Java Script

Monday, November 28, 2011

STORY : JIKA DI BELAKANGMU ADA HANTU



Malam sudah sangat larut. Sepuluh badan yang begitu lelah, tergolek dan bergelimpangan di dalam tenda. Ah... mata ini rasa tak mau di buka sampai besok pagi. Karena pasti besok kegiatan akan lebih padat dari pada hari ini.
Badan Banti di guncang-guncang oleh seseorang di luar tenda. “Dek,bangun! Ikuti saya! temanmu yang lain jangan sampai bangun. Cepat!!!” suara itu terdengar berbisik . Banti yang ngantukpun mengikuti perintah. Setelah berjalan mengikuti sosok itu, ia berdiri tegap di depan beberapa orang yang wajahnya terlihat samar-samar karena tidak ada cahaya lampu di sekitarnya.
Ser... desir darah semakin membuat gugup. “Apa yang akan di lakukan sosok-sosok di depanku ini? “ tanya hati Banti
Seseorang dari mereka berbicara. Meski tanpa cahaya, tapi sosoknya masih dapat terlihat. Rambut laki-laki itu gondrong , penampilannya sangar , dan dia juga memegang rokok, waduh....seram.
“Kamu (sambil menunjuk ke arah Banti) , mendapat tugas untuk mengerjakan soal di kelas VII F. Di sana sudah di siapkan lilin dan korek api. Silahkan jawab pertanyaannya di kertas yang ada di sebelah lilin. jangan tulis nama. Setelah selesai silahkan kembali kemari untuk laporan. Paham?
“Siap paham” suaranya tegas
Singkat cerita,
Banti sampai di tempat yang di perintahkan. Sekelilingnya gelap, ruang yang sesekali terdengar suara-suara yang menegakkan bulu kuduk. Kaki terasa berat untuk di gerakkan, pikiran paranoid muncul, apalagi kelas itu terkenal angker, dan banyak cerita-cerita seram tentang kelas itu. Hummm....tapi perintah harus di laksanakan, apapun keadaannya. Setelah lilin di hidupkan , terlihat tulisan di papan tulis yang berbentuk sandi morse ( salah satu sandi dalam pramuka yang terdiri atas garis dan titik untuk mewakili sebuah huruf atau angka) yang isinya seperti ini:
.---/../-.-/.-//-../..//-..././.-../.-/-.-/.-/-./--./--/.--//.-/-../.-//..../.-/-./-/.--//
apa yang kamu lakukan?
***
Satu-satu morse itu ia artikan. kata pertama J-i-k-a, jika. Kata kedua sekarang. D-I-B-E-L-A-K-A-N-G-M-U, di baca di belakangmu. Emmm....buluk kuduk langsung berdiri tegap tanpa aba-aba. Perasaan tak enak mulai merasukinya. Memasuki kata ketiga,tambah kuat tangannya gemetaran dan nafasnya semakin tak terkendali. a-d-a, ada. Kata ke empat, h-a-....., pasti hantu, tebaknya. Tidak salah lagi. Walaupun tidak di artikan, ia sudah menduganya dari awal. Segera ia menyelesaikan tugasnya, di temani bangku-bangku, ruang yang kosong dan gelap, serta suara-suara mengerikan dari sudut kelas.
Ternyata bukan hanya Banti yang dapat tugas seperti itu, tapi juga teman satu regunya yang lain. Setelah semua menyelesaikan tugas, pembina menyuruh mereka berbaris di halaman badminton. Dag...dig...dug....jeder. rasa ngantuk yang amat sangat di tindih oleh rasa takut dan berdebar. Walaupun sudah sering ikut kegiatan jurit malam, akan tetapi tiap moment pasti akan memiliki rasa takut tersendiri.
“Mana jawaban kamu?” tanya satu pembina kepada Banti
“Siap, di papan tulis” jawabnya gelagapan
“Siapa yang suruh nulis di papan? Hah?!!! “ teriak pembina itu sambil menghentak tanah menakutinya. “Ser....” serasa mati daya. Banti tak punya jawaban. “Sekarang kamu ambil jawabanmu yang ada di papan tulis dan bawa kemari! Saya hitung sampai sepuluh. Sepuluh...sembilan....” teriak sang pembina.
Si Banti langsung kocar – kacir lari ke tempat menakutkan tadi. Tapi kali ini, ia lebih berani, karena teriakan pembina yang menghitung mundur menemaninya dalam gelap. Apa yang di lakukan Banti di kelas itu? Lalu bagaimana ia mengambil jawabannya di papan tulis?
Menakjubkan. Banti mampu menyelesaikan tugas keduanya dengan berbekal kepolosan. Setelah hitungan satu, iapun sudah kembali ke halaman. Lalu pembinanya bertanya lagi, “ Mana jawabannya?” lalu ia berkata, “siap” kemudian memperlihatkan debu-debu kapur kepada sang pembina. Debu-debu itu merupakan jawabannya di papan tulis yang ia hapus dan debunya ia bawa ke hadapan sang pembina. Benar gak sih, tu? Hahahaha. Ade2 jak.


inspirasi: Regu Matahari

Friday, June 17, 2011

PESANTREN IMPIAN

Titik Balik Masa Lalu yang Suram
resensi oleh Mahadaya Senja


Judul Buku : Pesantren Impian
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : PT Syaamil Cipta Media, Bandung
Tahun terbit : 2004 (cetakan ke 6)
Halaman : vi + 190

Pesantren impian, pasti di dalam benak akan tergambar suasana bak “mimpi”. Yah, memang bagai mimpi, bagi 15 wanita dengan latar belakang kejahatan yang berbeda, serta belasan laki-laki lain yang memiliki riwayat kejahatan masing-masing. Pesantren Impian, adalah sebuah tempat rehabilitasi, tempat mencari arti hidup, dan ketenangan yang sengaja di buat oleh Tengku Budiman, yang tak lain mengganti namanya sebagai Umar seorang pengacara, dan sosok Tengku Budiman di gambarkan dengan laki-laki tua rekannya yang kaya raya, anti publikasi, serta berwibawa. Umar alias Tengku Budiman menyebut proyek pembangunan pesantren ini sebagai “Penebusan Dosa”, atas kejahatan yang pernah ia lakukan, kekayaan haram yang akhirnya merenggut keluarganya akibat kebakaran.
Pesantren ini akan mengkader santri dan santriwati dan akan di bina selama satu tahun. Siapakah mereka? mereka adalah pencandu narkoba, Bandar, bahkan pembunuh, serta mereka yang memiliki masalah dengan masa lalu. Terkisahlah lima belas santriwati yang menyetujui undagan Pesantren Impian untuk di bina selama setahun. Sissy, Inong, Rini, Tanti, Ipung, Sri, Butet, Eni, Sinta, Santi,Ita, Yanti, Evi, Iin dan Ina. Mereka akan hidup bersama dalam Pesantren Impian, menerima Pembina agama dan keterampilan, meninggalkan, bahkan melupakan kejadian masa lalu mereka yang kelam.
Novel ini terdiri dari dua puluh dua bab. Setiap bab memiliki daya tarik tersendiri. Bagi saya, dari kedua puluh dua bab itu, ada lima bab yang menarik. Bab itu antara lain, Bab 1 (4 lembar). menceritakan tentang pembunuhan yang di lakukan seorang gadis di hotel Tiara, Medan. Lalu kemudian Gadis itu melarikan diri ke Pesantren Impian bersama empat belas santriwatiwati lainnya. Siapakah dia?
Apakah di Pesantren ini ia juga akan membunuh?
Bab 12. Menceritakan tentang kematian Yanti. Lihat, pembunuhan terjadi, dan pertama kali selama pesantren ini di bangun. Apakah si gadis pembunuh di antara mereka yang membunuh Yanti? Gadis yang memakai bantalan mirip orang hamil, sebagai bentuk solider pada Rini teman sekamarnya yang datang ke Pesantren ini membawa perut berisi janin karena di perkosa.
Lalu di bab 16, di akhir bab ini, penulis memunculkan klimaks berupa pembunuhan terhadap Butet, santriwati yang membawa putauw seberat 2 kg ke dalam Pesantren. Syukurnya, Butet dapat di selamatkan oleh Eni, polwan yang menyamar sebagai santriwati. Alasan Eni kemari sebenarnya untuk melacak keberadaan siapa di antara mereka , si gadis pembunuh.
Bab 17. Dalam babak ini Rini mengetahui bahwa yang telah memperkosanya adalah Mas Bagus, anak emban di rumahnya. Batin Rini begitu terluka, karena orang yang ia anggap sopan, baik, dan berpendidikan tega merenggut kehormatannya. Tapi yang lebih mengejutkan, Rini mendapati Bagus di Pesantren itu, Pesantren yang jauh dari media. Luka batin yang di rasakannya, tak sanggup meluluskan permintaan Bagus yang berkali-kali ingin menjelaskan kejadian sebenarnya.
Bab 18. Ini bab yang paling Klimaks, akan ada pembunuhan yang ketiga kalinya. Ketika Umar mengajak santri dan santriwati keluar melihat salah satu perkebunan Tengku sekaligus dalam rangka perpisahan karena masa pembinaan hampir usai. Ketika tengah menikmati segarnya alam perkebunan, tiba-tiba Bagus datang di hadapan Rini. Tentu Saja Rini Shock, dan berlari ketakutan ke arah hutan. Bagus dan si gadis mengejar Rini ke hutan. Tak lama kemudian, Umar dan wargapun membantu mencari Rini yang sangat galau itu. Di tengah ketakutannya, Rini di temukan Om Kusno, pamannya sendiri. Sang paman membawanya ke pantai dan menjauh dari orang-orang yang mencari Rini. Di sinilah Rini hampir mati. Kenapa? Karena kebaikan Om Kusno hanya kebohongan belaka, dialah yang memperkosa Rini. Dia rela ke pulau ini untuk mencari Rini dan berniat membunuhnya karena tidak terima di usir dari rumah Rr.Hartini, wanita ningrat, ibu Rini. Syukurlah, Umar dengan sigap menolong Rini yang sejengkal lagi menemui ajal di bawah batu karang.
Akhir dari novel ini adalah si gadis menikah dengan Umar, laki-laki yang di ketahuinya sebagai seorang pengacara dan penasehat Tengku Budiman. Padahal , dialah Tengku Budiman yang sesungguhnya. Semua penghuni pesantren termasuk penguruspun tidak mengetahui hal itu, rahasia besar antara Umar dan Tengku Budiman.
Dalam penceritaan novel ini, sang gadis adalah tokoh utama. Namun, penulis merahasiakan nama si pembunuh, dan memberinya nama panggilan si gadis. Jadi, pembaca di ajak untuk menemukan sendiri siapa nama Asli dari pembunuh itu. Letupan-letupan klimaks yang tak terduga, serta misteri-misteri kejadian yang menimpa para santriwati, membuat novel ini begitu hidup. Selain itu bahasa yang di gunakanpun enak, dan tidak terjamah pada hal-hal yang vulgar. Padahal bisa saja penulis menggambarkan bagaimana Rini di perkosa dengan detail. Tetapi itu tidak di lakukan.
Nothing is perfect. Kekurangan juga di miliki novel ini. salah satunya adalah pengeditan. Ada beberapa kata yang salah ketik, seperti kata ngeri,tertulis jeri. Selain itu, bab-bab terakhir tepatnya setelah upaya pembunuhan Rini gagal, penceritaannya begitu hambar. Penggambaran bagaimana kecemasan Umar yang mengharapkan si gadis kembali ke pesantren serta kecemasan si gadis untuk segera pulang menemui anak-anak asuhnya terasa datar. Jika di akhir-akhir cerita di bubuhi sedikit klimaks, pasti ending cerita novel ini akan lebih berkesan. Kemudian, akhir dari penyembunyian identitas umar, bagaimana nasib Rini dan anaknya setelah selamat di tolong oleh umarpun tidak terselesaikan di sini.
Apa hikmah yang dapat di petik?
Bagi saya pribadi, novel ini mengajarkan bahwa betapa sempurnanya sosok manusia di depan mata kita, dia pasti punya aib dan kekurangan diri, besar atau kecil. Namun Allah yang Maha Menjaga Rahasia begitu sempurna menyembunyikan aib itu di mata manusia lain. Jadi, jangan heran ketika seorang yang anda kenal baik di kemudian hari menjadi sosok yang berdosa. Semoga kita menjadi lebih baik.

17 Juni 2011
Mahadaya Senja

Friday, June 10, 2011

SEBUAH ARTI



Mahadaya Senja

Apakah arti aku hidup ini?
Jika siang dan malam
Hanya di batasi oleh kelelahan menumpuk pundi-pundi
Jika hidup untuk makan
Hidup untuk bebas
Hidup adalah tempat ujian penyakit dan kemiskinan
Hidup untuk memenuhi hasrat libido yang berlari lepas
Untuk apa aku hidup dan akhirnya di cabut pula nikmat-nikmat dari kerongkongan?
Apakah pula arti aku mencintai?
Jika sakit hati yang sering merendam rasa
Jika kekecewaan yang kureguk
Tiap kali orang yang kucintai melakukan hal yang tak kuharapkan
Jika mencintai harus akrab dengan perselisihan bahkan perceraian
Jika mencintai adalah kesiapan untuk di tampar
Di pukul,bahkan terbunuh oleh cinta yang gelap mata
Jika mencintai pada akhirnya tak bersama
Dan hidup dengan pasangan masing-masing
Apa pula arti aku beribadah menyembahMu, ya Allah?
Jika tiap kali maksiat kubuat tanpa malu di hadapanMu
Jika beribadah menangis, bertobat
Lalu sesat lagi, bahkan lebih pahit
Jika beribadah itu adalah ruku’, sujud, dan salam
Untuk apa aku beribadah jika aku belum malu menghadapMu
Dengan hatiku yang kotor
Pakaian imanku usang dan dekil
Karena debu dosa yang kupakai untuk bersuci
Allah…
Untuk apa malam-malamMu kutegakkan
Lalu kuhancurkan lagi dengan perkara terlaknat di siang harinya
Aku malu menghadapMu
Gejolak bara api naar bagai terasa melempuhkan kulit-kulitku
Ya Rabbi,
Pintu-pintuMu kuketuk lagi
Kau buka atau tidak
Tak akan kupaksakan

KEHILANGAN


Mahadaya Senja

Aku akan kehilanganmu
Dalam dua kulit kering yang menyatu
Melukis keindahan tanpa kata
Menutup rapat celah jiwa yang ragu
Akan hilang terbasuh semu

Aku akan kehilanganmu, dua kali
Dalam perjanjian dusta pada hati lain yang getir
Mengakhiri dilema kulit kering
Hanya sanggup melagak tegar kehilangan nirwana
Akan pudar pertalian bisu ini

Aku akan kehilanganmu, tiga kali
Dalam perbatasan dua nyawa yang bergema
Nafasku yang mengisi ronggamu
Ikut pergi bersama kearifan dunia mimpi
Waktu melepaskan jemari-jemari yang berdosa
Akan tenang di kandung tanah yang basah

Aku akan terus kehilanganmu
Di batas sadar ataupun di pelupuk asa
Desah nafasmu akan berakhir
Kala perjanjian kita terhantuk pada hal yang kau cari
Dalam isyarat kata yang syahdu
Hanya kita
Dia saksinya


MEI 2011

Wednesday, June 8, 2011

DALAM PELARIAN SANG PEMBUNUH

(Mahadaya Senja)



"Ia mencoba memelukku, aku terus menghindar. Aku berlari ke setiap ruangan. Namun ia tak berhenti mengejar. Kini, aku tak dapat berlari lagi, ketika kudapati diri ini tersudut di antara lemari peralatan makan.
Gelak tawa kemenangan menggelegar. Ia semakin garang untuk menikmatiku, sedangkan aku semakin pilu dan putus asa. Tubuhnya semakin merapat, kuku-kuku tajamnya mencengkram tubuhku, desah-desah nafasnya membuatku hilang akal."





Tuhan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menjadi seorang pembunuh. Ini semua tidak sengaja terjadi. Malam itu gelap, aku tidak dapat melihat apa-apa. Tiba-tiba saja gadis itu melintas. Aku terkejut, dan terjadilah peristiwa tragis yang tak kusangka-sangka. Sungguh, hidup tidak adil, aku harus bertanggung jawab atas kejahatan yang tidak pernah aku lakukan. Aku di kejar perasaan bersalah. Harus melarikan diri, tersesat di tempat yang tak di kenal. Dimana ini? Tempat yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Pohon-pohon besar berumur puluhan tahun kulihat di sepanjang batas mata menangkap terang. Daunnya rimbun dan di tumbuhi akar gantung mirip tali yang menjuntai ke tanah, seperti di film tarzan saja, ucap benakku. Lolongan anjing yang melengking, membuat bulu tengkukku berdiri. Aku berjalan perlahan, mengurangi bunyi suara dedaunan kering yang berbunyi ketika aku melangkah.
“Tep…”. Ada yang menepuk pundakku dari belakang. Aku terkejut. Astaga. Aku melihat malaikat pencabut nyawa telah siap balas dendam, dia di hadapanku.
“Kenapa cantik? Wajahmu yang elok itu berubah pasi melihatku di sini. Terkejut ya? Jelas saja. Aku tak dapat menuntut balas atas kematian kekasihku di dunia kita, makanya aku mencari jejakmu di sini, akhirnya kutemukan juga.” Ucap sosok mengerikan itu.
“Tidak, kau salah. aku tidak bermaksud membunuh kekasihmu. Aku tidak sengaja. Sungguh, aku tidak bohong.” Ucapku membela
“Heh” lelaki itu mengulum senyum, lalu melanjutkan bicaranya, “Aku tidak perduli apapun alasanmu. Nyawa harus di bayar dengan nyawa. Tapi sebelum itu, aku ingin menikmati tubuh manismu terlebih dahulu, sayang jika di sia-siakan.” ucap laki-laki bertubuh gelap dan berekor itu sambil mengarah padaku dengan mata beloknya yang penuh hasrat.
Aku meneruskan pelarian. Lebih kencang, karena kematian telah siap dengan pedangnya. Aku menyusup di antara pepohonan dan menembus gelap malam. Berlari entah kemana, asal nyawa selamat. Sesekali melihat kebelakang, sosoknya tak kelihatan lagi. Syukurlah, aku dapat mengatur nafas. Tubuhku terasa setengah mati, dengan nafas yang terengah-engah dan rasa sakit kepala yang hebat. Aku menoleh kebelakang, terlihat mata merahnya membara sedang mencari keberadaanku. Pelarian di mulai lagi. Tak berapa lama langkahku terhenti, aku terjerembab. Ekor panjangnya mengikat kakiku. Setelah beberapa lama mencium tanah, aku terangkat ke udara. Jungkir balik, sakit kepalaku, karena semua aliran darah menuju otak. Tuhan, tak dapatkah kau tolong aku yang terdzalimi ini. Kumohon, aku belum mau mati, apalagi di tangannya.
Lama aku menunggu tangan Tuhan menolong hambanya yang tak bersalah. Ketika harapanku mulai pupus dan pintu kematian terlihat tanpa hijab, aku menemukan sebuah kapak yang tertancap di sebuah pohon, tak jauh dariku. Aku mengambilnya, dan kuayunkan kearah laki-laki itu. “Brug…”. Seketika aku terjatuh, mencium tanah kedua kalinya. Namun sakitnya tak begitu terasa, karena aku telah merasakan sebagian dari rasa kematian sebelumnya. Aku bangkit, dan melihat sosoknya tak bergerak. Kapakku memutuskan bagian tubuh laki-laki berbintik hitam itu, antara badan dan ekor. Dia sudah mati. Aku mendekat, memastikan kematiannya dengan menendang perlahan tubuhnya dengan kakiku. Dia benar-benar telah mati, menyusul kekasihnya. Bersenang-bersenanglah kalian berdua di alam baqa sana. Kali ini aku memang pembunuh. Benar-benar membunuh dengan tanganku sendiri.
Ups... meleset. Matanya mencelang, lalu lidah panjangnya sigap menangkap leherku. Mencekikku hingga terasa sulit bernafas. Huh, kematian lagi-lagi datang. Tapi kali ini pasti akan lebih mengerikan.
“Bodoh, kau pikir aku akan mati. Tidak, sayang. Aku harus mencicipi tubuhmu dulu. Bila ada yang mati, seharusnya bukan aku, tapi kau.” Ucapnya dengan sunggingan senyum yang dingin.
Cekikan luar biasa. Lebih membuatku tak berdaya. Lebih ganas. Ia tak hanya akan membunuhku, tapi juga memperkosaku. Oh tidak. Tidak mungkin. Aku tidak mau. Aku jijik membayangkan jika mulutnya yang moncong akan menggilas bibirku ini. Tapi matanya yang belok dan besar memberi syarat bahwa nafsunya tak mampu lagi tertahan.
Nafasnya menderu. Gigi tajam akan menggilas kehormatanku. Tubuhku serasa lumpuh tak mampu membuka mata. Semakin aku mencoba membukanya, semakin aku tak mampu bergerak. Sedangkan nafasnya semakin terasa di depan wajahku. Aku mencoba teriak meski dengan sisa kekuatan yang aku miliki. Hawa panas dari mulutnya telah mendekat. Bibirnya hampir sampai di bibirku, dan “to….”.
*******

“Tolong…” suaraku memenuhi kamar. Mataku kembali terbuka, dan mendapati tubuhku telah basah oleh keringat. Mengucur deras. Aku menebar pandangan ke segala penjuru kamar, tak ada siapa-siapa. Aku mulai menormalkan nafasku yang terengah-engah. Syukurlah cuma mimpi. Mimpi buruk.
“Krek” gagang pintu bergerak. Oh Tuhan, kumohon jangan mulai lagi. Kasihanilah diri ini. Aku menghela nafas ketika daun pintu itu terbuka. Huft, ternyata ayah. “Kamu kenapa teriak,sayang? Mimpi buruk?” ayah mendekat dan memelukku. “Iya ayah, aku mimpi di kejar oleh seekor cicak laki-laki yang ingin balas dendam kepadaku, karena aku tidak sengaja menginjak kekasihnya dan kemudian mati.” Jelasku pada ayah. Aneh, anaknya hampir saja mati, tapi ayah malah menertawaiku. “Kamu ini, terlalu banyak nonton film horor sih, mimpinya saja aneh begitu. Sudah. Sekarang cuci muka! Setelah itu tidur lagi.” Tukas ayah. “Oya satu lagi, jangan lupa baca doa ya. Met tidur, sayang”. Ayah mengecup keningku, lalu kembali ke kamarnya.
Aku tak mendengarkan perintah ayah, aku takut. Kesendirian membuat pikiran paranoidku muncul. Mimpi buruk itu membuat aku takut untuk memejamkan mata. Lelaki bejat itu pasti akan mengejarku lagi. Kulihat jam dinding, ternyata masih jam 12 malam. Aku bertahan dalam keadaan mata terbuka, menatapi jarum jam agar ia dapat berputar lebih cepat dan menghantarkan pada hari yang terang benderang. Terasa lama sekali, padahal jika aku tertidur mungkin ini terasa seperti baru memejamkan mata. Jam setengah lima mataku terasa berat, sudah tak mampu menahan kantuk. Sebagian kesadaranku dalam keadaan Alpha, setengah tertidur tapi belum sepenuhnya tidur. Tiba-tiba senyum menakutkan itu berkelabat. Sontak, aku kembali terbangun. Sang pembunuh dingin seperti telah menguasai alam mimpi sehingga aku tidak akan bisa kemana-kemana jika aku berada di sana.
Semenjak aksi balas dendam gagal,hidupku menjadi korban. Aku tidak dapat konsen di kelas. Mataku sungguh mengantuk tapi aku tak boleh tidur. Jika saja aku tidak bermimpi ketika tidur, pasti indah. Namun aku menemukan kenyataan yang di penuhi kecemasan. Hari ini hari ketiga, aku membuat sebuah prestasi yang memalukan bagi orang tuaku. Ketika aku tengah duduk di kelas sambil memandang lalu lintas di depan sekolah yang tengah ramai, tiba- tiba seekor cicak menempel di tanganku. Aku menjerit keras sekali. Sejurus kemudian, gelak tawa meledak dari seorang siswa, dia yang melempar cicak mainan itu kepadaku. Niatnya memang untuk bergurau, tapi sungguh tidak lucu. Aku bangkit dari bangku, lalu menuju ke meja guru. Aku gengam sebuah vas kaca yang ada di atasnya, mengarahkan badan pada anak jahil itu dan melemparkan barang yang ada di tanganku. Apa yang terjadi setelah itu? Semua terperangah atas lemparan jitu. Anak gendut itu roboh di lantai bersama serakan kaca dan darah segar yang mengalir dari kepalanya yang bocor.
OMG, aku di tarik paksa oleh guru BK ke ruangannya. Di dudukkan di sebuah kursi putar, di introgasi seperti seorang tersangka tindak krimial. Yah, bukankah perbuatanku barusan adalah tindak kriminal, yang sebelumnya belum pernah terjadi di keluarga, dan sekolah ini. Anak perempuan yang lemah, yang sedang mengantuk berat, menjadi beringas dan membabi buta.
“Nama kamu siapa?” tanya laki-laki berkumis tebal itu. Kumisnya mebuat aku geli, sama seperti geli pada kejadian tempo hari. Aku menunduk takut.
“Mita, pak” jawabku
“Kelas berapa?” lanjutnya
“XII IA 1, pak” jawabku lagi
“Kenapa kamu berbuat seperti itu? Kamu itu perempuan, siswi dari kelas dan sekolah unggulan.” bentaknya lagi
“ Siapa suruh mengganggu saya. Saya tidak suka. Saya benci cicak! ” jawabku lugas.
Pak kumis tidak terima dengan jawabanku. Mengada-ada, katanya. Dia ceramah panjang lebar atas kesalahanku. Keadaan tambah kisruh, ketika orang tua si gendut datang ke sekolah untuk meminta pertanggung jawab atas kejadian yang menimpa putra mereka. Keributan terjadi di ruang guru. Bapak si gendut teriak-teriak, “Mana kepala sekolah, mana bajingan yang berani-beraninya melukai anakku.” Teriakannya terdengar sampai keruangan aku berada. Aku melihat bapak si gendut mengenakan seragam polisinya, api kemarahan berkobar-kobar. Giginya gemerutuk, tangannya yang kekar mengepal keras,seperti hendak menghajar kepala sekolahku.

Aku tak perduli sama sekali dengan apa yang terjadi. Kenyataan yang akan aku hadapi karena ulahku. Aku tak gentar menghadapi ayah si gendut yang petantang- petenteng menyombongkan pangkat sosialnya itu.
“Kau lihat ulahmu, Mita?” ucap pak kumis menatapku dingin. Lalu keluar untuk ikut berpartisipasi dalam keributan di ruang guru itu.
Aku sendiri di ruangan. Ruangan yang di penuhi papan-papan informasi tentang konseling. Aku menilik satu-satu isinya, membesarkan kedua bola mata yang sudah tiga hari dua malam tidak tidur. “Hahahaha…..” sebuah suara asing menggema. Aku menghentikan kegiatanku. Melempar pandangan ke semua penjuru. Tak ada siapa-siapa, hanya aku. “Kau terlalu paranoid sayang. Kau merindukan aku ya? Hahaha…” suara itu kembali terdengar, dan aku kenal suara menyeramkan itu. “Diam kau, keparat. Aku tidak takut padamu. Sini keluar, hadapi aku. Jangan hanya berani di dalam mimpi saja. Keluar!” teriakku. “Hahaha…., benarkah kau berani , sayang? Kita lihat saja seberapa kuat dirimu. Aku tidak akan membuatmu tenang. Dendam kesumat atas kematian kekasihku belum terbalaskan. Kau harus dapatkan penderitaan. Aku akan terus mengintaimu, sayang.”
Suara itu hilang. Meninggalkan aku dengan ketakutan. Lalu aku terkejut lagi, ketika pak kumis datang. Ia menyuruhku duduk. Kemudian berbicara ngalur - ngidul, mulai dari masalah kelakuan burukku, sampai ke permasalahan dengan istrinya.
“Pak, intinya apa? Saya di keluarkan dari sekolah ini,kan?” potongku.
Aku tahu pak kumis tak tega padaku. Wajahnya berubah sangat berat untuk mengeluarkan kata-kata. Ia menyodorkan sebuah amplop kepadaku. “Kamu di skorsing. Berikan ini kepada orang tuamu.”Ucap pak kumis singkat.

*******
Hari ke lima dari peristiwa menyeramkan itu.
Sudah lebih dari enam cangkir kopi dan 2 bungkus coklat batang aku lahap malam ini. Tak lain agar mataku dapat terus terjaga. Sampai kapan aku menjadi Oneirophobia seperti ini? Menjadi orang yang terus terjaga ketika orang lain mendengkur adalah hal yang tidak adil. Lihatlah kerjaku; mondar - mandir, atau duduk –duduk saja di pojok kamar. “Auw.sakit” Tak sengaja pipiku yang bengkak terpegang. Ini juga hadiah menyebalkan yang di berikan si cicak gila. Tadi siang, ayah begitu marah dan menamparku semau hatinya. Ia begitu marah ketika pulang dari panggilan Kepala Sekolah. Bagaimana tidak, anak semata wayang yang ia kenal ayu dan lemah lembut, di keluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Ayah sangat marah karena sebentar lagi aku akan Ujian Nasional. Eh, si anak manisnya malah nyeleneh. Maafkan aku ayah, ini bukan mutlak salahku.
Keesokan harinya, ayah membawaku ke Rumah Sakit Jiwa. Tentu saja aku berontak. Tega-teganya ayah menganggap anaknya sendiri gila. Aku berontak, ingin pulang. Tapi ayah mendekap tubuhku dan memaksa aku untuk bertemu Psikolog. Aku kalah, tubuh ayahkan lebih besar daripadaku. Sang Psikolog cuap-cuap. Apa yang dia tanya aku jawab seperti biasa. Aku tidak gila.
Psikolog itu menatapku, dan tersenyum pada ayah. “Anak bapak sepertinya mengalami gejala Skizofernia, pak?”
“Penyakit apa itu dok, anak saya gila?”
“Tidak, anak bapak tidak gila. Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidak seimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Skizofernia juga sering kali diikuti dengan delusi dan halusinasi, pak” Jelas Psikolog itu.
Ayah mengangguk-angguk. Aku mengumpat dalam hati. Aku di anggap gila. Kalian yang gila. Orang sehat begini di bilang gila.
“Tapi, kenapa bisa,dok? Padahal di keluarga kami tidak ada yang menderita penyakit seperti itu?”. tanya ayah penasaran.
“Skizofernia bisa menyerang siapa saja ,pak. Malah presentase penderita terbesar adalah mereka yang usianya seperti anak bapak, 16 sampai 25 tahun. Wajar saja pak, usia remaja dan dewasa-muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupannya penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Syukurlah, bapak segera membawa anak bapak kemari.” Jelas sang psikolog panjang lebar. Sudahlah dok, aku sudah gusar lama-lama di luar. Aku ingin segera ke kamarku. Sebelum laki-laki pembunuh itu menemukanku disini.
“Lalu apa yang harus saya lakukan. Tolong dok, tolong sembuhkan anak saya ini. Dia anak saya satu-satunya,dok” rengek ayah. Ah…ayah lebay. Anakmu ini tidak gila ayah. Sayang, aku tidak mau banyak omong. Nanti, aku benar-benar di anggap gila.
Psikolog memberikanku obat . Tapi, Aku menolak untuk meminumnya. Sampai di siksapun aku tak mau. Aku tahu, obat itu obat penenang. Obat yang akan membuat aku tertidur. Obat yang akan membuatku lumpuh di alam mimpi, dan laki-laki pembunuh semakin bernafsu pada tubuhku. ih….jijik.
“Mita, liat matamu itu. sudah berkantung-kantung, hitam pula di sekelilingnya. Apa kamu mau terus-terusan tersiksa, sudah berapa lama kamu tidak tidur? Itu akan mengganggu fisik dan mentalmu. Kamu akan jadi pemarah, bicaramu ngelantur, kamu akan selalu berhalusinasi.” Mengehela nafas. “ Dan lebih yang parah lagi, kamu bisa menderita penyakit berat; jantung, tekanan darah tinggi, dan banyak lagi. Kamu mau? Tidakkan?” Tambah psikolog itu sok lemah lembut bak malaikat penolong. Percuma dok, aku tidak mau. Titik.


*******
Hari ketujuh.
Sudah satu pekan aku tidak tidur, tidak makan, tidak keluar rumah, tidak bicara pada orang, tidak semuanya. Hanya menatap kosong pada langit-langit kamar, meminum kopi, sof t drink, dan coklat untuk membuat mataku tetap terjaga. Ibu membawa makanan ke kamarku. Tapi sang makanan kembali ke pencucian masih utuh dan basi. Aku tidak mau makan, karena akan membuatku kekenyangan dan mengantuk. Setiap hari pula ayah ke kamar untuk menyuruhku mandi. Aku juga tidak mau. Aku takut si pembunuh itu melihat aku telanjang di kamar mandi. Tidak ada yang membuatku aman selain di kamar ini dan secangkir kopi.
Entah kenapa, di hari ini badanku terasa sangat lemah. Tenagaku sudah semakin berkurang karena tidak di tunjang oleh makan-makanan yang sehat selama di persembunyian ini. Lama-lama mataku terasa berat. Lebih berat dari biasanya. Mungkin sudah tak kuat lagi. Tanpa kusadari kepalaku perlahan-lahan bersandar di dinding kamar. Mataku sedikit demi sedikit terpejam. Sekejap aku masuk ke portal mimpi. Tidak boleh! Aku memaksa mata untuk terbuka. Astaga, senyum kematian di depan wajahku. Cicak itu di sini, aku histeris, reflek menerajangnya, hingga tersungkur.
Aku ngeri. Bulu romaku berdiri. Wajahnya sangat lapar. Air liurnya meleleh, dengan lidah yang siap menjilat tubuhku yang lemah, teramat lemah.
“Sudah saatnya sayang. Aku datang untuk menikmati tubuhmu.”
Aku segera melarikan diri darinya. Berteriak, meminta pertolongan. Namun sunyi yang kudapati. Orang-orang seperti di telan bumi, hanya si jahanam dan aku yang tertinggal. Tuhan, Kenapa begini? Bagaimana bisa dia muncul dalam dunia nyataku. Terpaksa, aku keluar dari sarangku selama ini, tempat yang aman dari terkamannya. Aku terus berteriak, di antara isak dan ketakutan. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia mencoba memelukku, aku terus menghindar. Aku berlari ke setiap ruangan. Namun ia tak berhenti mengejar. Kini, aku tak dapat berlari lagi, ketika kudapati diri ini tersudut di antara lemari peralatan makan.
Gelak tawa kemenangan menggelegar. Ia semakin garang untuk menikmatiku, sedangkan aku semakin pilu dan putus asa. Tubuhnya semakin merapat, kuku-kuku tajamnya mencengkram tubuhku, desah-desah nafasnya membuatku hilang akal. Aku menarik pisau yang tak jauh dari jangkauanku. Lalu menusukkannya tepat di dada,bertubi-tubi. Tak lama kemudian, darah segar membuncah, membanjiri tubuhku yang tergeletak.
“Kenapa kau lakukan ini, sayang?”
Aku tersenyum mendengarnya. Senyum penghinaan terakhir. Lebih baik aku membunuh diriku sendiri, daripada kehormatanku kau yang mengobok-oboknya.
“Sampai jumpa lagi, laki-laki busuk. Kau tidak akan mengusik malamku lagi. Aku dapat menikmati tidur panjang ini tanpamu.“Ucapku menghardik di antara nafas yang tersisa di kerongkongan.

Selesai

Dalam persembunyian
Mei 2011

Istilah
Hijab (islam) : Batas
delusi (psikologi) : keyakinan yang salah)
halusinasi (psi) : persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Oneirophobia (psi) : takut mimpi
Hiprokrit : Munafik

Tuesday, June 7, 2011

BERTANYALAH!

Mahadaya Senja

Tanyalah anak-anakku, jika tak mengerti
Kebingungan adalah jawaban pastinya
Acungkan tangan!
Agar nilai-nilai raportmu 7, 8, bahkan 9
Ketidak tahuanmu adalah prestasi

Tanyalah jika ingin jadi anak negeri yang baik
Yang menghargai pahlawan tanpa tanda jasa
Kengawuran adalah intelektual
Calon-calon cendikia yang menebar kehampaan
Membuat orang-orang bodoh tertinggal
Dan terkapar karna jawaban yang berputar-putar

(detik2 )

BIJAK DARI ORANG LAIN

(Fairuz El Fath)


Seorang teman bercerita padaku tentang perkelahiannya dengan sang kekasih. Padahal ia tahu kalau aku belum pernah berpacaran. Ia menangis-nangis di depanku, dan sebagai teman yang baik, aku mencoba memberikan saran kepadanya. Seorang teman sekelas, juga menghampiriku untuk mengeluhkan kondisinya di rumah kost yang tidak kondusif untuk belajar. Dalam hatiku berkata,asal kau tahu saja, aku juga punya masalah yang sama teman, tapi selalu kupendam masalah ini sendiri. Seorang teman karib juga datang menceritakan dukanya padaku tentang keluarganya yang akan bercerai. Ia malah berniat untuk bunuh diri, dan tentu saja aku melarangnya,menasehatinya.
“Huh, menasehati? Apa aku ini sudah sempurna? Apa aku layak menasehati orang lain? padahal diri ini baaaaaanyak (panjang ya. Begitulah aku mengekspresikan kesalahan yang benar-benar banyak) kekurangan.” batinku bertanya.
Akupun terkadang terkesiap, diam seorang diri mendapati kebingungan. Aku ini manusia biasa. Aku juga punya banyak masalah. Tapi mereka malah datang mengadukan masalahnya kepadaku. Begitu percayakah mareka padaku? Hingga mereka “curhat” bahkan meminta solusi dari seorang hamba Allah yang hina ini.
Bertahun-tahun pertanyaan itu mengawang-awang dalam pikiranku, tapi tak ada jawaban yang kudapati. Hingga sebuah jawaban kutemukan sendiri ketika aku menghadapi masalah yang sama dengan masalah orang-orang yang pernah bercerita padaku. Aku menjadi lebih bijak, tidak terkejut, bahkan stress menghadapinya. Karena apa? karena aku pernah belajar memposisikan diri, dulu, di saat masalah itu hanya menjadi sebuah persoalan yang sebatas omongan.
Seharusnya aku tidak mengeluh, dan menikmati pembelajaran tersirat Allah ini. Mari siapapun kita, jika orang-orang yang ada di dekat kita sering menjadikan kita tempat curahan hati mereka, berbahagialah! Karena ada banyak hikmah di dalamnya. Hikmah itu antara lain : pertama, kita di nilai sebagai orang yang amanah,tidak bermulut “ember” , menceritakan aib saudaranya pada orang lain (amin, semoga saja memang demikian), sehingga tidak sungkan untuk blak-blakkan pada kita. Saya dan anda harus mempertahankan itu!. Kedua, kita di nilai sebagai pendengar yang baik. Ada orang yang ketika di minta untuk menjadi pemberi solusi, malah bicara berlebihan, dan terkesan mengintimidasi orang yang sedang curhat. Berharap agar mengurangi beban pikiran, eh, malah bertambah ruwet karena komentar kita. Ketiga, Allah ingin mengajari kita untuk menjadi orang yang membuka mata hati, belajar sabar, tangguh, dan mawas diri ketika ada orang yang mencurahkan durjananya pada kita. Membuka mata hati untuk bicara bukan atas nama kesombongan (telah di percaya orang), tapi bicara atas nama Allah yang menyambungkan pengajarannya kepada manusia melalui perantara kita. Sabar dan tangguh ketika prahara itu merundung kita, setelah kita memberikan nasehat kepada orang lain. Kita akan menjadi lebih siap dan tak gentar menghadapi masalah itu, karena Kita pernah memberikan pilihan kepada orang lain untuk menyelesaikan masalah itu. Serta Mawas diri untuk semakin percaya bahwa tiada kekuatan, tiada sandaran yang lebih menentramkan hati selain Allah.
Manusia akan sedikit merasa lega ketika melepaskan beban pikirannnya, bertukaran pikiran kepada manusia lain. Tapi itu tak akan membuat hati lega dengan mutlak, karena Allah-lah yag memiliki ketentraman.
Bukan bermaksud sok bijak, hanya membuat refleksi untuk diri sendiri. Serta mengajak kita untuk menikmati hidup menjadi “ladang curhatan orang lain”. Berbahagialah menjadi bagian dari hikmah Allah. mari, layani mereka dengan ketulusan, agar Allah membalasnya dengan kebaikan. Amin.


Fairuz El Fath (sesobek Refleksi MS)
Ahad, 22 Mei 2011

Wednesday, April 27, 2011

PARA KAUM


Perbedaan adalah harga mati
Antara kaum tua dan kaum muda
Paksakan saja hati dan pikiran kolot
Berpadu dengan kebebasan
Sama seperti memaksa air dan minyak menyatu
Bila kebebasan itu menggaungkan diri untuk maju dan memimpin
Bersiaplah di lubang tembak
Meroyak mulutmu yang bersuara kebenaran
Jangan salahkan dia jikalau kau di cemooh
Syukur-syukur tak di injak-injak
Seperti kertas bekas bungkus terasi
Bukan menyalahkan kaum tua
Mentang-mentang aku ini si kaum muda
Tapi hanya sajaklah yang dapat kujadikan bahasa untuk bicara
Aku paham
Setiap zaman mengusung kepentingan golongan
Saling terajang
Siap adu kuat
Dia menang
Ajak saja kaum muda adu tanya
Kami tak gentar nyali tak akan lari
Tapi dogma-dogma lama, tak dapat di langgar
Penghormatan berujung pada kekecewaan dan penindasan
Dengarlah kaum tua
Guratan ini bicara
Melukiskan perdebatan keras sore kemarin antara kita
Yang memojokkan kami
Membunuh hak bicara kami
Hak-hak kami terampas
Kerja ini lebih-lebih TKI
Sedikit-sedikit salah
Cacian jadi makanan
Lalu kaum kalian meraup untung dari kelemahan kami
Sempallah mulutku dengan kebebasan yang sesungguhnya
Agar tipu muslihat dan kongkalikong kalian kuakhiri
Dan dunia tetap takzim pada kaummu

Wednesday, April 20, 2011

Rindu Hamba yang Membuncah


karya: Mahadaya Senja

Ya Rasulallah
Ketika kubaca shirahmu
Serasa kau disini di depan wajahku dan kau tersenyum
Karena aku masih mengingatmu
Di antara sajak dan syair romantis
Di antara novel melankolis yang kubaca
Tapi sayang, aku tak menangis membacanya
Hatiku tak tergetar ya Rasulallah
Apa karena air mataku telah kering oleh syair picisan itu
Apa kah air mataku kering oleh cerita-cerita fiksi
Yang memperdaya hati namun tak ada arti
Di bandingkan kisah dan perjuanganmu
Melewati cercaan dengan lapang dada
Bersabar menahan sakit dari luka di jalan dakwah
Semangat yang bergelora menegakkan nafas Lailahaillah…

Ya Rasulallah…
Kubaca sifat-sifatmu yang mulia
Dan lagi-lagi serasa kau tersenyum padaku
Karena aku masih mengingatmu
Di antara banyak wajah rupawan yang kupandang
Di antara desir hati yang mengajak pada kemaksiatan
Astaghfirullahal ‘adzim

Ya Rasulallah…
Dapatkah aku Shiddiq sepertimu
Tak menyembuyikan sepeserpun uang rakyatnya
Untuk mengenyangkan perut-perut keluarga dengan uang haram
Dan akhirnya menjadi bara api di neraka Jahannam

Ya Rasulallah
Dapatkah aku amanah sepertimu
Amanah pada jabatan yang ku emban
Menjadi pemimpin tanpa korupsi, kolusi, dan nepotisme
Dapatkah aku menyambung makan saudara-saudaraku kaum pinggiran
Meski kekayaan merayu-rayu imanku

Ya Rasulallah…
Dapatkah aku Tabligh sepertimu
Menyampaikan apa yang harus ku sampaikan
Tak kurang dan tak kulebihkan
Dapatkah aku menjaga lisanku dari ucapan sia-sia dan fitnah
Ya… Rasulallah

Dapatkah aku Fatanah sepertimu
Semakin tunduk saat di luaskan ilmu
Menggunakan kepintarannya untuk kebaikan
Bukan untuk mengibuli orang
Menindas
Mendzalimi
Memperbudak saudaranya
Rakyatnya…

Ya Rasulallah
Setelah selesai kubaca sirah ini
Mampukah itu mempengaruhi lakuku
Atau tetap saja liar bagai kuda
Tunduk di bawah tipu daya nafsu
Dapatkah aku sepertimu ya Rasulallah
Dan senyummu menjadi nyata di depan wajahku


di bawakan dalam lomba cipta dan baca puisi,17-4-11, alhamdulillah juara 1.

Saturday, March 26, 2011

tuhan baru


Karya: helda

Saksikanlah…
tuhan-tuhan baru telah memenuhi bumi
Dengan abdi yang setia tunduk menyembah
tuhan-tuhan tempat bergantung
tuhan tempat tertawa dan mengeluh durjana

tuhan handphone
tuhan facebook
tuhan syahwat
tuhan perhiasan
tuhan pundi-pundi
tuhan jabatan
Oh tuhan
tuhan

tuhan-tuhan baru lebih primadona
Canggih,
Dan membawa pada puncak syurgawi
Menjadikan lebih percaya diri
Menjanjikan insan-insan ber-ada

Saksikanlah….
Manusia menggila
Menjadi Fanatik
Sampai membabi buta menghamba tuhan-tuhan yang mereka sukai
tuhantuhantuhantuhantu manusia
Merongrong dalam sadar dan mimpi

(di bawakan dalam lomba puisi FESTAMI X 2011)

Wednesday, February 23, 2011

(Tulisan di antara sunyi yang merobek rindu)



Aku ingin menulis saat kerinduan ini membuncah.Riuh anak-anak itu jadi nyata.Salam riang menyongsong langit merona. Tawa bahagia terukir di antara impiannya. Aku ingin melihat, kala mataku tak mampu menatap wajah-wajah lugu itu. Menyambut ramah , selalu bersama melalui putaran waktu yang singkat. Aku ingin memeluk, ketika tanganku tak mampu mendekap hati-hati mulia itu. Kelapangan dan kebesaran jiwa untuk memaafkan, menerima perbedaan suku, ras, dan agama. Berkelahi, lalu bermain lagi. Indah, tak ada sukma di antara persaudaraan.
Aku merindu. Merindukan Senyum simpul di antara simponi perjalanan yang terangkai ibrah. Apakah kini mereka masih bersemangat menapaki jalan-jalan becek menuju rumah Allah? tak perduli sejauh apa jarak dan larutnya malam. Apakah mereka masih optimis meraih impian-impian yang mereka genggam di tangan kehidupan? Apakah mereka masih mendurja, kala detak arloji mulai menutup perjumpaan kami?
Aku ingin menulis apa yang kenangan ajarkan padaku, bekal menyongsong hari esok. (PBM ’10)

Tuesday, February 22, 2011

SENI tak terkekang oleh AGAMAmu. karena AGAMAmu adalah SENI itu sendiri. Dan AGAMA tak akan merusak senimu, karena pasti takkan ada yang mau menyakiti bagian tubuhnya sendiri.

Sunday, February 20, 2011

penA dAkWAH


tabula rasa hari ini siap untuk bersatu bersama semangat dan impianmu kawan. tajamkan pena-penamu untuk merangkai kata ibadah dalam deretan jejak sejauh kita mampu berjalan.

Thursday, February 17, 2011

Aku dan Perapian

Aku dan perapian

Jika suatu saat kegelapan akan datang
Kenapa aku sering lupa menyalakan perapian
Jarang meminta agar nyalanya untuk tetap menemani keheningan

Bila kehimpitan itu merobek kekalutan
Kenapa aku terkadang malas menyiapkan jawaban
Malah sibuk pada gemerlap semua dunia

Gusti,
Aku takut terkecup malam
Aku belum siap

Tolonglah Gusti
Kompromilah dengan lelaki yang bernama Izrail
Katakan aku belum siap
katakan itu padanya

walau aku mendamai pada nisan dan kafan
mereka akan tetap menemani
Izrail tetap menghampiri
Meski tanpa hawa panas dari perapian
Maret 2009

Saturday, February 5, 2011

Selamat jalan Bro-ku


Seuntai kata untukmu yang telah pergi

Aku pernah melewati hari-hari yang membuat aku selalu sibuk mengemaskan rumah karena tak ingin lelaki itu marah dan ceramah panjang lebar
Aku pernah melawati hari-hari yang penuh dengan tawa riuh ketika aku harus berteriak saat berbicara padanya dan melihat tingkah polanya menggelikan
Aku pernah melawati hari-hari yang menegangkan ketika penyakitnya kumat dan terlihat tak berdaya
Dan Aku pernah pula, melewati hari-hari yang membuat hati ini bergejolak melihat tingkahnya yang terkadang kekanak-kanakan
Aku bahagia pernah melewati hari bersamanya
Belajar bagaimana menata kamar
Melipat baju
Belajar arti keluarga
Arti kekayaan
Arti hari tua
Arti menepati janji
Bro, aku akan merindukanmu
Merindukan saat-saat kita makan dan kau tidak mendengar godaanku“bro, ayo bro tambah nasi dan lauknya. Hahahaha .“ padahal pantaskah seorang eyang ku panggil bro, seperti teman sepermainan saja. Tapi inilah tanda sayangku padanya.
Semoga Allah memberimu tempat terbaik
Kembalilah dengan tenang keharibaanNya
Wahai Allah
Ampunilah dia. Kasihanilah dia. Maafkanlah dia…
Muliakanlah tempat kembalinya. Luaskanlah tempat masuknya.
Dan mandikanlah dia dengan air salju dan embun.
Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana pakaian yang putih di bersihkan dari segala kotoran.
Gantilah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya.
Masukkanlah dia kesyurga dan lindungilah dia dari siksa kubur dan fitnahnya.
Serta lindungilah ia dari siksa neraka. Amin.

Diary, 29-9-2010



Atas nama Rabb yang Agung,
Baru terhitung Sembilan hari aku di STAIN Pontianak. Kudapati suasana yang kontras dari sebelumnya ketika di SD,SMP,dan SMA. Dulu,masa – masa awal pembelajaran, aku masih dapat berlenggang alias masih bisa bersantai-santai, belum banyak tugas dan beban pikiran. Namun tidak seperti itu, ketika diri ini sudah menginjakkan kaki di perguruan tinggi .Aku merasakan hal yang belum pernah kualami ketika menjadi seorang siswa. Mulai dari mendaftar kuliah sendiri, mengurus administrasi (khk,krs, dll) sendiri, inisiatif mencari dosen, atau mencari bahan kuliah. Intinya, semua harus BERDIKARI (berdiri di kaki sendiri). Selain itu dari segi peraturan, kita bebas berpakaian (dalam konteks tetap menutup aurat), jika tidak masuk berminggu,berbulan-bulan, tidak mengerjakan tugas, kuliah hanya DDP (Duduk,Diam, Pulang), tak akan ada yang menghukum, palingan dosen bakal bilang “siapa loe,gak lulus, Emang Gue Pikirin???” ^_^.
Pilihan ada di tangan masing-masing individu. Pertanyaannya adalah, mau jadi apa kita, menjadi mahasiswa siluman atau menjadi mahasiswa yang sesungguhnya??? Menurut hematku, Mahasiswa siluman adalah mahasiswa yang penglihatan mata orang saja ia mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, memakai almamater, dan ke kampus. Tapi dari segi moralnya, ia tidak jauh seperti orang yang tidak berpendidikan, malah mungkin lebih bobrok. Penambahan embel-embel kata “Maha”, bukan merupakan sebuah pemberian belaka, tentu ada filosofi di dalamnya. “mahasiswa harus lebih dari siswa!” kurang lebih seperti itu penggalan kata penuh semangat yang masih lekat kuingat ketika bu Yusdiana (ketua Prodi Tarbiyah) memberikan pengarahan di hari pertama masuk perkuliahan. Kata “lebih” pada kutipan di atas, menimbulkan gejolak di dalam diri ini, apa yang harus “Lebih”???
Maka dari itu, setiap kita di tuntut untuk menjadi mahasiswa yang sesungguhnya. Manusia pembelajar yang memiliki good intellectual dan akhlakul karimah. Seorang mahasiswa, tidak hanya memberdayakan otaknya, tapi juga memberdayakan moralnya, menjadi manusia yang mengamalkan tri darma perguruan tinggi.
Jika di analogikan dengan anak bayi,perjalananaku di STAIN Pontianak, seperti bayi yang belajar untuk berdiri. Rasa sakit sakit akan sering kurasa, karena aku akan banyak terjatuh, banyak AGHT (ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan) yang akan ku hadapi saat proses pembelajaran. Tak penting seberapa banyak aku jatuh, tapi yang terpenting adalah seberapa banyak aku bangkit, mencoba, mencoba, dan terus mencoba. Di dinding kamar, tepat di atas tempat tidur, telah kutempel kertas yang berisi namaku dan di belakangnya di bubuhi gelar S.Pdi. Bukan hendak menyombong,tak bermaksud mendahului takdir Allah (benar-benar selesai kuliah atau berhenti di tengah jalan), tapi aku belajar untuk memberi semangat pada diriku sendiri. Setiap bangun tidur, aku menatap kertas itu, begitu pula ketika akan tidur. Aku yakin, dengan doa, kerja keras, di sertai SAJUTA (Sabar Jujur dan tawakkal), aku akan mencapai apa yang kuimpikan. Amin.
“selamat datang di universitas kehidupan. Universitas yang akan mengajarkan betapa keras dan berbatunya jalan menuntut ilmu, mengajarkan arti perjuangan; perjuangan melawan kerasnya zaman, perjuangan membela hak-hak rakyat,dan perjuangan untuk mendapatkan DBAS (Dunia Bahagia Akhirat Surga)”
Semoga kita (mahasiswa) dapat menyelesaikan pendidikan di STAIN Pontianak ini dengan hasil yang terbaik, bukan karena suap menyuap, bayar membayar,tapi hasil keringat dan air mata sendiri, karena itu semua tak akan jadi sia-sia. Ya Rabb, bimbing kami untuk jadi Mahasiswa yang sesungguhnya. Amin.

Sunday, January 23, 2011

KATA

Mahadaya Senja)

Kala helai demi helai rambut ini telah memutih
Ada kata yang mengajakku jadi anak kecil berumur enam tahun
Dan membagi sepotong senyum bermain di bawah awan kerentaan
Menghibur, melupakan bahwa masih jauh badan dari lubang kubur

Takkala otakku sudah overload
Kronis mengingat potret-potret indah hidup ini
Ada kata yang terselip mushaf-mushaf
Buku pelajaran
Selembar tisu
Kertas pembungkus terasi
Dinding kamar
Buku harian

Bila waktunya aku jatuh miskin
Ada kata yang masih di sisakan pujangga
Untuk memenuhi kolong-kolong kehidupan
Tumpah keringat untuk sepiring nasi
Di antara gelimangan makanan lengkap yang haram dan kabur dari mana asalnya

Ada kata,
Yang mengingatkan orang-orang padaku
Si kecil mungil
Kumal
Dekil
Di tepau angin yang kotor
Miskin papa
Budak belia
Tak berdaya
Mereka mengenangku dalam jejak kata yang tertinggal ketika aku berlari
Kata terburai
Membuncah
Muncrat
Merembes
Kata yang tenang
Aku tinggalkan

Tanpa Judul

(Mahadaya Senja)

Kala helai demi helai rambut ini telah memutih
Ada kata yang mengajakku jadi anak kecil berumur enam tahun
Dan membagi sepotong senyum bermain di bawah awan kerentaan
Menghibur, melupakan bahwa masih jauh badan dari lubang kubur

Takkala otakku sudah overload
Kronis mengingat potret-potret indah hidup ini
Ada kata yang terselip mushaf-mushaf
Buku pelajaran
Selembar tisu
Kertas pembungkus terasi
Dinding kamar
Buku harian

Bila waktunya aku jatuh miskin
Ada kata yang masih di sisakan pujangga
Untuk memenuhi kolong-kolong kehidupan
Tumpah keringat untuk sepiring nasi
Di antara gelimangan makanan lengkap yang haram dan kabur dari mana asalnya

Ada kata,
Yang mengingatkan orang-orang padaku
Si kecil mungil
Kumal
Dekil
Di tepau angin yang kotor
Miskin papa
Budak belia
Tak berdaya
Mereka mengenangku dalam jejak kata yang tertinggal ketika aku berlari
Kata terburai
Membuncah
Muncrat
Merembes
Kata yang tenang
Aku tinggalkan

Saturday, January 22, 2011

ALLAH PUNYA RENCANA

Bu Ida sudah tak bergairah lagi untuk hidup ketika dokter memvonisnya menderita kanker serviks stadium akhir. Berdasarkan hasil riset yang di lakukan, usia bu Ida hanya tinggal 5 bulan lagi. Ia menjalani hidupnya tanpa semangat. Ia tak lagi ramah seperti yang pernah di kenal tetangganya, hanya mengurung diri di rumah dan lebih sering terlihat termenung. Ketika di minta anaknya untuk minum obat, bu Ida selalu menolak dengan alasan : , “Buat apa ibu minum obat? toh umur ibu tinggal beberapa bulan lagi”, jawabnya sendu.
Penyakit yang sama juga di derita bu Susi. Dokter malah memvonis jatah hidupnya tinggal 3 bulan. Namun berbeda sekali sikap bu Susi menghadapi masalah tersebut. Ia malah semakin bersemangat menjalani hidupnya. Setiap hari ia berolahraga, meminum obat dengan teratur, mempererat silaturahmi dengan tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, bu Susi pun meningkatkan ibadahnya, sholat lima waktu, puasa, tahajud, dan lain-lain “Saya yakin saya bisa sembuh, meski peluang itu kecil. Kalaupun semua cara sudah saya tempuh, toh akhirnya mati juga, ya… apa mau di kata. Toh semua pasti akan mati, hanya tinggal tunggu waktu saja. Tapi, saya ingin mati dalam keadaan yang baik dan bahagia dengan melihat orang-orang di sekitar saya juga bahagia”.subhanallah.
Secara harfiah, manusia memiliki banyak tipikal dalam menghadapi kehidupan. Di satu sisi ada manusia yang cepat down ketika di hadapkan pada masalah yang sangat rumit. Namun ada pula, di antara mereka yang mampu menjalani takdir dari Tuhan dengan legowo. Bu Ida, mempersepsikan dirinya sebagai orang yang tak lagi berguna, tak memiliki semangat hidup. Namun lain halnya dengan bu Susi, ia berusaha memotivasi dan mensugestikan dirinya untuk kuat, dan menjalani hidup dengan percaya diri, meski turbulensi dalam dirinya pastilah ada. Waktu yang tersisa bukanlah menjadi pelemah, namun menjadi pelecut diri untuk berbuat yang terbaik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Jika di analogikan dalam implementasi kehidupan yang lebih luas. Tak sedikit dari kita yang memiliki karakter seperti Bu ida. Di mana masalah yang di hadapi, membuatnya semakin lemah. “ah, Allah tidak adil. Kenapa harus aku yang menderita. Kenapa tidak orang lain?”. Ada pula yang mengatakan ”ini mungkin bisa saya kerjakan, tapi sulit”. Banyak sekali di antara kita yang mati semangat sebelum mencoba, menyerah sebelum bertanding, mengaku kalah sebelum berperang. Mereka orang-orang yang tak ubahnya seperti penganut Jabariah yang mengatakan “Ini sudah takdir Allah”, menjadikan kata-kata “takdir” sebagai tameng dari kelemahan mereka. Padahal Allah telah menegaskan dalam Qur’an surah Ar-Ra’du ayat 11 “…… Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada disatu kaum sampai kaum tersebut mengubah apa-apa yang ada di jiwa mereka.. ……”
Artinya apa?
Tidak semua yang terjadi saat ini adalah harga mati dalam kehidupan kita. Seperti bu Susi yang sudah menyelaraskan DUITnya ( Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal) dengan ketetapan Allah. Bisa saja Allah memberikan kesembuhan meski manusia mengatakan tak ada harapan. Kun fa yakun.
Lalu bolehkah kita berputus asa?
Allah SWT berfirman (artinya), "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.' Ibrahim berkata, 'Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb-Nya, kecuali orang-orang yang sesat'." (Al-Hijr: 55-56).
Allah yang telah menjawab kegelisahan yang selama ini meruyak hati manusia yang ragu. Allah telah menegaskan bahwa orang – orang yang beriman adalah orang-orang yang terus maju, menerjang segala ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan.
Dan berdosakah orang yang berputus asa itu?
Jawabannya. YA.
Seperti yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Abbas r.a., bahwa ada seorang lelaki yang berkata: "Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?" Rasulullah saw. menjawab (artinya), 'Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah'." (Hasan, HR Al-Bazzar [106/lihat Kasyful Atsaar], Thabrani dalam Al-Kabiir [8783, 8784 dan 8785], dan 'Abdurrazaq [19701]). (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 148-150.
Manusia dan harapan
Manusia telah di anugrahi Allah sifat berputus asa dan memiliki harapan. Hanya tinggal manusia itu sendiri yang mengolah keduanya. manusia di tuntut untuk memanage hidupnya.
Harapan berasal dari kata “harap” yang artinya keinginan sesuatu. Ketika seseorang tidak memiliki harapan, secara ruhaniah ia di katakan telah mati. Karena kodratinya, manusia pasti memiliki harapan dalam hidupnya. Seperti yang di paparkan oleh Abraham maslow, mengkategorikan kebutuhan manusia dalam lima macam. Yaitu :
1. Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival)
2. Harapan untuk memperoleh keamanan (safety)
3. Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan di cintai (loving and love)
4. Harapan memperoleh status untuk di terima atau di akui (to be accepted or recognized)
5. Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita. (self actualization)
(IAD-ISD-IBD, Drs. Mawardi dan Ir. Nur Hidayat hal 181-182)

Kesimpulannya,,,,

Setiap keputus asaan, akan selalu di iringi oleh harapan. Manusia yang memiliki pandangan visioner akan menghadapi masalah dengan penuh kelapangan dan memacu optimismenya. Manusia yang melapangkan hatinya untuk menghadapi gejolak hidup akan menjalaninya dengan harapan yang baik (berhusnudzon kepada Allah), laksana seseorang yang meminum air sungai, tak akan merasakan asin dari segelas air garam yang di tuang di atasnya. Manusia yang menggantungkan harapan hanya kepada Allah, Tuhan pemelihara alam akan selalu mengiba untuk di berikan kekuatan dan kesabaran. Kelapangan hatinya akan terpancar dari kata-kata yang meluncur dari lisannya, tidak akan berkata “ini mungkin bisa saya hadapi, tapi sulit”, namun ia akan berkata “ini sulit, tapi harus saya hadapi”, bukan “Lelah”, tapi “Lillah”.
Semoga kita tergolong orang-orang yang menggatungkan harapan hanya kepada Allah. Yakinlah “ Setelah kesusahan, pasti ada kemudahan”.
*“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. Mengapa Kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri”. (QS Ibrahim ayat 11-12)*

Monday, January 17, 2011

HARUSKAH JILBAB INI KULEPAS?

mahadaya senja

Bismillah…
Perlahan tapi pasti. Ia tetap melangkah meski hatinya bak genderang perang. Semua berkumpul di ruang tamu. Ratna segera menghampiri dan duduk di dekat kedua orang tuanya. Walaupun ia tak yakin dengan hal ini, mundur atau terus maju, hatinya bergejolak. Lama ia diam, hinga ayah yang mulai angkat bicara.
“Rat, kamu kenapa diam, tidak seperti biasanya?” tanya ayah
Ratna terkejut, dengan takut-takut ia mencoba mengeluarkan isi hatinya.
“Yah, Ratna ingin pakai jilbab”
Tapi ayah tak begitu menanggapi, wajahnya biasa-biasa saja, seperti tak ada sesuatu yang terlontar dari mulut anaknya. “Apa alasan kamu mau pakai jilbab?” tanya ayah menyelidiki
Jantung Ratna semakin dag…dig..dug. Tapi ia terus berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan. “Teman Ratna rata-rata sudah pakai jilbab, hanya beberapa orang yang belum, termasuk Ratna. Ratnakan malu, yah.”
“Hanya mau ikut-ikutan? Sebaiknya tidak usah.” Ucap ayah tegas
“Bukan, bukan itu alasan pastinya. Memang sudah sejak lama Ratna ingin pakai jilbab. Tapi, ibu selalu melarang Ratna. Makanya baru sekarang Ratna berani meminta izin.”
“Bagaimana bu?” tanya ayah sambil melirik pada istrinya
“Terserah ayah saja. Ibu hanya sangsi, takut niatnya hanya setengah-setengah. Hari ini menggebu-gebu, besoknya sudah kemana-kemana.” Lugas ibu
“Tapi kali ini Ratna janji bu, Ratna akan pakai jilbab sampai seterusnya.” Ucap Ratna meyakinkan. “Ayolah yah, Ratna benar-benar ingin pakai jilbab.” Tambah Ratna merengek
Ayah berpikir sejenak, lalu menyerup secangkir kopi hangat di hadapannya. “Menurut ayah, sebaiknya kamu itu nikmati dulu masa mudamu. Pakai jilbab itu nanti-nanti saja, kalau sudah kuliah baru ayah izinkan.” Tukas ayah
***
Kata-kata itu menyurutkan semangat Ratna. Telah lelah ia berargumen ini dan itu, hasilnya tetap saja nihil. Namun bagi Ratna itu semua hal kecil yang tak perlu di cemaskan. Ia yakin, saat itu pasti akan datang, pasti.
Kemarin ia boleh kalah, tapi ia yakin tidak untuk kali ini. Setelah tamat SMP, ia meminta untuk di kirim masuk pesantren. Tentu saja permintaannya membuat seisi rumah geger, berkerut kening. Pasalnya sang ibu terlalu sayang padanya, hingga takut terjadi sesuatu pada gadis cantiknya jika tak di dekatnya. “Baiklah, Ratna tidak akan bersedih jika tidak masuk pesantren, tapi Ratna ingin bersekolah di Aliyah!” Ucapnya ngotot. Ya, apa mau di kata, kedua orang tuanyapun mengikuti kemauannya. Akhirnya, mimpi pakai jilbab, telah tercapai, sekarang tinggal menjaga keistiqomahan untuk terus memakainya.
“Nah gitu dong. Ayah dan ibu kan sayang pada Ratna. Apa ayah dan ibu mau kalau anaknya ini badung, tak karuan, kurang ajar, dan suka keluar malam, tidakkan? Bersyukurlah karena di karuniai anak yang sadar akan masa depannya. He…he…he…” tukas Ratna menggoda
Tak dapat terkiaskan betapa senangnya hati Ratna. Setiap hari auratnya selalu terjaga, jilbab menjuntai hingga ke dadanya. Subhanallah, menyejukkan mata yang memandang. Ratna tak segera puas dengan prestasinya ini, ia terus berusaha mengembangkan diri. Menimba ilmu dengan sungguh-sungguh, dan memperbaiki akhlak adalah hal yang selalu di upayakannya.
Suatu sore, teman-teman SMP Ratna; Mira, Sinta,Zia, Vira dan Sukma bertandang kerumahnya. Semua terperangah tak percaya melihat Ratna memakai jilbab, karena mereka tahu siapa dulunya Ratna.
“Ini Ratna Sintia kan? Apa aku mimpi, seorang Ratna yang dulunya putri solek kini memakai jilbab?” tanya Zia sambil mengucek-ngucek matanya.
“Ini Ratna. Memangnya ada yang salah ya?” tanya Ratna
Semua tertawa, tentu saja Ratna yang jadi bahan tawaannya.
“Hei..semua. Aku yakin, seminggu lagi Ratna pasti sudah gerah dengan jilbabnya ini. Kalian tahu kan, Ratna ini tipe orang yang mudah bosan” cela Sukma
Semua kembali tertawa.”Kalian datang kemari karena rindu padaku, atau hanya ingin mencela penampilanku sih?” tanya Ratna dalam hati. Ratna hanya menyunggingkan senyuman. Baginya tak ada yang salah, mungkin mereka yang belum mengerti. Alah, hanya gigitan semut. Lama-lama juga hilang sakitnya,seperti itulah ia menanggapi ejekan-ejekan itu.
“Guys, malam ini kita party, yuk” ajak Mira
“Iya, kita sudah lama tak bersenang-senang nih.” Timpal Sinta
“Setuju.....” jawab yang lain serempak
“Kamu, Rat? Tanya Vira
Ratna kembali mengembangkan senyum,”Maaf, Ratna tidak bisa ikut.”
“Alah, munafik. Dulu, kamu yang suka mengajak kita, sekarang malah kamu yang menolak, jangan sok sucilah, sampai kapan sih kamu tahan dengan jilbab jelekmu itu?” tukas Mira
Astaghfirullah. Ratna hanya dapat mengelus dadanya. Tak sepatahpun dapat keluar dari mulutnya sebagai bentuk pembelaan.
“Ok, kita tanya sekali lagi. Kamu mau ikut tidak?” tanya Vira kedua kalinya.
Lama Ratna menunduk, hatinya galau. Jika ia tetap kekeh pada jawaban tidaknya, teman-temannya pasti marah dan meninggalkannya, bahkan lebih parah, mereka tak mau kenal Ratna lagi. Semua merayu, mendesak, bahkan mengancam. Ratna makin Ragu.
“Rat, kita masih muda. Kalaupun sekarang kamu lepas jilbab dan ikut kita party, tidak akan ada yang marah. Jalan kita masih panjang buat insaf. Bukankah Allah itu maha pengampun, kalau sudah puas, sudah tua, barulah kita bertaubat, mudahkan? Jelas Sukma.
“Betul Rat, selagi masih muda, happy-happy saja dulu. Apa pakaianmu ini tidak membuat risih, ayolah jangan munafik. Yuk ikut kami?” bujuk Mira
Keadaan makin membuat Ratna tersudut,”Haruskah aku buktikan, aku tidak munafik. Tapi kenapa mereka mengatakan aku munafik, munafikkah jilbabku, munafikkah seseorang yang ingin berubah ke arah yang lebih baik, di mana, apanya yang munafik?”. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Sungguh, ini sudah kelewatan, tapi Ratna mencoba untuk sabar. Jika ia turut dalam situasi panas ini, apa bedanya ia dengan ke lima temannya.
Saat situasi tenang, Ratna mencoba memberi penjelasan.”Teman-teman, Ratna punya sebuah gambaran.” Ia menghela napas, lalu bicara lagi. “Ada kue yang di jual di pinggir jalan. Tidak di tutup, semua orang boleh memegangnya, meraba, bahkan menjamah. Dan ada juga kue yang di simpan di etalase, tak sembarang orang boleh menyentuhnnya. Meski sederhana, namun ia terlihat cantik,bernilai dan terjaga dari tangan-tangan kotor.” Jelas Ratna.”Mana yang lebih mahal?” tanya Ratna sambil terseyum penuh arti. “Kalian menilai Ratna munafik, silahkan. Tapi Ratna yakin, apa yang Ratna perjuangkan sekarang adalah sesuatu yang benar.”
Semua masih tetap diam, jauh dari keadaan sebelumnya, Ratna di bombardir hingga tak sanggup melawan. Sekarang, mereka seperti terkena sihir, semua mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut Ratna. “Oya, satu lagi yang perlu kalian ketahui. Allah memang maha pengampun dan penerima taubat, tapi itu bukan jadi alasan kita mudah berbuat maksiat dan dosa. Jangan bangga dengan umur kita sekarang, tidak ada jaminan kita dapat hidup sampai tua.” Ratna berkoar-koar setelah lama menahan gejolak.
“Sudah bu ceramahnya? akhirnya selesai juga siraman rohani ustadzah Ratna kita. Yuk kita cabut, Percuma saja lama-lama di sini” Ajak Zia ketus
Semuanya beranjak pergi dengan raut wajah yang tak mengenakkan. “Maafkan aku. Bagi Ratna ini yang terbaik.”ucap Ratna
***
Malam harinya, ibu mengadukan kecemasannya pada ayah. “Yah, ibu takut pada keadaan Ratna sekarang?”
“Memangnya kenapa bu?”
“Ituloh pak, semenjak beberapa minggu ini, sikapnya berubah. Dia lebih banyak di luar, katanya ikut kegiatan mentoring, dan kalau di rumahpun ia tak banyak bicara, setelah membantu ibu kerjaannya hanya di kamar,mulutnya sering komat-kamit, saat di tanya,”Sedang Dzikir bu”. Ibu takut yah, Ratna ikut aliran sesat. Sebaiknya ayah larang dia ikut mentoring lagi.” Pinta ibu
Setelah mendengar penjelasan itu, ayah segera memanggil Ratna.
“Ada apa yah?” tanya Ratna
“Kata ibu kamu ikut mentoring di sekolah. Ayah mau tahu, apa saja yang kamu lakukan selama mengikuti kegiatan tersebut?” tanya ayah
“Iya, Ratna ikut kegiatan mentoring agar hidup Ratna lebih berwarna. Pertemuan di isi dengan mengkaji Al qur’an, diskusi, dan bakti sosial. Memang ada apa yah, tumben-tumbenan ayah bertanya hal ini pada Ratna?”
“Ratna, mulai saat ini kamu ayah minta untuk tidak mengikuti kegiatan mentoring lagi!” Lugas ayah
Mendengar itu, tentulah Ratna terkejut.”Kenapa yah? Apa yang salah dari kegiatan itu?”
“Banyak alasannya. Pertama, semenjak kamu ikut kegiatan itu kamu jarang di rumah, sering pulang sore, dan hari minggu saja kamu tak ada di rumah. Kedua, Ayah takut kamu ikut aliran sesat. Ibumu bilang kamu sering mengurung diri di kamar, komat-kamit sendiri, dan ketika di tanya, jawabannya selalu bilang sedang dzikir. Ketiga, kamu itukan di sekolahkan untuk belajar. Bukan untuk ikut kegiatan seperti itu.” Jelas ayah
Ratna tahu, orang tuanya pasti belum terbiasa dengan sikap barunya. Dengan hati-hati ia mencoba membela diri. “Ayah, Ratna tahu yang terbaik buat Ratna. Ayah harus percaya sama Ratna. Kegiatan itu positif, bukan aliran sesat, dan juga tidak mengganggu belajar Ratna di sekolah. Malah itu membuat Ratna semakin semangat menuntut ilmu.”
Tak dinyana, ayah menggebrak meja. “Ratna, teriak ayah. “Kamu sudah berani melawan ayah yah. Ayah tidak mau tahu apapun alasannya, kamu tidak boleh ikut mentoring lagi, paham!” Bentak ayah
“Tapi, yah” bela Ratna
“Sudah. ayah lelah. Awas kalau kamu ketahuan masih mengikuti mentoring itu lagi. Jangan sesali kalau ayah memindahkanmu ke SMA lain, atau memberhentikanmu sekolah!” bentak ayah kedua kalinya sambil pergi meninggalkan Ratna yang tak mampu menahan kesedihan, melelehkan air mata, terisak, dan lari ke kamarnya.
***
Tumpahan tangis itu kini membuncah lagi. Namun Ratna menangis di pelukan orang yang mengerti keadaannya. Mbak Nabila, salah satu mentor yang dekat dengannya.
“Lantas, karena semua halangan ini, membuat kamu jadi lemah dan putus asa?” Tanya mbak Nabila
Ratna melepaskan diri pelukan mentornya, dan mengusap air matanya.
“Ratna tidak tahu lagi mbak harus bagaimana. Ratna pikir ini adalah jalan terbaik dan semua orang terdekat akan mendukung. Nyatanya, tidak. Mereka malah memojokkan.” Jelas Ratna kembali sesegukan
Mbak Nabila terseyum, mendekat pada Ratna, dan membisikkan sesuatu ke telinganya. “Minta pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. Jalan dakwah yang menghantarkan kita pada syurga tidak landai dan berbunga. Tapi menanjak, berkerikil, panas, dan penuh rintangan. Ratna, Sesuatu yang benar harus di iringi pula cara yang baik. Saran Mbak, kamu harus banyak intropeksi diri. Mungkin cara kamu, atau sikap kamu yang membuat mereka seperti itu. La tahzan, innallaha ma’ana”
Pelukan mereka semakin erat. Ratna semakin kuat menangis. Tangisan bahagia, kata-kata itu mengalir seperti mata air yang menentramkan. “Aku harus samangat. Kebahagian abadi itu tidak mudah di dapatkan. Tawa itu bukan nilai pasti dari kebahagian, ketika kita dapat menjalankan syariat Allah, meski penuh cacian, deraan, tangis juga dapat berarti bahagia.” Ucap hati Ratna.

SELESAI
Pontianak,mei 09.