “mengerem” tertawa kami. Ibu dosen itu lalu berbicara : “Oke, kalian mesti tau ya. Sekarang kita tertawa bersama si A, bukan menertawakan dia.” Setelah dosen itu berhenti menyelesaikan ucapannya, satu-satu dari kami mulai berhenti untuk tertawa dan mulai menguasai diri lagi. Si A yang menjadi central pembicaraan hanya tersipu malu. Dosen itu paham apa yang dirasakan mahasiswa. Maklum, dosen ini adalah psikolog. Dari pernyataan ibu tadi, kita bisa ambil pelajaran didalamnya. Saat kita menertawakan kesalahan orang lain, ingatlah bahwa kita bukan menertawakan kesalahannya. Bila hal itu sudah bisa kita pahami, maka kita dapat mengontrol tertawa kita. “Bagaimana jika kita di posisi orang yang ditertawakan ?” pasti sakit. Jadi wajar jika dosen saya tadi menasehati demikian. Semoga di kemudian hari tertawa kita bukan lagi untuk menjatuhkan, tapi untuk sama-sama belajar, belajar berani dan menghargai. Pontianak, 1 Mei 2012 MC