Java Script

Friday, March 15, 2019

KEMBARA

Pekat, dalam, dan membuncah
Menimang-nimang aksara 
Namun beku tak terwakilkan

Hendak kututup lagi mesin yang berdengung pelan ini
Tapi tak sudi bila padam memenangkan keadaan
Merayu gelora agar tetap syahdu merangkai kata
Namun sekali lagi kudapati kata-kata terkapar dihantam ambisi
Dengan neuron-neuron dikepalanya yang sebagian putus
Hingga membabi buta berpesta pora atas syahidnya tamu Allah

Hari ini adalah sejarah 
Hari raya kita yang disirami dengan wanginya darah para mujahid
Atas kebencian yang mengakar hingga ke tulang-tulang mereka
Lantas penjilat-penjilat tahta dari  kaum kita datang kepada mereka
Seraya meminta tulang santapan
Lalu ikut pula menembaki saudaranya di sini
Dan menjuluki yang tak bersalah dengan kata "Teroris."
Memberikan keluarga yang bersedih atas matinya keadilan dengan kebahagian semu
Menyuapi kertas-kertas neraka yang tak dapat mengembalikan nyawa yang meregang sia-sia.

Apakah nanti masamu nanti kau akan lihat yang lebih biadab dari ini, sayang?
Kuharap tidak.


Penembakan Muslim di Selandia Baru
Hari Jumat




Monday, October 8, 2018

Sebait Puisi Kepada MJ

Masih setia bersama detik arloji di tangan
Menyusuri aksara demi aksara untuk mencari
Dimana pujangga nan menggelitik hati itu kini rimbanya
Yang menertawakan sepatu-sepatu berbaris
"Kau pikir sepatu itu anak pramuka? Harus berbaris rapi?"
Sekelebat pergi
Bayangmu hilang dibalik tirai
Sumber gambar: google.com
Tapi tawamu masih menyelimuti aku dengan kebingungan
Lalu kau ceritakan kelakuanku pada mereka yang sibuk bermesra dengan kata
Di sudut tempat kita menyulam aksara jadi karya

Masih setia bersama detik arloji di tangan
Menyusuri karya demi karya untuk mencari
Dimana si hitam manis yang selalu mengikuti gaya bicaraku
"Shay... Shay... Icim.... Icim...."
Seringkali menggoda tapi murkanya jauh berbisa
Sesekali menghibur diri sendiri serupa dengan kekasih spiderman
Kala aku memanggilnya dengan nama yang tak biasa

Masih setia bersama detik arloji di tangan
Bertengadah suatu hari kita bisa bercengkrama
Dalam damainya senja yang hendak temaram
Di sebuh kedai kopi Gajah Mada
Atau setidaknya di sepanjang gertak-gertak Sungai Kapuas
Dimana kita pernah menggali
Banyaknya kenangan dan cerita yang mengalir indah menuju muara kehidupan

PVJ
8 Oktober 2018

Wednesday, September 12, 2018

Selamat Malam

Selamat melepas mimpi
Rindu kentut yang membutakan mengusik hawa malam ini
Memutar kenangan saat payung yang di sambangi hujan
Menjadi saksi bahwa kegilaan masa muda
Dua anak adam ini telah berlalu

PVJ
Mei 2018

HANYA

Ssttt...
Tak banyak hasrat hari ini
Hanya mendekapmu dalam gumam
Suara bising telah mengusik gendang telingaku 
Sepanjang menit merayapi hari
Sangat bising.

PVJ
Mei 2018

Monday, September 10, 2018

KALAU SEKOLAH UNTUK .........

Awesome.
Manusia ini ajaib. Ketika orang bertanya kepadanya saat umurnya 8 tahun, "Kok jam segini main sih. Kamu tidak sekolah?"
Ia menatap dalam dan mengerutkan dahi tanda tak mengerti.
Entah berapa banyak yang bertanya  serupa sehingga ia pun sudah tak bisa mengingat hitungannya.
"Kenapa harus sekolah, kalau saya sudah bisa membaca dan berhitung?" 
Ia mengulangi jawabannya kepada orang-orang sambil menyeruput kopi hangatnya.

KALAU SEKOLAH UNTUK PINTAR MEMBACA DAN TAK DIBODOHI ORANG

Aku pun tersenyum kecil. Segengam kekaguman tumbuh melihat kegigihan dan prinsip hidupnya.
Awal perkenalan yang tidak terduga, keakraban kami mulai lekat. Dari matanya yang penuh harapan walau terkungkung dengan fisik yang terbatas, aku melihat sisi unik dunia. Manusia yang makan bangku sekolahan belasan tahun ini, hanya bisa duduk dan manggut-manggut mendengar ia menceritakan banyak hal. Materi pelajaran yang pernah aku baca disekolahpun bisa ia jelaskan dengan baik. Makin membuat otak sekolahku tak ada apa-apanya.

KALAU SEKOLAH UNTUK PEKERJAAN

"Kalian kuliah ini untuk apa?" Tanya bapak dengan kepala setengah putih itu di depan kelas
" Menjadi lebih baik pak." Tukas satu anak di barisan depan
"Agar dapat pekerjaan yang lebih baik? Tidak ada yang mau jawab seperti itu?" Goda bapak tadi kepada mahasiswanya
Semua terdiam dan menyimpul senyum tanda tak menyangkal. Ya, dosen itu mungkin benar. Karena sejatinya mungkin dorongan banyak orang untuk mengenyam lebih tinggi adalah karena orientasi pekerjaan. 
Namun sekali lagi manusia ajaib ini mengajarkanku hal yang berbeda.
Tangannya mahir memainkan gunting, mesin jahit, mesin obras, dan semua yang berbau jahit menjahit. 
"Ikut kursus ya?" tanyaku penasaran
Lalu gelak tawanya pecah. Aku pun tertawa menyeringai. Tanda tanya besar tampak di wajah ini.
"Sekolah saja aku tak mau. Apalagi ikut kursus, Eceu." Tukasnya.
" Ini hasil dari didikan Almarhum Aa'. Ia sama denganku. Bahkan aku bersyukur lebih baik darinya. Tapi ia tak penah mengeluh. Semenjak Abah tiada, Aa' harus jadi tulang punggung keluarga. Akupun iba dan mencoba membantunya. Namun ternyata, lebih banyak bantuan yang ia berikan padaku. Dia pergi begitu cepat, sehingga tak sempat menitipkan apa-apa padaku. Hanya ini, mesin-mesin ini yang membuat kenangan bersamanya tetap semerbak. Hingga aku tetap bersemangat meneruskan hidup." Ia terdiam sejenak bak menahan sesuatu yang hendak jatuh
"Lihatlah sendiri, setiap hari orang-orang mencariku. Bahkan tak jarang, banyak pesanan yang aku tolak, takut tidak tepat waktu" Lanjutnya menyeruput lagi kopi dalam gelas kaca itu.

JADI HAKIKAT SEKOLAH UNTUK APA?

Untuk apa? Jika saat ini aku melihat banyak hal yang tak terpikirkan bahkan aku yakin akupun tak mampu melakukannya, tapi ia bisa. Untuk apa?  Jika saraf-saraf dikepalanya terus bekerja dan tanganya terus berkarya, lalu apa lagi yang dicemaskan. Jika pundi-pundi uang terus mengalir, apalagi yang membuatnya harus sibuk memikirkan cemoohan orang. Untuk apa? Jika hatinya lebih terbuka dan jiwa sosialnya mengalir dalam tutur dan prilakunya. Untuk apa? 

Manusia ajaib ini masih menyisakan tanya besar yang tampak di wajahku.Terus menggunung setiap kali mengunjunginya dan menyeruput kopi bersama. 


Malangbong, 9 September 2018



SALAH


Dalam gumam hati teramat riuh
Bertanya, mengeluh, menyesal, berjanji
Lalu mengulang lagi silaf yang serupa
Mencoba terus berbincang
Walau sesekali resah bergema
 Mempertanyakan apakah Kau menatapku atau bahkan mendelikpun tak ingin
 Kala aku berpikir dalam kelapangan dan mencintai dengan menggebu-gebu
Tepat itu pula Kau lebih tertarik pada ketulusan yang lain
 Namun dimasa mendekap pilu di sudut diri
Tersimpul jawaban bahwa Kau tak ingin lagi perduli
 Nyatanya aku salah
Malah Kau menatap dengan pancaran hangat dan penuh harapan.

 1 untuk 50 With FA SVJ, 9 Agustus 2018

Thursday, February 15, 2018

Cukup


Ketika aku mencari wajah kalian disaat gemuruh masih lekat di telinga, berita sekejap bak uap pemandian. Telah ku ajak hati untuk menyimpul prahara yang membasahkan luka. Pergilah! Biar aku sendiri yang merayu amarahku. SVJ 2018 #mahadayasenjapuisi

Tuesday, February 7, 2017

AKU BUTUH SENDIRI, MUNGKIN


Ini bukan aksi untuk mendapat perhatian.Entah sejak kapan kehilangan rasa percaya diri itu. Aku pun tak menyalahkan bila banyak yang berkomentar jelek bahkan ada yang mengutuk hal yang telah aku lakukan. Mereka punya hak untuk bicara apapun yang mereka mau, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi. Seperti yang dikata aming kepada awak media ketika diterpa gosip tidak mengenakkan setelah ia melangsung pernikahan, "Kami hanya punya dua tangan dan itu tak mampu menutupi mulut orang-orang yang bicara di luaran sana. Dengan dua tangan itu kami hanya bisa menutup kedua ketelinga kami agar kami dapat menjalani hidup selanjutnya." Soo, mungkin itu pula yang dapat aku lakukan. Spekulasi bermunculan di langit-langit Borneo. Semua berita yang sampai membuatku seperti di lempar tinggi ke angkasa dan sesak saat menghantam bumi. Ya... hidup ini bukan kertas yang bisa di tulis cerita2 bak sinetron, karena sekali lagi aku tidak mengada-ada. Mata dan mulut ini lelah untuk tegak berdiri, melempar senyum2 palsu, di kelilingi dengan mimpi2 manis yang membuatku perlahan terkapar di sudut kehidupan. Terima kasih untuk orang2 yang selalu ada hingga saat ini, meski pun orang yang mereka kenal tetiba berubah menjadi manusia asing. Percayalah, aku baik2 saja. Mungkin aku butuh sendiri. Setidaknya untuk masalah hati aku melepaskannya agar mereka yang berprahara tak bertanya2 atas kepergian ini. Maaf bila aku tak pamit, hayati lelah, mungkin butuh istirohat. Semoga saat aku kembali, entah kapan saatnya, aku tak berubah, aku tak berbalik mengutuk keadaan, karena semua yang aku pilih bukan atas kebencian pada seseorang. Semoga. Salam rindu

Tuesday, December 29, 2015

Rea

Ini mungkin terlihat lebay. Tapi, kalian tak tau betapa si kuda besi tersebuy begitu berjasa dalam hidupku. Saat itu, kelas IX Aliyah, sebuah motor dengan KB 2798 AZ diberikan kepadaku untuk dipakai sekolah. Motor ini luar biasa, ia mampu bertahan dalam keadaan tersulit, apalagi saat melewati jalan Siak saat perkemahan yang sangat hancur, berlumpur dan licin. Dipakai untuk mengangkut puluhan siswa di bawah guyuran hujan dan petir. Motor yang berjasa untuk transportasi turun naik jalanan Mandor saat KKL, motor yang tahan banting, meski yg memakai mengggunakannya untuk racing dijalanan atau melewati jalan yang parah/rusak. Terima Kasih.

RIP Berby

Setelah Omen pergi beserta anak2nya. Sekarang saatnya Berby. Hari itu tiga hari aku begitu sibuk dengan kegiatan kampus. Sesekali terbesit hasrat ingin duduk sekedar melihat keadaan hamster mungil ini. Tapi apa daya, saat aku hendak memberi makan, berby tidak berada dikandangnya lagi. Saat bertanya pada Nyai, panggilan khusus buat emak  tercinta ternyata, Berby sudah dikubur, dan saat ditemukan sudah membusuk.
Selamat istirahat Berby.

Thursday, December 24, 2015

Lapar

Udah lama sekali tidak ngisi ini blog. Syukur belum belumut atau di sarangi laba2. Hahha. Apa kabar "tulisan"? Takkah kau lihat banyak orang yang kau kenal kini telah menjajaki dunia menulis? Tidakkah kau lapar untuk ikut melahap kata2 alias berkarya? Sudah lama kau tidak makan sayang. Tidakkah semua karya mereka membuatmu kembali berselera? Ayolah. Jangan terlalu lama bersembunyi. Action action action. Nikmati dunia kata2mu. Beri manfaat lagi dan lagi. Good Luck Honey. Mwaaaaa :-)

Monday, April 6, 2015

Perbincangan Cangkir Kopi

Hari ini di hari kedua pemantapan lomba adk2. Mr marcell datang. Hr ini ia memberikan sesuatu yg lama aku rindukan. Pencerahan.
Dialah yg dulu mengjrkn byk hal. Meski hy sesaat tpi mr marcell dtg dn mmbgi byk pglmn.
"Semua yg kalian dpt di tmpt ini sdkt byk mngjrkn pglmn hidup, berorganisasi,mendidik, dsb."
"Teruslah bgun komunikasi"

Tuesday, March 31, 2015

Skripsi oh Skripsi

Skripsi oh skripsi kenape engkau belom jadi2?
Karena eh karena engkau tak buat aku.
Hadeh...

Monday, March 30, 2015

Ngentak My Heart

Ini istilah yg di cetuskan berby, teman seperjuanganku. Yah, ngeliat kelakuan ibunya Jaka buat aku kesal sampai ke ubun2. Di kasi solusi mlh pake solusi sendiri, nanti kalau bermasalah lah aku juga kan yg akan repot. Hadehhh.

#RIP

Mgkn inilah untk prtm kalinya sedih ditinggal mati Omen, si hamster peliharaan. Padahal tadi mlm Omen msh sempat bermanja ria di pangkuan. Selamat jln Omen. Muachhh...

Thursday, April 24, 2014

Surat yang Tak Akan Sampai


Apa kabar, wanita yang pernah berjanji untuk mengenal Islam? Sudahkah kau dalam mengenalnya atau kau masih terhalang dengan keyakinan keluargamu? Seringkali aku terbayang wajahmu.Sama saat tulisan ini dibuat. Pikiran yang terbayang pada penampilan cantik nan menawan, tertutup rapi dengan Jilbab dan kerudung yang perintahkan kepada para muslimah. Pasti banyak hati akan berdecak kagum. Aku sadar, aku bukanlah manusia yang sempurna, masih banyak kecacatan diri untuk mengajakmu mengenal agama yang suci ini. Tapi, semoga Allah selalu memberimu perlindungan. Sampai saat ini, aku masih terus belajar bersangka baik kepadamu, kepadanya, juga pada hal yang terjadi padaku. Sesuatu yang hilang dari diri ini, adalah pelajaran yang sederhana. Tapi dibalik itu, ada banyak pelajaran besar yang kudapatkan. Satu lagi yang ingin kusampaikan,tapi aku yakin kau tak akan mengetahuinya. Meski kita tidak akan pernah bertemu, tapi diselipan doaku, yang entah di dengar Allah atau tidak, karena dosa-dosa yang melumuti hati, aku akan berdoa pula untuk keselamatanmu.Vera.

Monday, April 21, 2014

Pengharapan di Sudut Khatulistiwa


“EH, Cu Maryam. Masoklah, Cu.” “Tak usa, di sinik jak. Na ade tambol1 untok buke, bawak la masok. Sekalian panggelkan Mak kau ye Din, Cu Maryam nak ngomong same Mak.” “Iye Cu, bentar log ye. Udin panggelkan. Makaseh ni Cu buat tambolnye,” Anak kecil itu membawa masuk sebuah engkat-engkat yang berisi ubi guyuk pemberian tetangganya. Ubi guyuk adalah kue yang acapkali dijadikan menu berbuka puasa bagi orang-orang di kampung Sungai Parang, Desa Punggur Kecil. Sama halnya dengan saling berbagi ta’jil, sudah menjadi tradisi di sana saat bulan Ramadhan. Udin memindahkan kue ke dalam piring dan menyiapkan sajian untuk berbuka puasa. Sungguh, anak laki-laki yang baik. Ya, semenjak tiga tahun lalu, Udin dan ibunya yang hamil ditinggal sang ayah pergi bersama perempuan kaya anak bos Aloe Vera tempatnya bekerja. Kini, Udin menjadi satu-satunya penjaga sang ibu dan adik kecilnya, Jenab. Meski mudah, tapi bagi anak berumur sepuluh tahun ini, memindahkan kue dengan tangan sebelah kiri yang kurang sempurna, merupakan perkara yang perlu kesabaran. Walau begitu, Udin tak pernah gentar pada kekurangan diri. Tangan kecilnya menjadi bukti bahwa ia adalah seorang pekerja keras. Bila ada panggilan untuk nyuwik2 kelapa, Udin akan pergi ke langkau3 bersama laki-laki dewasa untuk mengambil upahan. Udin sudah terbiasa dengan baji tajam yang setiap detik mengintai kehidupan. Salah sedikit saja ia meletakkan posisi kelapa di ujung baji, atau kehilangan keseimbangan saat menekan kelapa agar kulitnya terkelupas, nyawa Udin jadi taruhannya. Sungguh tak sebanding dengan bayaran yang diterima bila itu benar-benar terjadi. Seribu kelapa yang dikupas akan dihargai Rp.80.000. Sama saja artinya Rp. 80 untuk satu buah kelapa. Sepagian kerja Udin hanya mampu mengupas paling banyak seratus buah kelapa. Tak sampai sepuluh ribu, uang yang bisa Udin berikan pada ibunya. Sebenarnya Ibu Udin tak tega melihat anaknya yang semestinya menikmati masa-masa bermain dan belajar, malah harus bekerja layaknya orang dewasa. Ibu Udin juga menerima semua upahan yang ditawarkan. Memetik kopi, ngetam4, nyungkel5 kelapa, bahkan upahan manjat pun mungkin juga akan ia terima jika diperbolehkan untuk kaum hawa. Menurutnya, meski uang bukan segalanya, tapi di zaman sekarang ini segala-segalanya butuh uang. Itulah yang ada dalam benak Ibu Udin. Ia ingin mengumpulkan uang yang banyak, semata-mata untuk memberikan kebahagian kepada kedua buah hatinya. Niat itu pun semakin menggebu, apalagi setelah melihat beberapa orang kampung yang pulang membawa banyak uang hasil bekerja di luar negeri. Tiba-tiba ucapan Maryam tempo hari kembali mengusik pikirannya. “Kau piker lah dolok masak-masak. Tige hari lepas lebar aku tunggu jawabannye.” Ah, sungguh memusingkan kepala. Sama pusingnya dengan memutar otak cari uang jika beras dalam pedaring kosong. Gula, garam, micin dan tabung gas pun hampir habis. Perkara ini tak bisa dipecahkan seorang diri. Segera Ibu Udin meminta masukan pada bibinya, Wak Saripah. “Mak Su sih teserah ape kate kau. Udah kau pikerkan macam mane naseb Udin dan Jenab?” “Udah Mak Su. Tapi, Mak Su dukung kan niat Mila ni?” “Pasti. Pasti Mak Su dukung ape yang tebaek buat kau dan anak-anak kau. Mak Su pesan, kalok emang niat kau udah bulat, ngomong baek-baek same Udin. Kau kan tau sorang, macam mane sifat budak itu.” Ibu Udin hanya menjawab dengan helaan panjang. Pikirannya sudah mengawan-awan membayangkan reaksi Udin saat mendengar rencananya. “Hmmmh.. ini untuk kebaekan anak aku gag.” batinnya menguatkan. *** Sudah kadung mengusik pikiran, Ibu Udin mulai membuka omongan pada anaknya selepas pulang shalat tarawih. “Din, Mak buat Ubi guyuk na. Sinik la. Kite makan same-same. Tengok adek ni, lahap die makannye.” Udin bersila di depan Ibunya. Ubi yang ditumis ini adalah makanan yang paling Udin sukai. Maka tak heran jika mulutnya laju mengunyah potongan-potongan ubi guyuk. “Din, seminggu lepas lebaran, Mak akan ikot Cu Maryam ke Sarawak, kerje jadi tukang masak.” “Berape lama, Mak?” tanya Udin dengan mulut masih penuh Ubi. “Paling lamak setaon. Nantik, kalok duetnye dah tekumpol, Mak akan balek. Teros Mak akan buat rumah makan di Kote Baru” Mulut Udin berhenti mengunyah. Serta merta gairah makannya hilang. “Udin tak setuju.” “Ape alasannye tak setuju, Din?” “Mak, Dek Jenab ni maseh kecik. Kalau Mak pegi, siape yang rawat die? Lagi pon, jadi TKW tu tadak enak, Mak. Udin tengok di tipi ade TKW yang mukenye rosak kena siram aek keras. Bahkan ade yang mati di sikse majikannye.” “Jadi Udin maok Mak mati di sanak?” suara Ibu Udin agak meninggi. “Bukan gitu Mak maksod Udin.” “Din, Mak pengen benar nengok Udin dan Jenab ni jadi orang begune. Cobe tengok anak-anak Wak Tijot, ade yang jadi guru, bidan, yang jadi polisi pon ade. Anak Pak Long Wahab jadi tentara. Anak Maknga Lema jadi penggawe5. Mak maok gag anak Mak macam gituk. Anak Mak bise sekola tinggi-tinggi. Tadak la macam Mak ni, bodo, tak tau ape-ape. Kalau Mak beduet, Mak maok masokkan Udin jadi polisi. Dan Jenab jadi perawat, supaye die yang ngerawat Mak kalok Mak udah tue. Kalok pon Mak mati, Mak dah tenang, Din. Ninggalkan kitak beduak yang udah berhasel jadi orang” Ibu Udin lalu membisu. Kini air matanya saja yang bicara tanpa henti. Udin pun tertunduk dalam. Lama-lama bahunya turun naik seiring terdengar suara sesegukan. Semakin kuat, sehingga pecah tangisan tak mampu Udin tahan. “Kalau seandainye Mak…” Tangis Jenab juga ikut meramaikan suasana yang mengharu biru itu. Bukan karena ia turut sedih, tapi anak kecil berumur tiga tahun tersebut bingung melihat ibu dan abangnya menangis. Ia pun ikut menangis supaya kompakan. “Udah Udin, Mak nak tidok kan Jenab log. Abeskan ubi tu.” Udin tak pernah bisa menahan tangis setiap kali teringat kalimat terakhir yang keluar dari mulut ibunya. Kematian. Perkara yang selalu membuat Udin takut akan perpisahan dengan ibu yang sangat ia cintai. Begitu juga dengan perpisahan yang sebentar ini. Kata “Ya” telah meluncur dari mulut Ibu Udin kepada Cu Maryam di malam yang telah disepakati. Udin yang mendengar dari balik triplek kamarnya, hanya bisa menutupi wajahnya yang basah karena air mata dengan bantal. Masa bodoh dengan julukan anak cengeng. Beban berat untuk menjaga Jenab akan bertumpu dipundak kecilnya. Meski ada Nek Su Saripah yang akan menjaga Jenab jika Udin bekerja, tapi pasti tak akan sama rasanya jika sang ibu tetap bersama mereka. Memberi makan dan merawat tidaklah seberapa. Tapi memberikan jawaban saat adiknya bertanya tentang keberadaan sang ibu, itulah yang sangat mengganggu pikiran. Harinya tiba. Hari yang memberikan senyuman lebar kepada mereka yang punya mimpi besar untuk diwujudkan. Tapi tidak dengan Ibu Udin. Tak ada lambaian anak-anak tersayang mengiringi kepergiannya. Udin memutuskan untuk tetap di rumah, agar Jenab tak menangis saat melihat ibunya pergi. Tak lama kemudian, mobil avanza putih sudah datang untuk menjemput Ibu Udin dan lima perempuan kampung lainnya. Mereka akan pergi berkilo-kilo meter jauhnya. Meninggalkan khatulistiwa. Mendekati gerbang pengharapan yang masih belum tentu sama dengan janji manis agen penyalur. *** “Tolong sampaikan rindu aku dengan Jenab same Mak ye! Bilangkan, bentar agik dah nak masok lebaran ke tige, cepat balek! Sebelom puase abes, aku pengen benar makan ubi guyuk buatan Mak yang enak tu. Lamak dah aku tak makannye. Dah, pegila cepat.” tukas Udin pada yang mendesau. Udin tertawa geli mendengar pesan yang baru saja diucapkannya. Tak lama kemudian ia malah sesegukan dengan lutut kaki dan tangan yang menopang kepalanya yang tertunduk. Dengan suara yang parau ia berbicara sendiri. Meneruskan pertanyaan yang terputus tiga tahun lalu. “Kalau seandainye Mak tak ade balek, ape yang harus Udin dan Jenab buat, Mak?” Entahlah. Pontianak, 19 Februari 2014 Catatan 1. Tambol (melayu) : Kue atau makanan 2. Nyuwik (bugis) : mengupas 3. Langkau (melayu) : tempat mengelola kelapa 4. Ngetam (melayu) : memanen padi 5. Nyungkel kelapa (melayu) : mengeluarkan isi kelapa dari batoknya 6. Penggawe (melayu) : lurah

Thursday, April 3, 2014

Kontemplasi


1. SEMUA ORANG DALAM HITUNGAN DETIK TELAH BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK. KOK KAMU MALAH SEBALIKNYA??? 2. ALLAH TELAH TUNJUKKAN JALAN YANG BENAR, KOK KAMU MALAH MELENCENG BAHKAN MEMUTAR BALIKKAN KEMUDI KE JALAN YANG DIMURKAI? 3. DALAM SHALAT KAMU NANGIS BEGITU HEBAT MENGGUNCANG PERASAAN. TAPI BESOK MAKSIAT LAGI, MAKSIAT LAGI. CAPEK DEH. "AIR MATA BUAYA" 4. NGAKUNYA PENGEMBAN DAKWAH, TAPI KELAKUANNYA MASIH BEJAT. IDIH.. 5. ADANYA KAMU DALAM JAMAAH BUKAN BUAT JALANNYA SEMAKIN LAJU, MALAH JADI BEBAN BAHKAN MEMBUAT PERTOLONGAN ALLAH JADI JAUH! 6. DI YAUMUL HISAB NANTI KALAU DITUJUKIN SEMUA KEDUSATAAN, MAU JAWAB APA? APA GAK MALU SAMA KONTAKAN,SAMA TEMAN2 DIJAMAAH,SAMA YANG DISERU, DAN PASTINYA SAMA ALLAH? "MUNAFIK" 7. PERLU DI JEDOTIN KE BATU NISAN KALI TU KEPALA BIAR MIKIR. 8. JILBABAN TAPI..YA GITU DEH KELAKUANNYA. 9."INNA SHALATI WA NUSUKI WA MAHYAYA WA MAMATI LILLAHI RABBIL 'ALAMIN." CUMA JADI TEMPELAN DI DINDING KAMAR, BIAR ORANG LAIN NGIRA WAH NI ORANG SHALEH BANGET YA NEMPEL GINIAN DIKAMARNYA. 10. NGAKUNYA RINDU SYURGA, TAPI KELAKUAN AHLI NERAKA.